KETIKA AKU....

KETIKA AKU....



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana bisa aku kenyang

Jika yang kupimpin kelaparan



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana bisa aku bersenang-senang

Sedang yang kupimpin penuh kedukaan



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana aku bisa nyenyak

Bila yang kupimpin tak jenak



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana bisa aku ke surga duluan

Padahal yang kupimpin didera siksaan



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana bisa aku punya kepentingan

Yang sebenarnya adalah tanggungan



Ketiak aku jadi pemimpin

Bagaiman bisa aku tenang

Sebab banyak urusan yang harus dipertanggungjawabkan



Ketika aku jadi pemimpin

Bagaimana bisa aku memimpin

Sebab semuanya adalah pemimpin



Sumber : Kitab Teles, Bab Pemimpin, Pasal “Ketika Aku”

Sholat Tasbih : Hikmah yang kupahami

SHALAT TASBIH : Hikmah yang kupahami



Shalat tasbih adalah salah satu sholat yang disunnahkan, dianjurkan untuk dilakukan paling tidak dalam seumur hidup ya sekali. Namun demikian, rasanya itu tidaklah cukup jika kita bisa mendapatkan kenikmatan darinya. Dan itu pula berlaku pada semua amal ibadah, dimana ketika kita sudah merasakan nikmatnya, mengulang dan mengulang adalah sebuah dorongan yang kuat bagi diri kita.

Seperti sholat sunnah lainnya, bentuk gerak dan bacaan standar yang dilakukan. Namun ada tambahan dalam bacaan yang menjadi pembeda antara sholat tasbih dengan sholat sunnah lainnya, tentu termasuk niatnya. Bacaan tersebut adalah “subhanallah, walkhamdulillah, walaailaaha illallah, allahu akbar”. Demikian bacaan yang dibaca dalam perubahan gerak rukun sholat dari berdiri menuju ruku’, dar ruku’ menuju sujud dan seterusnya sebelum salam. Jumlahnya ada 300 yang terbagi ke dalam masing-masing rukun / gerak.



Pengalamanku mengamalkan sholat tasbih adalah ketika sebentar mondok di pesantren di Surabaya. Tiap hari harus melakukan itu, mulai dari jam 01.00 malam sampai menjelang subuh. Memang berat melakukan itu. Rasa itu masih membekas, dan saya berupaya untuk berusaha meraih bekas-bekas itu kembali, namun aku sadar untuk melakukan yang selama itu tidak mampu, maka kulakukan semampuku. Sekian lama mulai kusadari dan kemengerti apa hikmah dibalik sholat tersebut, dengan memfokuskan pada bacaan yang beriring dengan gerak-gerak di dalamnya.

Satu hikmah yang paling berarti saat ini adalah : kita diajarkan untuk selalu berhati-hati dalam setiap gerak langkah kehidupan. Dalam langkah tidak boleh melupakan spirit tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.

Spirit tasbih kupahami sebagai fondasi dasar dimana kesadaran akan kekotoran diri, dengan Penyucian diri dan Mensucikan Yang Mahasuci.

Spirit tahmid kupahami sebagai bentuk lanjut memujiNYA, karena kesadaran akan kotor dan lemah diri, sehingga yang layak mendapat pujian adalah DIA yang Mahasuci.

Spirit tahlil kupahami sebagai dasar bertindak dimana setiap gerak adalah dengan tetap fokus pada penghambaan kepadaNYA

Spirit takbir, kupahami sebagai penyempurna fondasi itu semua, dimana bagaimanapun usaha dan gerak kita dalam hidup adalah kecil tak berarti apa-apa, hasil dan sebagainya adalah wujud dari Kawelasan dan Keagungan DIA semata.

Demikian terus menerus kupupuk melalui gerak dan bacaan yang kuusahakan untuk merasuk dalam hati dan batin agar jiwa, ruh ini bisa mengenalnya dan membiasakan diri untuk itu. Dan pada akhirnya berharap untuk bisa berbuat dan berperilaku yang dilandasi spirit-spirit itu semua.

Perjalan hidup masih panjang semoga hanya kesungguhan dan istiqomah yang Allah berikan, dan tentu berkah dari itu semua bisa terlimpah buatku dan keluargaku.

Wallahu ‘alamu bisshowab

PELAJARAN HIDUP DALAM AKSARA JAWA

PELAJARAN HIDUP DALAM AKSARA JAWA (HA NA CA RA KA,...NGA)

Saya sempat menemui beragam pemaknaan dari huruf Jawa, Ha Na Ca Ra Ka. Upaya untuk mendapat pelajaran dari jejeran huruf-huruf tersebut adalah sebuah proses dalam mengajari diri sendiri melalui simbol-simbol huruf yang kita kenal. Tradisi seperti itu, sebenarnya tidak terbatas dalam kalangan masyarakat Jawa. Dalam huruf latin yang sudah kita kenal saat ini dulunya adalah simbol-simbol berbau dewa yang berakar dari tradisi Yunan, Romawi. Demikian pula dalam tradisi Arab juga ditemukan upaya tersebut.

Kembali lagi ke pemaknaan atau proses mengambil pelajaran dari huruf Jawa, maka perlu disampaikan bahwa aksara/huruf Jawa yang sering dijadikan acuan pelajaran tersebut adalah aksara dasar (...) adalah yang berjumlah 20...berikut ini adalah aksaranya :



Berbagai kalangan memberikan pemaknaan (penjabaran) yang berbeda menyangkut aksara-aksara tersebut. Seperti pemakanaan yang ada dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Panji Anom Resiningrum, atau dari Sastra Jendra Hayuninrat. Dari sekian uraian atau pemaknaan, saya lebih suka dan merasa sreg yang berasal dari Sastra Jendra Hayuningrat.  Berikut adalah pemaknaannya :

Ha       – Huripku Cahyaning Allah

Na       – Nur Hurip cahya wewayangan

Ca       – Cipta rasa karsa kwasa

Ra       – Rasa kwasa tetunggaling pangreh

Ka       – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat



Da       – Dumadi kang kinarti

Ta        – Tetep jumeneng ing dat kang tanpa niat

Sa       – Sipat hana kang tanpa wiwit

Wa       – Wujud hana tan kena kinira

La         – Lali eling wewatesane



Pa       – Papan kang tanpa kiblat

Dha    – Dhuwur wekasane endhek wiwitane

Ja        – Jumbuhing kawula lan Gusti

Ya       – Yen rumangsa tanpa karsa

Nya     – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki



Ma       – Mati bisa bali

Ga       – Guru Sejati kang muruki

Ba       – Bayu Sejati kang andalani

Tha     – Thukul saka niat

Nga     – Ngracut busananing manungsa

Dari uraian di atas, aksara Jawa yang berjumlah 20 dikumpulkan dalam 4 kelompok dengan masing-masing berisi 5 huruf. Pada tulisan ini saya akan membahas khususnya pada kelompok pertama, yaitu Ha, Na, Ca, Ra, dan Ka.

Ha       – Huripku Cahyaning Allah (Hidupku adalah Cahaya  Allah)

Secara sederhana aksara ini mengajarkan kepada kita tentang posisi dan siapa diri kita hidup di dunia ini. Hidup kita ini tak lain dan bukan hanyalah pancaran Cahaya dari Allah Swt. Hidup kita tergantung atas ADAnya ALLAH yang WAJIB adanya tersebut. Hidup kita bukan milik kita sesungguhnya, bukan hidup yang berdiri sendiri.

Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang)

Cahaya Hidup (Hidup kita) adalah Cahaya yang hanya sekedar bayangan. Aksara ini menegaskan lebih tegas lagi apa yang sudah disampaikan aksara Ha. Akhlak kita, perbuatan kita hendaknya adalah pantulan dari hidup kita yang asli, murni dari Cahaya Allah yang ada pada kita.

Ca       – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta Rasa Karsa Kuasa)

Allah adalah sumber dari Cipta Rasa Karsa dan Kuasa yang ada pada diri kita. Itu semua adalah wujud yang bisa nampak dari ADAnya Allah SWT dalam diri kita. Setiap manusia dibekali itu semua. Aksara ini juga mengisyaratkan bahwa siapapun manusia yang mampu menguasai Cipta Rasa Karsa, maka dia akan menjadi Kuasa. Inilah bekal hidup manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Ra       – Rasa kwasa tetunggaling pangreh (Rasa kuasa akan adanya wujud satu-satunya kendali/yang memerintah)

Kesadaran akan adanya potensi, bekal yang ada pada dirinya, maka sebenarnya juga akan menyadarkan manusia, adanya Rasa terhadap Wujud Esa yang mengendalikan dirinya. Dalam konteks pribadi, maka manusia hendaknya menyadari adanya kekuatan, yang bisa mengendalikan keseluruhan Cipta Rasa dan Karsa.

Ka       – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat (Karsa Kuasa yang tanpa didasari oleh kehendak, kepentingan atau niat)

Kesadaran akan adanya Wujud Esa Yang Mengendalikan, adalah dengan tidak didasari kepentingan atau niat apapun, yang ada hanyalah kasih sayang dan keikhlasan. Aksara ini pula dapat dimengerti bahwa Allah swt. mempunyai kasih sayang yang mutlak tanpa adanya kepentingan terhadap makhluk.

Aksara Ha sampai Ka mengajarkan manusia kepada sang Khalik Allah swt. sebagai Hidup yang menjadi sumber hidup-hidup lainnya. Demikian pula aksara kelompok awal ini mengajarkan bahwa mengenal Allah dapat melalaui pengenalan apa yang ada pada diri, yaitu Cipta Rasa Karsa yang sudah menjadi amanah dan potensi awal dari Allah swt. kepada manusia. Dengan ketulusan rasa, maka manusia bisa mengenal Allah yang Hayyu Qoyyum.

Demikianlah sekelumit pelajaran yang bisa diambil dari aksara-aksara Jawa. Jika anda berkenan memperdalamnya silakan anda pelajari mengenai ajaran aksara Jawa dalam Sastra Jendra Hayuningrat.

Waallahu ‘alamu bisshowab.

Semoga bermanfaat.

*) penafsiran dari makna-makna di atas bisa berbeda dari satu orang dengan orang lain, meski berdasarkan pemaknaan yang sama.

Buat Engkau .... Guru

buat engkau yang sebagai ustad, kyai, mursyid, guru, atau sepadannya



ajarkanlah kepada muridmu

bagaimana mendekat kepada Allah

bagaimana mencintai RasulNYA



tunjukkan kepada muridmu

jalan yang lurus kepadaNYA

jalan mengkuti RasulNYA



biasakanlah kepada muridmu

memuliakan ilmu dan caranya

melatih diri dan mendidiknya



jangan kau bersedih

ketika muridmu lebih mulia daripadamu

jangan kau cemburu

ketika cinta muridmu kepada Allah dan Rasulnya melebihi kepadamu

jangan kau halangi

ketika muridmu menguasai semua ilmumu



bangga dan bersukurlah

bahwa kau telah berhasil

mengajak muridmu sebagai hamba Allah yang taat

bahwa kau telah berhasil

menumbuhkan cinta muridmu kepada Rasulnya

bahwa kau telah berhasil

menjadikan muridmu sebagai ahli ilmu

bahwa kau telah berhasil

membentuk muridmu sebagai pribadi mandiri

sebagai hamba sepertimu



Sumber : Kitab Teles, Bab Piwulangan, Pasal Guru lan Murid









Bulan SURO

Bulan Suro atau Muharom dalam kalender Hijriyah, di dalamnya sering banyak larangan, tidak boleh ini, tidak boleh itu, dan sebagainya. Bahkan diisi dengan menakut-nakuti dan terciptalah mitos. Kita tidak perlu percaya mitos begitu saja, namanya juga mitos. Memahami mitos perlu sudut pandang lain, karena seringkali mitos itu ditujukan pada sesuatu yang lain. Kadang, mitos juga dibangun atas pengalaman, dan keilmuwan sebelumnya. Oleh karena, mari kita bijak dalam memahami mitos dalam bulan Suro tersebut.

(a) ketika banyak larangan, maka kita bisa memahami, bahwa dalam bulan Suro itu lebih baik digunakan untuk kepentingan yang serius, berfikir, merenung, berzikir, mengolah batin, memperbaiki perilaku dan sebagainya

(b) ketika banyak ancaman menakutkan, maka pahamilah bahwa itu semua adalah bentuk kesungguhan dari sebuah nasehat, maka peganglah kuat2 nasihat yang sebenarnya, tidak perlu terlalu risau pada ancaman. Sebab blai, sial atau celaka pada hakekatnya memang sudah kehendakNYA dan atas akibat ulah kita sendiri.

Jangan menimpakan kesialan pada bulan tertentu, sedangkan kebaikan pada bulan lainnya. Bulan-bulan memang dinamai dengan memiliki spirit dan nasehat yang terkandung di dalamnya, itu adalah spirit tahun hijriyah, dan orang jawa juga berusaha menamkan spirit nasehat luhur tersebut. Bulan Suro, bisa berarti bulan kekuatan (=suro), sebagian dipahami bulan menggembleng kesaktian. Anda bisa memahaminya, bulan penggemblengan kekuatan batin, bukan hanya soal kanuragan.

Bulan Suro, atau Muharom mari kita jadikan bulan transformasi, perubahan dalam bentuk perilaku berhijrah, ke arah yang lebih baik, tentu ini dengan sungguh-sungguh memperhatikan nasehat-nasehat baik di dalamnya serta melatih dalam pembinaan diri dalam bentuk menjauhi berbagai aktivitas yang sifatnya “senang-senang” atau mengejar keduniawian semata. Sama halnya ketika memasuki bulan Romadhon, maka kita memasuki masa-masa yang penuh “gemblengan”, “panas” membakar nafsu-nafsu kita. Jadi apa salahnya memaknai mitos bulan Suro dengan bijak, tanpa harus menghapus pesan positif di dalamnya? Apalagi harus memvonis orang lain kafir, karena berusaha memuliakan bulan Suro.... tidak sebanding bukan?

Wallahu ‘alamu bishhowab

Hari Jum'at

Ketika datang Sabtu dan Minggu,

Kau sambut gembira, entah karena waktunya gajian atau apa

Atau kausiapkan untuk hari keluarga



Ketika menjelang Senin

Kau tunjukkan desah keberatan,

Atau kaupahami sebagai beban kerja



Ketika hari-hari menjadi bermakna

Kaupahami dalam suka atau duka

Atau kauberi makna padanya



Mengapa, saat Jumat tiba

Tak kausambut istimewa?

Bahkan kauanggap biasa-biasa saja

Atau kauanggap hari yang kering (Fryday)

Tanpa makna?

== Oh....terlalu kaulupa waktu, kaulupa saat kejadianmu







Pelajaran Hidup dalam Tembang MACAPAT

Pelajaran Hidup dalam Tembang MACAPAT



Dalam kazanah budaya Jawa, dikenal tembang Macapat, dimana pembuatan lagu tersebut mengikuti aturan yang sudah baku, baik mengenai jumlah bait dalam satu lagu, jumlah baris, jumlah kata, aturan bunyi akhir setiap baris dan sebagainya. Demikian pula soal nama banyak sekali yang terbagi dalam 3 kelompok, ada tembang kelompok kecil, sedang dan besar. Namun dari sekian jenis tembang macapat dapat diambil beberapa untuk dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan, dari lahir sampai mati. Beginilah kira-kira pelajaran yang bisa kita peroleh:

1)    MIJIL = Lahir

Manusia memasuki kehidupan dunia melalui proses kelahiran

2)    MASKUMAMBANG = Masa-masa menyenangkan orang tua

Setelah memasuki masa bayi, balita menjadi permata hati bagi orang tua, menyenangkan dan menghibur mereka

3)    KINANTHI = yang dinanti-nanti

Harapan dari orang tua, anak tersebut menjadi anak yang digadhang-gadhang, dinanti-nantikan untuk melanjutkan mereka

4)    SINOM = masa muda

Si anak sudah memasuki usia remaja, banyak tingkah dan mengenal kehidupan

5)    DHANDANGGULO = menuju dewasa

Kehidupan berproses menunju kedewasaan, isinya semua manis seperti gula, indah, seperti para ABG, pokoknya menyenangkan

6)    ASAMARADANA = api asmara membakar jiwa raga

Sudah mulai mengenal asmara, menikah

7)    GAMBUH = gampang nambuh, angkuh, sok tahu, merasa hebat

Membangun rumah tangga, menjadi orang tua, tetapi merasa sudah hebat, sudah sukses

8)    DURMA = munduring tata krama

Namun kemudian lupa diri, sudah tua tidak tahu diri, sudah punya anak tidak merasa tua, dan akhirnya rusak moralnya

9)    PANGKUR = mungkur, uzur, usia sudah lanjut, datang penyesalan

Ketika memasuki usia senja, semua sudah hilang, kesenangan, kehebatan dan sebagainya. Penyesalan menerpa, dan penyesalan pada akhirnya.

10) MEGATRUH = mati

Sampailah ajal menjemput, semua sudah terlanjur, tidak ada kesempatan memperbaiki diri.

11) POCUNG = dipocong, jadi mayat

Dibungkus kafan dan menjadi mayat yang dikubur, habis sudah kehidupan di dunia memasuki alam barzah, kehidupan pertanggung jawaban

12) WIRANGRONG = semua amal kejelekan, yang memalukan masuk liang (rong)

Semua amal dibawa dalam kehidupan berikutnya tersebut, tetapi sayang hanya rasa malu (wirang) yang dibawa.......penyesalan tiada akhir.....



Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita?....kapan lagi