SEKATEN : Satu Adat Banyak Manfaat, Kaya Hikmat(h)

Sekaten atau upacara Sekaten (berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat) adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.



Sumber lain mengatakan bahwa acara tersebut merupakan ide dari Sunan Kalijaga, salah satu wali songo tanah jawa waktu itu.



PROSESI :



a)    Untuk mengikuti proses sekaten, maka disyaratkan masyarakat untuk bersuci, dalam konteks waktu itu adalah mengikrarkan syahadattain.

b)    Hari pertama dilakukan proses adalah dikeluarkannya dua set gamelan : Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu menuju ke masjid agung. Disitulah berbagai kegiatan dilakukan, misalnya shlawatan, samroh, pertunjukan wayang, dibaan dan lainnya dimeriahkan dengan musik gamelan. Masyarakat yang mau kengikuti kegiatan itu seperti tadi diharuskan bersyahadattain. Ini dilakukan selama 7 hari sampai dengan tanggal 11 Robiul Awal (5-11). Setelah itu gamlean dipulangkan ke kraton.

c)    Puncak acara tanggal 12 robiul awal, dilakukan grebeg maulid. Salah satu komponen pokoknya adalah berupa tumpeng besar. Grebeg berasal dari kata “anggrebek”, bersam-sama dengan kekuatan penuh berdoa atas hajat (raja) semuanya agar dikabulkan. Makanan berupa tumpeng tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat yang mengikutinya sebagai bentuk sedekah.



Tiga proses ini sungguh indah bila kita mau sedikit merenung dan menggali makna di dalamnya. Syarat bersyahadat bukanlah wajib, dalam pengertian yang menontonpun masih diberi kebebasan. Namun bagi mereka yang tertarik dan ingin memeluk Islam, maka syahadat adalah menjadi syarat. Pengenalan akan syahadat sebagai dasar beragama Islam, begitu halus dilakukan.



Berbagai kegiatan di dalamnya juga dilakukan kegiatan yang bernafaskan kegamaan. Pertunjukan wayang tentang pusaka Jamus Kalimosodo adalah sebuah pembelajaran mengenai syahadat itu sendiri yang dilakukan oleh masyarakat sebelumnya. Kegiatan selama 7 hari sungguh luar biasa, masyarakat bisa mengenal banyak sekali khazanah keislaman selama itu.





Memperingati kelahiran nabi yang dilakukan dengan sedekah (bagi raja) dan bentuk ungkapan doa merupakan puncak acaranya. Berdoa dengan bahasa inggris, arab, jawa baik-baik saja. Demikian pula bentuk cara berdoa, ada yang dengan melakukan perbuatan (sedekah) ada yang disimbolkan dengan nasi tumpeng (mengerucut ke atas) seperti simbol menengadahkan tangan terbuka ke atas.



Sekaten, begitulah orang Jawa mengenalnya. Maulid itu bahasa santrinya (yang memperkenalkan dua kaimah syahadat). Para leluhur kita, melalui sekaten, memperkenalkan banyak konsep keagamaan, konsep tentang syahadat, tentang maulid, tentang nabi, tentang agama Islam, tentang budaya yang islami, tentang beramal dan sebagainya. Begitu cerdasnya para leluhur kita dalam berdakwah.



Bagaimana dengan sekarang?







YANG SELALU DIPERSELISIHKAN : ANTARA DEFINISI AGAMA, ISLAM DAN BID’AH



DEFINISI AGAMA :



Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.



DEFINISI ISLAM



Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.



Oleh sebab itu, orang yang berserah diri, patuh, dan taat disebut sebagai orang Muslim. Orang yang demikian berarti telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah Swt. Orang tersebut selanjutnya akan dijamin keselamatannya di dunia dan akhirat.



DEFINISI IBADAH



Kata ibadah berasal daripada kalimat `abdun’. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu. Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk.



Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.



Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.



DEFINISI BID’AH



Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh.



Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.



Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna.





RINGKASAN :



1)    Agama : tata keimanan, peribadatan, pergaulan (manusia dan lingkungan).

2)    Islam : ketundukan, kepasrahan kepada Allah swt

3)    Ibadah : ketundukan, penghambaan, penyembahan.

4)    Bid’ah : perkara baru.



CAKUPAN :

1)    Agama mencakup 3 hal : keimanan, peribadatan dan pergaulan

2)    Islam : dunia dan akhirat.

3)    Ibadah : dicintai dan diridhloi

4)    Bid’ah : perkara agama



BEBERAPA KESIMPULAN YANG BISA DIAJUKAN :



1)    BID’AH yang dimaknai sebagai perkara baru dalam agama, maka akan mencakup urusan/perkara yang berkaitan dengan dunia dan akhirat.

2)    BID’AH yang dimaknai sebagai perkara baru dalam agama, maka akan mencakup urusan keimanan, peribadatan dan pergaulan.

3)    BID’AH yang dimaknai sebagai perkara baru dalam agama yang mencakup masalah ibadah saja, maka agama hanya dipahami sebagai peribadahan saja.

4)    BID’AH yang dimaknai sebagai perkara baru dalam ibadah, maka akan mencakup perkara berkaitan dengan urusan yang dicintai dan diridhloi Allah swt.

5)    BID’AH yang dimaknai sebagai perkara baru dalam agama, sedangkan perkara dunia bukan BID”AH, maka sebenarnya urusan dunia dianggap tidak menjadi bagian dari perkara agama.



CATATAN :

1)    Agama yang diridloi Allah adalah Islam.

2)    Islam adalah agama yang sudah sempurna

3)    Kesempurnaan Islam juga termasuk kesempurnaan dalam mengatur urusan dunia dan akhirat, urusan keimanan, peribadatan dan pergaulan.

4)    Menjadi muslim yang sempurna (kaffah) berarti menjadi orang yang selalu menundukkan segala urusannya, baik keimanan, peribadatan dan pergaulan (urusan dunia) kepada Allah swt.

























Sama-sama Bid'ah Ya....

Kali ini si Murid tergesa-gesa segera menemui si Cantrik :



Murid : “Trik...maulidan yang kaulakukan itu bid’ah..bener kok bid’ah...”

Cantrik : “lha ya...dari kemarin kan kamu selalu bilang begitu....”

Murid : “maksudku begini, trik. Yang aku sebut bid’ah itu ya waktu pelaksanaannya, kegiatan yang dilakukan seperti shalawat. Sedangkan memperingatinya tidak....”



Cantrik : (wah.....jadi aneh gini....ketularan siapa ya? Jangan-jangan dia sudah mau berpindah pemahaman...). Maksudmu bagaimana?

Murid : “begini trik....nabi sendiri memang memperingati hari kelahirannya, yaitu dengan puasa senin, makanya ada sunnah beliau yaitu puasa senin...”



Cantrik : “oooo...itu toh....hadis soal puasa senin”.

Cantrik : “ wah bagus itu .... berarti kamu sudah bisa menerima maulidan donk...”

Murid : “ya tetap bid’ah lah yang kamu lakukan. Wong nabi itu dengan puasa, sedangkan kamu dengan lainnya....itu melanggar sunnah....”



Cantrik : “berarti maulidanmu tiap hari senin ya? Wah jadinya ada puasa maulid donk....”

Murid : “kok jadi gitu .... ya bukan itu donk...”

Cantrik : “kan katanya mengikuti nabi, puasa senin sebagai peringatan akan kelahirannya....jadinya puasamu hari senin itu puasa maulid donk....”



Murid : “ya tidak bid’ah lah...itu sunnah....”

Cantrik : “eh...lahirmu hari apa???”

Murid : “apa maksudmu?...lahirku hari minggu...”

Cantrik : “harusnya sunnahnya nabi yang kamu ikuti itu ya puasa hari minggu bukan senin....”

Murid : “nah itu malah bid’ah.....puasa sunah kok hari minggu...”

Cantrik : “katanya mengikuti nabi...kan nabi punya alasan puasa hari senin karena memperingati kelahirannya. Jadi kamu mengikutinya juga harusnya hari minggu karena kelahiranmu minggu....”

Murid : “ %^&????!!@???....”

Cantrik : “nah jadinya kita sama-sama ahli bid’ah...ya...”





Bid'ah Dunia

Kali ini si Cantrik heran dengan kegiatan si Murid yang sibuk dengan internet, bikin blog dan memposting artikel-artikel keagamaan. Sebab dalam pikiran Cantrik, aktivitas Murid ya baca Qur’an, Hadits, Kitab, shalat sunnah atau yang sejenis.



Cantrik : “Mas...sampean sibuk juga ya bikin blog. Ati-ati lho..itu bid’ah (sindir Cantrik)”



Murid : “ah ya tidak to. Ini kan urusan dunia. Pembaharuan (bid’ah) dalam urusan dunia itu tidak apa-apa. Nabi sendiri mengatakan, “antum alamu bi umuriddunyakum”



Cantrik : “oh...gitu to. Jadi ada bid’ah dunia dan bid’ah agama...katanya semua bid’ah itu sesat...”



Murid : “antum ini keliru dalam memahami hadis soal bid’ah. Yang dimaksud nabi itu ya bid’ah agama yang sesat, seperti tahlilan, maulidan, membaca shalawat yang tidak diajarkan nabi....”



Cantrik : “kok bisa begitu??”

Murid : “lha ya...kan nabi menyebutkan bahwa pembaharuan perkara (urusan) agama itu yang disebut bid’ah, dan bid’ah sesat dan masuk neraka. Intinya membuat perkara baru dalam ibadah..itu bid’ah”.



Cantrik  : “lha kalau begitu...apa yang kau lakukan saat ini sia-sia donk. Kan urusan dunia semua. Tidak ada pahalanya...antum melakukan yang sia-sia...hati-hati lo nanti jadi amalan setan...”

Murid : (mulai mengernyitkan dahi...). lho saya nulis artikel diblog ini kan dakwah, saya niati untuk berdakwah, jadi berpahala donk. Tidak sia-sia...gimana seh..”



Cantrik : “katanya tadi urusan dunia, tidak berlaku kaidah agama...”

Murid : “lha kan segala sesuatu yang bermanfaat dan mengantarkan kepada agama itu baik, dan tercatat sebagai amal berpahala....”



Cantrik : “ya berarti itu urusan agama donk. Ada penilaian baik buruk, berpahala tidak berpahala.....”

Murid : “ah...dasar kamu kagak paham-paham juga. Nulis di blog itu urusan dunia, jadi dulu dakwahnya tidak pake blog, sekarang pake blog. Itu pembaharuan urusan dunia....bukan agama...”



Cantrik : “lha kenapa kamu nilai sebagai amal kebaikan, berpahala, amal dalam agama?.....kalau begitu kan jadi urusan agama??? Apakah ketika kamu mengelola blog itu sedang tidak ada kaitannya dengan agama, terus ketika menulis artikel baru berurusan dengan agama....wah jadi sekuler donk kamu....”

Murid : “kok malah nuduh sekuler.....gimana seh...wong jelas-jelas menurut syechku pembagian dan penjelasan bid’ah begitu kok....”

Cantrik : “ooooh....kata syechmu ya.......maumu aku ikut syechmu juga to? Kok selaluuuu begitu.....pake mbuleeeeeeeeeeeetttt kayak susur....”

Murid : “&^@#???!#@....”





Membid'ahkan dan Mengkafirkan

Kali ini debat si Cantrik dengan si Murid lebih serius dan tegang :



Murid : “Trik....kamu ini benar-benar bebal kok. Sudah dibilangin mulidan itu bid’ah dan sesat. Kok masih ngeyel. “



Cantrik : “lah..memang kenapa? Kan memang beda pendapat kita. Antum menilai maulidan itu bid’ah. Dan saya menganggapnya bid’ah hasanah. Memang sih...sama-sama bid’ah. Cuma saya membedakan adanya bid’ah yang baik dan dibolehkan”.



Murid : “semua bid’ah itu sesat, dan sesat pasti neraka. Semua amalan bid’ah itu tertolak....percuma jadi orang Islam.



Cantrik : “wah....berarti sama dengan orang kafir donk saya. Tempatnya udah jelas di neraka. Dan semua amal saya tertolak..”



Murid : “ah...ya tidak begitu....antum tetap muslim kok. Asal tidak syirik ya tidak kafir. Orang kafir itu kekal dalam neraka...”



Cantrik : “kok bisa begitu????”



Murid : “kafir itu kekal di neraka, sementara ahlu bid’ah tidak kekal. “

Cantrik : “terus kapan keluar dari neraka???”

Murid : “Ya nunggu dulu....”



Cantrik : “Nunggu siapa?...nunggu kamu? Memang surga punya mu apa? Kok kamu yang nentuin?....apa nunggu stempel sohih dari syechmu?.......”



Murid : “bukan begitu...nunggu keputusan Allah.....”

Cantrik : “ya berarti kita sama-sama nunggu......tapi kamu sudah memvonis kalau maulidan itu sesat dan masuk neraka?”

Murid : “itu kan sesuai dengan sabda nabi.....”

Cantrik : “memang nabi mengatakan kalau maulidan itu bid’ah?”



Murid : “ya bukan...menurut ulama yang mengikuti manhaj salafus solih...maulidan itu bid’ah... ya sesuai kaidah nabi jadi sesat”...

Cantrik : “ oh...itu pendapat ulama antum to......apa kamu kepengen saya mengikuti ulama antum? Gitu aja kok....mbuleeeeeeeeeeeeeeettt kaya susur....”



Murid : “huh.......#$#???!@@###”













Jangan Taklid Buta

Kali ini Cantrik sama Murid agak sedikit bersitegang :



Murid : “Trik, janganlah kau taklid buta kepada kyai...?”

Cantrik : “loh, memang kenapa? Tidak boleh ya?”

Murid : “Tidak boleh itu, nanti amalanmu jadi sesat. Ikutilah Nabi, dan rujuklah Al Qur’an dan Sunnah”

Cantrik : “kamu sendiri bagaimana?”

Murid : “Aku selalu merujuk kepada Qur’an dan Hadits Nabi” (Sambil menunjukkan beberapa kitab).

Cantrik : “Lah..kamu malah mengikuti kitab. Sama saja kan. Bedanya aku sama orang kamu sama kitab rujukannya”

Murid : “beda donk. Ini kitab-kitab sudah sohih, valid sebagai rujukan”.

Cantrik : “Memang yang nulis kitab-kitab itu siapa?...Nabi sendiri? Atau sahabat?”

Murid : “Ya..ndak lah..para ulama yang mengikuti nabi dan salafus solih...”

Cantrik : “kalau begitu ya sama saja....sama-sama kepada manusia. Situ kamu sebut ulama, saya sebut kyai...”

Murid : “tetap beda....ulama yang menulis ini benar-benar menempuh ijtihad dalam menulis kitab...”

Cantrik : “lha apa kamu kira, para kyai itu dak bisa baca kitab apa? Tidak berguru pada ulama? Tidak mengkaji naskah-naskah para mujtahid apa?....”

Murid : “tetap beda....kalau kitab ini sudah disahihkan.....”

Cantrik : “disohihkan sama Nabi?...kalau YA saya mau ikut.....maunya kamu kan aku pindah ngikuti ulama mu to?......gitu aja kok mbulet kayak susur....”

Murid : ............%$%$&^#?!&

Belajar Kitab Gundul

Dasar si Murid sudah tidak suka dengan kebiasaan si Cantrik ngaji kitab gundul, maka terjadilah debat kusir berikut :



Murid : “trik, mbok ya jangan ngaji dengan kitab gundul. Itu kan karangan manusia. Lebih baik ngaji Qur’an dan Hadits”

Cantrik : “Iya seh, memang itu sangat baik kok. Tapi kenapa mesti tidak boleh ngaji kitab gundul?”



Murid : “yang sunnah itu yang tidak gundul akhi. Ada jenggotnya, apalagi panjang...”

Cantrik : (ketebulan bawa kitab Al Ibriz) “ooh...kayak yang ini ya?......”

Murid : “Nah...benar-benar seperti ini. Dibawah tulisan ada jenggotnya. Ada harokat sehingga mudah dibaca...ini yang sunnah akhy”

Cantrik : “kalau yang ini malah lebih panjang (kebetulan si Cantrik habis ngaji Fathul Muin, dengan tulisan tangan untuk memberi makna). Bagaimana akhy?”

Murid : “wah ini malah lebih bagus lagi.....lebih panjang dan lebat lagi jenggotnya...”

Cantrik : “bisa baca juga?”

Murid : “Tidak akhy.......”

Cantrik : “Pantes...memang itu tulisanku....menghina apa? Kalau tulisanku jelek?....”

Murid : “Oh bukan begitu..akhy....kalau itu tulisan kamu, berarti kamu malah bid’ah, menambah-nambahi....”

Cantrik :”gimana to, katanya gundul itu tidak boleh, bisa menyesatkan, ada makna gandulnya kayak jenggota, baik, sunnah. Ini malah jenggot lebat..dibilang bid’ah....sebenarnya kamu ngerti ndak kitab gundul?”.....

Murid : “......@#???^&##

Cantrik : “dasar...gundulmu...ngono....”