VALENTINE DAY : ABSURDITAS HARI KASIH SAYANG
Pendahuluan
Sebuah peringatan tentu harus ada yang diingat, siapa yang mengingat dan untuk apa dilakukan peringatan. Katakanlah saya memperingati hari kelahiran saya, berarti hari kelahiran itu lah yang saya ingat. Maksud saya memperingati hari kelahiran adalah bertujuan untuk mengingat kembali akan perjalanan hidup saya, usia saya, apa yang sudah saya lakukan dan berbagai makna yang bisa saya produksi untuk memberi arti dari sebuah peringatan yang saya buat. Lantas bagaimana dengan peringatan Valentine Day? Tentu akan kembali kepada “siapa yang memperingati hari itu”. Ketika pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka secara jujur tidak ada alasan atau maksud apapun seandainya saya memperingatinya. Kecuali pada tanggal itu (14 Februari) adalah hari perkawinan saya. Jadi yang saya peringati adalah hari perkawinan saya.
Anda bisa mengajuka pertanyaan yang sama kepad diri anda. Apa yang anda peringati pada hari valentine day, apa maksud ada memperingatinya. Ini wajar diajukan, ketika anda benar-benar berkehendak mengadakan sebuah peringatan.
Sekilas Valentine Day
Hari Valentine (14 Februari) berakar dari sebuah kisah zaman Romawi berkenaan dengan orang-orang Suci Nashrani, khususnya Saint Valentino. Dia seorang martir yang melawan kaisar Claudius II (268-270 M) yang membuat aturan adanya larangan bagi pemuda Romawi menjalin cinta dan menikah demi kepentingan perang. Akibat perlawanan tersebut dia dijatuhi hukuman mati oleh kaisar. Untuk mengingat kegigihan dan keberaniannya, maka diadakanlah peringatan kepada mendiang Sant Valentino tersebut.
Mengenai tanggal 14 Februari, ada beragam versi yang berkembang. Di antara adalah bahwa pada tanggal tersebut diadakan peringatan hari untuk orang suci Valentino karena adanya keinginan untuk melawan tradisi Romawi yang tiap tanggal 15 Februari mengadakan Lupercalia, penghormatan kepada Dewa kesuburan Lupercus dengan cara berpakaian setengah telanjang dan pengorbanan hewan kambing. Dengan demikian, umat nashrani waktu itu melakukan kegiatan hari Valentine selain untuk mengenang Santo Valentino adalah untuk menandingi atau merubah kebiasaan bangsa romawi dalam penyembahan kepada para dewa.
Ada juga yang berpendapat bahwa pada hari-hari itu, adalah musim para burung mencari jodoh. Tradisi untuk mencari jodoh pada bulan tersebut berkembang pada abad ke-14, dimana ini tradisi yang sudah jauh dari kisah sang santo di jaman romawi. Namun demikian makna dan nilai yang dikembangkan masih saja selalu berkaitan, yaitu kasih sayang dan cinta. Pemaknaan Hari Valentine akhirnya menjadi hari kasih sayang. Dan itu adalah yang dipahami sampai saat ini.
Hari Kasih Sayang : Pemaknaan yang Absurd
Ketika hari ini (14 Februari), sebagai hari Valentine, hari kasih sayang, maka sebenarnya perlu diajukan pertanyaan mendasar kepada siapa yang memperingati. Apa yang anda peringati? Apakah kematian Santo Valentino? Ataukah memperingati para burung yang sedang mencari jodoh? Di sinilah letak absurditas, tidak adanya pijakan yang kukuh sebagai sebuah peringatah hari kasih sayang. Meski anda menyatakan bahwa kasih sayang itu bisa berarti luas dalam bentuk dan sasarannya, namun sekali lagi “ketiadaan peristiwa” yang layak dijadikan sebuah peringatan (untuk diingat), maka peringatah velentine day sebagai hari kasih sayang tidak mempunyai pijakan yang logis dan kuat untuk dilakukan ataupun dimaknai secara mendalam. Semua tanpa makna.
Sebagai umat muslim, maka sebuah pijakan bahwa hari valentine atau kasih sayang dalam rangka memperingati kematian Santo Valentino, maka itu sudah jauh diluar rel yang benar. Ketika anda umat muslim menyatakan bahwa “pencarian jodoh burung” dalam musim kawin Februari adalah yang anda ingat, maka terlalu berlebihan anda membuat pijakan.
Penutup
Ketika sebuah pijakan “peristiwa” apa yang layak diperingati dalam peringatan Valentine Day (hari Kasih Sayang) tidak menemukan jawaban yang jelas, maka kekaburan dan penyelewengan makna sebuah peringatan pasti akan terjadi. Sebab tidak ada pijakan historis yang layak untuk dijadikan sebagai peringatan. Apalagi dijadikan sebuah bentuk ungkapan rasa syukur atau introspeksi diri. Rasa syukur atas apa? Semua serba kabur. Introrspeksi dalam hal apa, dan cermin apa yang akan digunakan? Juga tidak mempunyai jawaban yang pasti. Maka, peringatan Valentine Day sebagai hari kasih sayang, akan menjadi sebuah “pembenar” yang dipaksakan untuk sebuah ritus cinta terlarang anak manusia.
Wallahu ‘alamu
Kesasatan Albany yang Menyatakan Allah Wujud Tanpa Arah dan Tempat
Seperti yang telah masyhur di kalangan Wahhabi Salafy, bahwa Keberadaan Allah itu “Bersemayam diatas ‘Arasy” dalam arti Allah menempati ‘ArasyNya atau menetap, atau duduk, atau tinggal diatas ‘Arasy.
Dan Bahkan dalam kesempatan lain sering mereka meManipulasi Fatwa-fatwa ‘Ulama untuk menyokong akidah rusaknya, bahwa yang di maksud atas itu adalah sebagaimana arah atas yang bisa ditunjuk dengan jari, mereka sangat terkenal mengabaikan Penjelasan Para Mufassir Mengenahi Al ‘Aliyyu .
Namun ketika anda membaca dan mempelajari lebih lanjut di salah satu KITAB KARYA TOKOH WAHABI atau ‘Ulama faforitnya, ada saja sebuah pernyataan yang jauh bertolak belakang dengan apa yang umum beredar di kalangan mereka.
Kali ini Anda akan kami bawa untuk menelusuri sikap dan pernyataan kesesatan al albani yang menyatakan Allah wujud tanpa arah dan tempat, yang mana kepercayaan seperti ini menurut para salafi adalah sebuah kesesatan yang nyata, sebab menurut mereka orang yang menyatakan Allah wujud tanpa tempat adalah orang yang menyalahi teks teks suci yaitu Al Quran dan Hadits yang sahih, klaim mereka “Allah bersemayam di atas ‘Arasy” adalah sebuah tolak ukur keimanan seorang Muslim.
Mari kita simak Kesesatan MUHADDITS HANDAL IMAM NASHIRUDDIN AL ALBANI sebab menyatakan Allah Wujud tanpa tempat dan arah, dalam karya monumental seorang ‘Ulama yang Beliau Tahqiq sendiri yaitu Kitab “Muhtashor Al ‘Uluwwu”


إذا أحطت علما بكل ما سبق استطعت بإذن الله تعالى أن تفهم بيسر من الآيات القرآنية والأحاديث النبوية والآثار السلفية التي ساقها المؤلف رحمه الله في هذا الكتاب الذي بين يديك (مختصره) أن المراد منها إنما هو معنى معروف ثابت لائق به تعالى ألا وهو علوه سبحانه على خلقه واستواؤه على عرشه على ما يليق بعظمته وأنه مع ذلك ليس في جهة ولا مكان.
“Jika (penjelasan) yang lewat telah kamu ketahui, maka dengan izin Allah, dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi serta atsar-atsar kalangan salaf yang telah dicantumkan oleh pengarang (al-Dzahabi) -rahimahullah- di dalam kitab ini yang di depanmu ini, maka kamu akan dengan mudah memahami bahwa yang dimaksud dari (teks-teks) itu adalah sebuah makna yang tsâbit dan dapat diketahui, serta yang layak bagi Allah ta‘âlâ. -Makna itu adalah- bahwa tinggi dan istiwâ’-Nya atas ‘arasy adalah berdasarkan yang layak untuk keagungan-Nya. Sementara dengan hal itu, Dia tiada berjihat (arah) dan tiada bertempat”.
Nah beranikah Para Laskar Wahabi menuduh sesat Muhaddits pujaannya sebab pernyataan Beliau “Allah wujud tanpa tempat dan arah” ???
Allahu A‘lam…
Dan Bahkan dalam kesempatan lain sering mereka meManipulasi Fatwa-fatwa ‘Ulama untuk menyokong akidah rusaknya, bahwa yang di maksud atas itu adalah sebagaimana arah atas yang bisa ditunjuk dengan jari, mereka sangat terkenal mengabaikan Penjelasan Para Mufassir Mengenahi Al ‘Aliyyu .
Namun ketika anda membaca dan mempelajari lebih lanjut di salah satu KITAB KARYA TOKOH WAHABI atau ‘Ulama faforitnya, ada saja sebuah pernyataan yang jauh bertolak belakang dengan apa yang umum beredar di kalangan mereka.
Kali ini Anda akan kami bawa untuk menelusuri sikap dan pernyataan kesesatan al albani yang menyatakan Allah wujud tanpa arah dan tempat, yang mana kepercayaan seperti ini menurut para salafi adalah sebuah kesesatan yang nyata, sebab menurut mereka orang yang menyatakan Allah wujud tanpa tempat adalah orang yang menyalahi teks teks suci yaitu Al Quran dan Hadits yang sahih, klaim mereka “Allah bersemayam di atas ‘Arasy” adalah sebuah tolak ukur keimanan seorang Muslim.
Mari kita simak Kesesatan MUHADDITS HANDAL IMAM NASHIRUDDIN AL ALBANI sebab menyatakan Allah Wujud tanpa tempat dan arah, dalam karya monumental seorang ‘Ulama yang Beliau Tahqiq sendiri yaitu Kitab “Muhtashor Al ‘Uluwwu”
إذا أحطت علما بكل ما سبق استطعت بإذن الله تعالى أن تفهم بيسر من الآيات القرآنية والأحاديث النبوية والآثار السلفية التي ساقها المؤلف رحمه الله في هذا الكتاب الذي بين يديك (مختصره) أن المراد منها إنما هو معنى معروف ثابت لائق به تعالى ألا وهو علوه سبحانه على خلقه واستواؤه على عرشه على ما يليق بعظمته وأنه مع ذلك ليس في جهة ولا مكان.
“Jika (penjelasan) yang lewat telah kamu ketahui, maka dengan izin Allah, dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi serta atsar-atsar kalangan salaf yang telah dicantumkan oleh pengarang (al-Dzahabi) -rahimahullah- di dalam kitab ini yang di depanmu ini, maka kamu akan dengan mudah memahami bahwa yang dimaksud dari (teks-teks) itu adalah sebuah makna yang tsâbit dan dapat diketahui, serta yang layak bagi Allah ta‘âlâ. -Makna itu adalah- bahwa tinggi dan istiwâ’-Nya atas ‘arasy adalah berdasarkan yang layak untuk keagungan-Nya. Sementara dengan hal itu, Dia tiada berjihat (arah) dan tiada bertempat”.
Nah beranikah Para Laskar Wahabi menuduh sesat Muhaddits pujaannya sebab pernyataan Beliau “Allah wujud tanpa tempat dan arah” ???
Allahu A‘lam…
WALISONGO : KEHADIRANNYA UNTUK ANDA (ASWAJA) SAAT INI
Pembuka
Anda boleh berbeda pendapat dan kesimpulan tentang sejarah walisongo di Nusantara, atau khususnya di tanah Jawa. Bagi saya, apa yang saya pahami tentang sejarah dan cerita walisongo hingga sampai kepada saya seolah-olah merupakan skenario besar pemimpin masa lalu demi kepentingan saat ini. Yah... kehadiran mereka seolah dipersiapak buat kita untuk situasi saat ini.
Walisongo Adalah sebuah Tim Dengan Berbagai Keahlian
Dalam salah satu catatan sejarah, bahwa keberadaan walisongo awalnya adalah atas prakarsa dari Sultan Muhammad I (Penguasa Kekhalifahan di Turki) yang berkuasa 1394-1421 M. Penyebaran islam ke penjuru dunia, sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah sendiri. Demikian pula banyak team-team kecil atau besar dikirim ke pelbagai pelosok dunia untuk mendakwahkan Islam. Buat saya keberadaan walisongo adalah paling unik dari sekian peristiwa pengiriman juru dakwah tersebut. Bagaimana tidak, paling tidak buat saya, bahwa sampai saat ini pengakuan masyarakat luas dan ikatan antaranya dengan para walisongo (beserta murid-muridnya) begitu kuat.
Dalam sebuah versi sejarah, walisongo pertama ada sekitar tahun 1404 M. Para ulama yang diutus benar-benar pilihan, dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan medan. Bukan inisiatif atas ulama sendiri untuk berdakwah. Ulama dengan berbagai latar belakang keahlian dikirim ke tanah Jawa untuk mendakwahkan Islam. Entah apa pertimbangan sultan Muhammad I waktu itu, mengutus para ulama dengan kriteria dan pengorganisasian yang demikian ketat dan kuat.
Kemunduran Islam di Timur Tengah
Sekitar tahun 1258 M, Irak yang waktu itu menjadi pusat dakwah Islam yang baik dan maju dihancurkan oleh serangan Hulaghu Khan dari Mongol. Banyak kitab yang dimusnahkan olehnya. Bisa dibilang saat-saat itu adalah memasuki masa suram kemajuan Islam dan peradabannya. Kekhalifahan berpindah ke Ottoman, Turki sejak tahun 1299. Pada periode 1400-an kekhalifahan ini mengalami kemajuan dan kejayaan yang luar biasa. Tapi, sekali lagi suatu saat dinasti ini juga mengalami kejatuhan, dan itu seiring munculnya paham wahaby di tanah Arab.
Walisongo Sebagai Dewan Ulama
Kita tentu lebih mengenal Raden Patah sebagai raja Demak, daripada mengenalnya sebagai salah satu anggowa Walisongo. Demikian pula kita lebih mengenal Sunan Gunung Jati sebagai ulama/wali ketimbang sebagai seorang raja atau pangeran. Kita mengenal Sunan Kalijaga sebagai guru tanah Jawa daripada menyebutnya sebagai putra Bupati Tuban. Apa makna dari itu semua? Bahwa yang kita warisi dari keberadaan walisongo adalah pengenalan kita, kecintaan kita kepada ulama, bukan kepada khalifah/raja. Dinasti atau raja boleh berganti. Dari Demak, ke Pajang, Jipang, kemudian ke Mataram. Masyarakat memaklumi sebagai sebuah sejarah politik. Namun kecintaan mereka kepada walisongo sebagai ulama panutan dan sumber inspirasi tetap melekat sampai saat ini.
Apakah ini sebuah skenario besar saat itu?
Kadangkala saya berkhayal, apakah dulu Sultan Muhammad I atau para dewan ulama sudah “menduga” bahwa nanti tanah Jawa/Nusantara akan menjadi umat mayoritas dari Islam? Meksi bukan sebagai pusat kejayaan atau pusat ilmu pengetahuan Islam, namun keberadaan mayoritas tersebut merupakan sebuah kekuatan besar. Khayalan saya juga bertanya, apakah mereka dulu “mengantisipasi akan munculnya wahaby atau sejenisnya” yang akan mengancam tradisi keulamaan/bermadzhab? Sehingga saat itu dibentuk tim khusus yang ditugasi untuk menanam tradisi keilmuwan dan keualamaan di tanah Jawa. Para walisongo tidak mengajarkan masyarakat untuk mencintai raja tertentu, atau dinasti tertentu, tetapi mengedepankan mencintai ulama. Orang Jawa Timur tetap mencintai Sunan Gunung Jati, demikian pula orang Sunda tetap mencintai Sunan Ampel. Demikianlah warisan yang kita dapatkan saat ini, bukan khalifah siapa yang harus dicintai.
Jika memang demikian adanya, maka menjadi tugas para generasi Aswaja untuk tetap melestarikan tradisi keulamaan tersebut. Di belahan dunia manapun, istilah dewan ulama atau walisongo yang masih begitu kuat dikenal dan dikenang oleh masyarakat adalah di tanah Jawa ini. Perhatikanlah, di tempat-tempat lain, orang akan mengenang para pribadi ulama, namun di Jawa, yang dikenal adalah sebuah dewan ulama, yakni walisongo.
Dan bagi anda para pecinta walisongo (aswaja), maka sadarilah bahwa kehadiran mereka di tanah Jawa ini adalah mempersiapkan anda untuk peran sejarah saat ini. Bagaimana anda tetap bisa mencintai para ulama, bukan raja atau dinasti. Bagaimana anda meneruskan tradisi keilmuwan para ulama, mempertahankan keragaman dalam kesatuan cinta kasih antar sesama. Itulah peran para generasi aswaja saat ini.
Penutup
Anda boleh menganggap saya sedang berkhayal. Bahkan tidak sepakat secuilpun dengan isi tulisan ini. Tapi itu semua tidak akan menghentikan imajinasi saya. Sebelum berkhayal dilarang di negeri ini.
Wallahu ‘alamu
NASEHAT SUNAN GUNUNG JATI KEPADA SUNAN KALIJAGA : DALAM MENCARI GURU
(sumber : Kitab Primbon, Buku Bagian Walisongo,Pupuh 2, Megatruh)
Sudah saya translate ke bahasa Indonesia. Jika menghendaki teks asli silakan dicari saja. Baboning Kitab Primbon, Buku Walisongo, hal. 40-41, Penerbit Kangaroo, Solo)
“Seorang guru yang sejati itu bukan guru yang mengajar ngaji, mengajar menyanyi, juga bukan guru yang mengajar membaca dan menulis atau mengajar menyusui. Juga bukan mengajari kesaktian. Namun guru yang sejati adalah guru yang memberi nasehat akan “ilmu sejati”.
Janganlah kamu berguru kepada :
a) Pandhita/guru yang BESUS (suka berdandan), yang menandakan ketamakan
b) Pandhita/guru yang LENGUS suka iri/serik dengki kepada orang lain)
c) Pandhita/guru yang GUNDHUL rambutnya, yang menandakan suka berbohong
Carilah guru yang :
a) Pandhita/guru yang mengaku bodoh, bodoh terhadap perilaku maksiyat
b) Pandhita/guru yang Zayinnafs, mengihiasi diri dengan perilaku baik, membimbing murid menjauhi maksiyat.
c) Pandhita/Guru Walidi, guru yang sudah arif, lakunya sufi dan mantap lahir batin
Semoga bermanfaat
Sudah saya translate ke bahasa Indonesia. Jika menghendaki teks asli silakan dicari saja. Baboning Kitab Primbon, Buku Walisongo, hal. 40-41, Penerbit Kangaroo, Solo)
“Seorang guru yang sejati itu bukan guru yang mengajar ngaji, mengajar menyanyi, juga bukan guru yang mengajar membaca dan menulis atau mengajar menyusui. Juga bukan mengajari kesaktian. Namun guru yang sejati adalah guru yang memberi nasehat akan “ilmu sejati”.
Janganlah kamu berguru kepada :
a) Pandhita/guru yang BESUS (suka berdandan), yang menandakan ketamakan
b) Pandhita/guru yang LENGUS suka iri/serik dengki kepada orang lain)
c) Pandhita/guru yang GUNDHUL rambutnya, yang menandakan suka berbohong
Carilah guru yang :
a) Pandhita/guru yang mengaku bodoh, bodoh terhadap perilaku maksiyat
b) Pandhita/guru yang Zayinnafs, mengihiasi diri dengan perilaku baik, membimbing murid menjauhi maksiyat.
c) Pandhita/Guru Walidi, guru yang sudah arif, lakunya sufi dan mantap lahir batin
Semoga bermanfaat
JAHILIYAH
Seringkali kita mengatributi sifat seseorang atau sekelompok manusia dengan sebutan Jahiliyah atau menggunakan istilah yang keren, Jahiliyah modern. Sifat atau perilaku yang dianggap belum tersinari dan terbawa Islam adalah jahiliyah. Karena Islam mempunyai tujuan mengentas kehidupan manusia dari periode jahiliyah menuju kehidupan Islamy.
Gambaran apa dalam benak dan pikiran anda ketika mengatakan Jahiliyah? Apakah semacam sifat tak beradab, bodoh, kasar atau deskripsi lain? Tentu dari diri kita masing-masing punya deskripsi khusus tentang jahiliyah. Sadarkah bahwa ketika kita menyebut orang lain berperilaku jahiliyah, sebenarnya dalam diri kita juga memiliki potensi dan sifat itu? Marilah kita bersama-sama berjuang untuk merubah itu semua.
Sifat jahiliyah yang diperangi Islam dan dididik untuk berubah adalah meliputi :
1) Jahiliyah dalam hukum, dalam bersikap dimana itu semua disandarkan pada hawa nafsu semata. Dengan demikian, ketidakadilan, diskriminasi untuk memuaskan kepentingan diri sendiri, kesenangan sendiri termasuk dalam kategori ini. Dalam setiap sikap dan perbuatan kita yang selalu menuruti hawa nafsu adalah wujud jahiliyah ini. Bahkan atas bungkus nama apapun, ketika hawa nafsu yang menguasai, maka masih tetap berkubang dalam bentuk jahiliyah.
2) Jahiliyah angan-angan/pikiran. Logika, pemikiran dan angan-angan jahiliyah adalah ketika memandang peristiwa dan kejadian di dunia ini tanpa ada campur tangan Allah, baik itu keberhasilan atau kegagalan. Sekularisme, dalam hal ini merupakan bentuk lain dari jahiliyah. Tak ada selembar daun jatuh dari pohon, kecuali dalam kuasa Allah.
3) Jahiliyah dalam kesombongan. Jahiliyah macam ini adalah seperti yang dilakukan oleh Iblis, ketika dia begitu meninggikan dirinya karena asal penciptaannya. Kesombongan kita karena asal kita, bangsa kita, kelompok kita merupakan bentuk-bentuk jahiliyah.
4) Jahiliyah berpakaian. Pakaian diciptakan adalah untuk melindungi diri dan menutup aurat/kemaluan. Ketika pakaian yang kita gunakan adalah untuk menambah “penampakan” dari aurat kita, itulah sikap jahiliyah dalam berpakaian. Pakaian begitu penting, paling tidak bisa mengingatkan kita akan siapa diri kita. Kalau pake peci ya malu, jika harus masuk diskotik. Dalam konteks ini mungkin bisa dimasukkan adalah peralatan dan apa saja yang kita pakai. Ketika itu semua melupakan fungsi dan tujuan diadakannya. Apalagi menumbuh suburkan sifat-sifat jahiliyah sebelumnya.
Maka perhatikanlah, sikap jahiliyah itu meliputi pikiran, sikap dan pakaian. Banyak hal kejahiliyiahan itu ada di dalam diri kita, di hati, pikiran kita. Maka berhati-hatilah. Itulah sifat-sifat jahiliyah yang dulu juga berusaha dirubah melalui Islam.
Apakah agama Islam yang kita jalani saat ini sudah membantu diri memerangi kejahiliyahan diri? Ataukah bisa-bisa dengan agama anda akan terjerumus dalam kejahiliyahan yang lebih mengerikan? Jahiliyah dalam beragama.
Mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan bukan? Apalagi yang didakwahi adalah diri sendiri.
Gambaran apa dalam benak dan pikiran anda ketika mengatakan Jahiliyah? Apakah semacam sifat tak beradab, bodoh, kasar atau deskripsi lain? Tentu dari diri kita masing-masing punya deskripsi khusus tentang jahiliyah. Sadarkah bahwa ketika kita menyebut orang lain berperilaku jahiliyah, sebenarnya dalam diri kita juga memiliki potensi dan sifat itu? Marilah kita bersama-sama berjuang untuk merubah itu semua.
Sifat jahiliyah yang diperangi Islam dan dididik untuk berubah adalah meliputi :
1) Jahiliyah dalam hukum, dalam bersikap dimana itu semua disandarkan pada hawa nafsu semata. Dengan demikian, ketidakadilan, diskriminasi untuk memuaskan kepentingan diri sendiri, kesenangan sendiri termasuk dalam kategori ini. Dalam setiap sikap dan perbuatan kita yang selalu menuruti hawa nafsu adalah wujud jahiliyah ini. Bahkan atas bungkus nama apapun, ketika hawa nafsu yang menguasai, maka masih tetap berkubang dalam bentuk jahiliyah.
2) Jahiliyah angan-angan/pikiran. Logika, pemikiran dan angan-angan jahiliyah adalah ketika memandang peristiwa dan kejadian di dunia ini tanpa ada campur tangan Allah, baik itu keberhasilan atau kegagalan. Sekularisme, dalam hal ini merupakan bentuk lain dari jahiliyah. Tak ada selembar daun jatuh dari pohon, kecuali dalam kuasa Allah.
3) Jahiliyah dalam kesombongan. Jahiliyah macam ini adalah seperti yang dilakukan oleh Iblis, ketika dia begitu meninggikan dirinya karena asal penciptaannya. Kesombongan kita karena asal kita, bangsa kita, kelompok kita merupakan bentuk-bentuk jahiliyah.
4) Jahiliyah berpakaian. Pakaian diciptakan adalah untuk melindungi diri dan menutup aurat/kemaluan. Ketika pakaian yang kita gunakan adalah untuk menambah “penampakan” dari aurat kita, itulah sikap jahiliyah dalam berpakaian. Pakaian begitu penting, paling tidak bisa mengingatkan kita akan siapa diri kita. Kalau pake peci ya malu, jika harus masuk diskotik. Dalam konteks ini mungkin bisa dimasukkan adalah peralatan dan apa saja yang kita pakai. Ketika itu semua melupakan fungsi dan tujuan diadakannya. Apalagi menumbuh suburkan sifat-sifat jahiliyah sebelumnya.
Maka perhatikanlah, sikap jahiliyah itu meliputi pikiran, sikap dan pakaian. Banyak hal kejahiliyiahan itu ada di dalam diri kita, di hati, pikiran kita. Maka berhati-hatilah. Itulah sifat-sifat jahiliyah yang dulu juga berusaha dirubah melalui Islam.
Apakah agama Islam yang kita jalani saat ini sudah membantu diri memerangi kejahiliyahan diri? Ataukah bisa-bisa dengan agama anda akan terjerumus dalam kejahiliyahan yang lebih mengerikan? Jahiliyah dalam beragama.
Mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan bukan? Apalagi yang didakwahi adalah diri sendiri.
NGANTUK
MENGANTUK
Menurut Prof. Damarjati Supajar, Javanolog yang sudah ternama, “ngantuk” dalam bahasa Jawa itu mempunyai akar kata “mantuk” (pulang). Dengan memahami akar kata ini, manusia Jawa diajarkan bagaimana memperlakukan sebuah kondisi mengantuk, sebuah proses menuju tidur (Jawa = Sare/Sareh). Bagi kita yang mau sedikit tenggelam dalam dunia makan sebuah kata, pemahaman proses mengantuk ke arah tidur, sebagai proses “mantuk” (pulang, kembali) akan membimbing ke arah pemahaman akan peristiwa tidur itu sendiri sebagai peristiwa “kematian”.
Orang Jawa melihat, bahwa tidur, (sareh) adalah proses “meletakkan semua”, menanggalkan semua beban, pikiran dan rasa yang sudah dialami selama seharian penuh. Hikmah dari pelatihan ini adalah bagaimana mempersiapkan diri terhadap kematian, meninggal dunia yang sesungguhnya. Setiap hari, kita dilatih untuk selalu berniat, dengan sadar pulang, kembali kepada Sang Pencipta, dengan menanggalkan semua yang selama seharian penuh menjadi beban dan ditemui.
“Ngantuk”, yang ditandai dengan “angop” (menguap) adalah pertanda bahwa jiwa kita memaksa diri untuk pulang. Energi untuk bertahap dalam hidup melek ini sudah berkurang. Jika itu sudah tak tertahankan, maka bersegeralah berniat dengan sadar untuk pulang. Sehingga tidur anda bukan sekedar memejamkan mata, merebahkan badan dan berkhayal atau menghitung angan-angan.
Jika anda sudah terbiasa dengan do’a mau tidur “bismika allahumma ahya, wa bismika amuut”. Maka rasakanlah, pemahaman itu akan menemukan pertemuan persenyawaan yang begitu indah. Itulah bukti bahwa Islam bagaimanapun mampu diterima dan tumbuh subur di Jawa dan di belahan bumi lainnya.
Wallahu ‘alam
Menurut Prof. Damarjati Supajar, Javanolog yang sudah ternama, “ngantuk” dalam bahasa Jawa itu mempunyai akar kata “mantuk” (pulang). Dengan memahami akar kata ini, manusia Jawa diajarkan bagaimana memperlakukan sebuah kondisi mengantuk, sebuah proses menuju tidur (Jawa = Sare/Sareh). Bagi kita yang mau sedikit tenggelam dalam dunia makan sebuah kata, pemahaman proses mengantuk ke arah tidur, sebagai proses “mantuk” (pulang, kembali) akan membimbing ke arah pemahaman akan peristiwa tidur itu sendiri sebagai peristiwa “kematian”.
Orang Jawa melihat, bahwa tidur, (sareh) adalah proses “meletakkan semua”, menanggalkan semua beban, pikiran dan rasa yang sudah dialami selama seharian penuh. Hikmah dari pelatihan ini adalah bagaimana mempersiapkan diri terhadap kematian, meninggal dunia yang sesungguhnya. Setiap hari, kita dilatih untuk selalu berniat, dengan sadar pulang, kembali kepada Sang Pencipta, dengan menanggalkan semua yang selama seharian penuh menjadi beban dan ditemui.
“Ngantuk”, yang ditandai dengan “angop” (menguap) adalah pertanda bahwa jiwa kita memaksa diri untuk pulang. Energi untuk bertahap dalam hidup melek ini sudah berkurang. Jika itu sudah tak tertahankan, maka bersegeralah berniat dengan sadar untuk pulang. Sehingga tidur anda bukan sekedar memejamkan mata, merebahkan badan dan berkhayal atau menghitung angan-angan.
Jika anda sudah terbiasa dengan do’a mau tidur “bismika allahumma ahya, wa bismika amuut”. Maka rasakanlah, pemahaman itu akan menemukan pertemuan persenyawaan yang begitu indah. Itulah bukti bahwa Islam bagaimanapun mampu diterima dan tumbuh subur di Jawa dan di belahan bumi lainnya.
Wallahu ‘alam
TRADISI KEILMUWAN : LITERER DAN BERGURU (LISAN)
Tidak semua bangsa di dunia ini bersamaan dalam mengenal huruf atau tulisan. Demikian pula, tidak semua bangsa menemukan jenis huruf yang seragam sebagai simbol dari komunikasi mereka. Bangsa Mesir misalnya sudah jauh lebih dahulu dibanding masyarakat Jawa mengenal budaya tulisan untuk mencatat berbagai kegiatan kehidupannya. Dengan demikian, perbedayaan capaian ilmu pengetahuan dan kebudayaan masing-masing bangsa bisa berbeda, karena melalui tulisan itu semua bisa diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah pentingnya buku, pentingnya tradisi literer dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Melalui catatan, tulisan dimanapun ditempatkan, tulisan telah menjadi sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang demikian luar biasa. Kebiasaan orang-orang kuno yang mengajarkan nasehat ataupun ilmu melalui lisan, tutur telah tergantikan. Ilmu pengetahuan yang awalnya demikian kuat diyakini, melalui lisan semakin lama semakin berkurang nilai informasinya, semakin kacau makna kedalamannya dan akhirnya menjadi mytos belaka. Melalui tradisi baru, tulisan dan catatan, transfer ilmu pengetahuan dianggap menjadi lebih stabil dan valid akan isi informasi yang tersampaikan. Demikianlah akhirnya budaya tulis menjadi sebuah jalur transfer ilmu serta penggalian ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi.
Namun, sejarah Islam telah memberikan sebuah bukti yang demikian kuat untuk menjungkirbalikkan itu semua. Melalui seorang manusia yang Ummy, tidak bisa baca dan tulis, puncak dari segala ilmu pengetahuan manusia didapat. Ya beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau ternyata mampu menjadi pembaca yang baik. Membaca kondisi sosial, membaca bahasa alam sekitar serta mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Wahyu Al Qur’an adalah sebuah bukti, bahwa puncak keilmuwan bukan didasarkan atas catatan dan tulisan. Bahkan semua nabi dan rasul menerima itu secara demikian, meski tidak semua rasul adalah ummy.
Tradisi berdialog dengan sesama, dengan lingkungan dan diri sendiri ternyata menjadi kunci utama dalam mencari ilmu. Dan buku, tulisan atau catatan hanyalah salah satu bagian dari itu. Maka tidak mengherankan mengapa pada masa kejayaan budaya Yunani, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, karena tradisi lisan untuk berdialog. Ada hubungan antara pencari ilmu (murid) dengan guru (sumber ilmu). Sementara catatan adalah sebagai wadah pengikat ilmu yang diperoleh. Demikianlah selayaknya kita berproses mencari ilmu. Dari dialog lisan dengan sumber, kemudian mencatat ilmu yang didapatkan dari proses itu. Inilah jalan Nabi Muhammad SAW. mencapai puncak keilmuwan dan spiritualitas.
Bagaimana dengan zaman sekarang?? Dengan uraian sebelumnya, maka saya menyimpulkan bahwa, catatan, tulisan, buku atau semacamnya adalah sebuah pintu dari beragam pintu ilmu pengetahuan. Namun ujung dari proses untuk mencapai pengetahuan adalah dengan dialog. Bagaimanapun catatan atau literatur adalah huruf-huruf yang bisu. Dia bisa dibaca sesuka pembacanya. Tulisan “waroeng pojok santri” bisa dibaca “warong santri gendeng”... oleh pembaca yang lagi gila. Atau orang buta huruf, bahkan tidak bisa dibaca sama sekali.
Oleh karena itu, maka tradisi berguru melalui lisan dan dialog adalah sebuah metode belajar yang paling utama. Dengan metode seperti itu sebenarnya kita sudah mengikuti jalan nabi muhammad saw. Jalan itu pulalah yang ditempuh oleh para imam madzhab dan para pewarisnya.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Namun, sejarah Islam telah memberikan sebuah bukti yang demikian kuat untuk menjungkirbalikkan itu semua. Melalui seorang manusia yang Ummy, tidak bisa baca dan tulis, puncak dari segala ilmu pengetahuan manusia didapat. Ya beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau ternyata mampu menjadi pembaca yang baik. Membaca kondisi sosial, membaca bahasa alam sekitar serta mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Wahyu Al Qur’an adalah sebuah bukti, bahwa puncak keilmuwan bukan didasarkan atas catatan dan tulisan. Bahkan semua nabi dan rasul menerima itu secara demikian, meski tidak semua rasul adalah ummy.
Tradisi berdialog dengan sesama, dengan lingkungan dan diri sendiri ternyata menjadi kunci utama dalam mencari ilmu. Dan buku, tulisan atau catatan hanyalah salah satu bagian dari itu. Maka tidak mengherankan mengapa pada masa kejayaan budaya Yunani, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, karena tradisi lisan untuk berdialog. Ada hubungan antara pencari ilmu (murid) dengan guru (sumber ilmu). Sementara catatan adalah sebagai wadah pengikat ilmu yang diperoleh. Demikianlah selayaknya kita berproses mencari ilmu. Dari dialog lisan dengan sumber, kemudian mencatat ilmu yang didapatkan dari proses itu. Inilah jalan Nabi Muhammad SAW. mencapai puncak keilmuwan dan spiritualitas.
Bagaimana dengan zaman sekarang?? Dengan uraian sebelumnya, maka saya menyimpulkan bahwa, catatan, tulisan, buku atau semacamnya adalah sebuah pintu dari beragam pintu ilmu pengetahuan. Namun ujung dari proses untuk mencapai pengetahuan adalah dengan dialog. Bagaimanapun catatan atau literatur adalah huruf-huruf yang bisu. Dia bisa dibaca sesuka pembacanya. Tulisan “waroeng pojok santri” bisa dibaca “warong santri gendeng”... oleh pembaca yang lagi gila. Atau orang buta huruf, bahkan tidak bisa dibaca sama sekali.
Oleh karena itu, maka tradisi berguru melalui lisan dan dialog adalah sebuah metode belajar yang paling utama. Dengan metode seperti itu sebenarnya kita sudah mengikuti jalan nabi muhammad saw. Jalan itu pulalah yang ditempuh oleh para imam madzhab dan para pewarisnya.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Langganan:
Postingan (Atom)