Malam, gelap, kalau toh ada cahaya tidak seterang siang yang benderang
Malam menjadi peraduan bagi mereka yang kelelahan
Malam menjadi pengaduan bagi mereka yang kesusahan
Malam menjadi penenang bagi yang kebingungan
Sebab ada, tidur buat penghibur
Malam, sunyi, kalau toh ada suara tidak sebising siang hari
Malam menjadi waktu mencari bagi para pecinta
Malam menjadi waktu bersuci bagi para pengelana
Malam menjadi waktu berbagi bagi para pujangga
Sebab ada, peluang untuk diri sendiri
Malam, tenang, kalau toh ada gerak tidak sebanyak saat bekerja
Malam menjadi berbeda karena ada sua
Malam menjadi meriah karena ada tawa
Malam menjadi bermakna karena ada jiwa
Sebab ada, kesempatan berbagi cerita
Malam, berkah, kalau toh ada murka itu tidak seberapa
Malam menjadi media cahaya terbuka
Malam menjadi pintu petunjuk bagi kalbu
Malam menjadi surat bagi yang bermunajat
Sebab ada, ketulusan menanti Yang Abadi
Malam, milik semuanya
Malam, mengumpulkan kita
Malam....... lailatul ijtima’
Surabaya, 30 Juni 2011,
Zikir untuk Terapi Diri
Berzikir dapat menenangkan hati. Dengan berzikir, kita berusaha untuk mencari substansi atas masalah yang sedang kita hadapi atau persoalan yang datang kepada diri. Pemahaman akan substansi tersebut menuntun kita pada pemahaman bahwa diri kita pada hekekatnya tidak bisa dan mempunyai kekuatan apapun untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, kecuali apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Berzikir yang demikian tentu akan menghasilkan ketenangan bathin. Alaa bidzikrillahi tathmainnal qulub...berzikirlah kepada Allah, maka akan menenangkan hati(mu).
Bahkan sekarang ini banyak pihak yang mengembangkan berzikir untuk menggali dan mengembangkan potensi diri. Misalnya metode-metode zikir untuk mengaktifkan otak tengah. Atau metode zikir untuk menyembuhkan mereka yang kecanduan narkoba dan sebagainya. Dulu, kata seorang teman, waktu kecil dia sering melakukan metode zikir di pesantren Suralaya, (Sukabumi?) saat liburan sekolah untuk membangkitkan kecerdasan. Dan terbukti dia memperoleh hasil dan manfaat dari zikir tersebut di waktu dia dewasa.
Saya sendiri, sudah berkali-kali membuktikan itu. Bahwa zikir memang dapat menenangkan hati bahkan dapat menjernihkan pikiran kita.
Sewaktu saya menjadi guru sebuah sekolah SMP di Surabaya, ada seorang murid yang mengeluh, katanya dia diguna-guna oleh temannya. Setiap saat, setiap melakukan sesuatu yang teringat hanya wajah cowok tersebut. Bagi dirinya sudah tidak masuk akal. Tetapi begitu sulitnya menghilangkan wajah dari benak pikirannya. Kepada saya dia meminta nasehat dan bantuan untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut atau gampangnya menghilangkan pengaruh pelet.
Awalnya saya katakan...”saya dak bisa menghilangkan pelet tersebut, wong saya juga tidak tahu apakah kamu itu kena pelet, atau memang kamu itu jatuh cinta betulan...”. Dia tetap ngotot bahwa dia yakin dipelet, soalnya sudah begitu parah perasaan yang merasukinya.
Maka dengan keyakinan saya, dan yakin atas janji Allah SWT seperti di atas...saya coba membantu murid tersebut. Saya suruh dia pegang sebuah tasbih. Saya suruh dia membaca Laa Ilaaha Illallah...dalam setiap bacaan...maka dalam hatinya harus menegaskan...tidak ada yang paling baik keculai Allah, tidak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Allah, tidak ada yang mampu menentramkan kecuali Allah, begitu seterusnya...sampai beberapa butir tasbih dia mampu menegaskan itu. Setelah itu aku coba untuk mempraktekkan, untuk mengingat wajah si cowok dan menyebut satu per satu kebaikannya. Maka dia mulai menyebutkan. Tapi berkali-kali dia coba menyebutkan sifat-sifat si cowok, dia tidak mampu menyebut lebih dari 2 kebaikan. Hanya itu berulang-ulang.
Dengan hasil itu, saya katakan kepadanya, itulah bukti bahwa begitu banyak kebaikan Allah yang bisa dia terima, bisa dia pahami dan dia yakini. Tetapi sekali lagi kepada manusia, tidak akan pernah mampu menghasilkan kebaikan yang begitu banyak. Kesimpulan dari kegiatan itu, aku sarankan, lakukanlah zikir tersebut berulang-ulang di rumah. Satu kalimat laa ilaaha illallah harus diikuti dengan penegasan hati satu sifat Allah, atau satu perbuatan Allah kepada kita. Tak lama, selang 2 hari murid tersebut melaporkan bahwa sudah bisa melupakan cowok tersebut dan dia jauh lebih tenang. Dan dia merasa tidak masuk akal dan berkeyakinan tidak layak mencintai orang tersebut. Allah memberi hidayah kepadanya dan bebaslah dia dari pengaruh kegelisahan jatuh cinta yang tak berujung pangkal tersebut.
Cerita ini dapat memberikan kita inspirasi bahwa setiap bacaan yang kita wirid, zikir selalu membutuhkan hati yang ikut berzikir, bisa jadi di lisan adalah bahasa Arab, tetapi gunakanlah hati dalam bahasa yang paling bisa dipahami untuk memahami apa yang dibaca. Maka dengan berlatih tersebut, antara lisan dan hati akan nyambung dan saling memperkuat. Dan semoga zikir kita benar-benar bisa menenangkan hati dan mendapat barokah dari Allah...barokah apa saja yang menjadi kebutuhan kita. Amiin.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Bahkan sekarang ini banyak pihak yang mengembangkan berzikir untuk menggali dan mengembangkan potensi diri. Misalnya metode-metode zikir untuk mengaktifkan otak tengah. Atau metode zikir untuk menyembuhkan mereka yang kecanduan narkoba dan sebagainya. Dulu, kata seorang teman, waktu kecil dia sering melakukan metode zikir di pesantren Suralaya, (Sukabumi?) saat liburan sekolah untuk membangkitkan kecerdasan. Dan terbukti dia memperoleh hasil dan manfaat dari zikir tersebut di waktu dia dewasa.
Saya sendiri, sudah berkali-kali membuktikan itu. Bahwa zikir memang dapat menenangkan hati bahkan dapat menjernihkan pikiran kita.
Sewaktu saya menjadi guru sebuah sekolah SMP di Surabaya, ada seorang murid yang mengeluh, katanya dia diguna-guna oleh temannya. Setiap saat, setiap melakukan sesuatu yang teringat hanya wajah cowok tersebut. Bagi dirinya sudah tidak masuk akal. Tetapi begitu sulitnya menghilangkan wajah dari benak pikirannya. Kepada saya dia meminta nasehat dan bantuan untuk mengusir pikiran-pikiran tersebut atau gampangnya menghilangkan pengaruh pelet.
Awalnya saya katakan...”saya dak bisa menghilangkan pelet tersebut, wong saya juga tidak tahu apakah kamu itu kena pelet, atau memang kamu itu jatuh cinta betulan...”. Dia tetap ngotot bahwa dia yakin dipelet, soalnya sudah begitu parah perasaan yang merasukinya.
Maka dengan keyakinan saya, dan yakin atas janji Allah SWT seperti di atas...saya coba membantu murid tersebut. Saya suruh dia pegang sebuah tasbih. Saya suruh dia membaca Laa Ilaaha Illallah...dalam setiap bacaan...maka dalam hatinya harus menegaskan...tidak ada yang paling baik keculai Allah, tidak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Allah, tidak ada yang mampu menentramkan kecuali Allah, begitu seterusnya...sampai beberapa butir tasbih dia mampu menegaskan itu. Setelah itu aku coba untuk mempraktekkan, untuk mengingat wajah si cowok dan menyebut satu per satu kebaikannya. Maka dia mulai menyebutkan. Tapi berkali-kali dia coba menyebutkan sifat-sifat si cowok, dia tidak mampu menyebut lebih dari 2 kebaikan. Hanya itu berulang-ulang.
Dengan hasil itu, saya katakan kepadanya, itulah bukti bahwa begitu banyak kebaikan Allah yang bisa dia terima, bisa dia pahami dan dia yakini. Tetapi sekali lagi kepada manusia, tidak akan pernah mampu menghasilkan kebaikan yang begitu banyak. Kesimpulan dari kegiatan itu, aku sarankan, lakukanlah zikir tersebut berulang-ulang di rumah. Satu kalimat laa ilaaha illallah harus diikuti dengan penegasan hati satu sifat Allah, atau satu perbuatan Allah kepada kita. Tak lama, selang 2 hari murid tersebut melaporkan bahwa sudah bisa melupakan cowok tersebut dan dia jauh lebih tenang. Dan dia merasa tidak masuk akal dan berkeyakinan tidak layak mencintai orang tersebut. Allah memberi hidayah kepadanya dan bebaslah dia dari pengaruh kegelisahan jatuh cinta yang tak berujung pangkal tersebut.
Cerita ini dapat memberikan kita inspirasi bahwa setiap bacaan yang kita wirid, zikir selalu membutuhkan hati yang ikut berzikir, bisa jadi di lisan adalah bahasa Arab, tetapi gunakanlah hati dalam bahasa yang paling bisa dipahami untuk memahami apa yang dibaca. Maka dengan berlatih tersebut, antara lisan dan hati akan nyambung dan saling memperkuat. Dan semoga zikir kita benar-benar bisa menenangkan hati dan mendapat barokah dari Allah...barokah apa saja yang menjadi kebutuhan kita. Amiin.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Isra' Mi'raj sebuah Berkah dan Fitnah
Jika peristiwa Isra’ Mi’raj tidak menjadi bagian penting dalam hidup anda, dalam perjalanan keimanan anda, atau peristiwa tersebut tidak anda anggap berguna buat diri anda, maka sia-sialah semua ceramah, pidato, mau’idloh, tentang isro’ mi’roj yang anda saksikan di televisi, anda baca dikoran, buku, majalan dan lainnya, atau di tempat-tempat pengajian yang anda datangi. Sebab isro’ mi’roj tidak ada efek buat anda.
Kita sering terjebak untuk intens memperdebatkan soal bagaimana isro’ mi’roj. Kita terbuai oleh betapa dahsyatnya peristiwa itu, padahal kalau mau sedikit cermat dalam membaca ayat tentang isro’ mi’roj, maka ada subyek yang sentral dan itulah harusnya jadi fokus untuk memahaminya. “Subhaanallzdi asro bi ‘abdihi lailan minal masjidil haroomi....” Maha Suci Allah yang telah menjalankan (mengisro’kan) hambanya pada suatu (sepertiga) malam dari masjidil harom ke.....dst. Jelas-jelas ayat ini menegaskan bahwa Muhammad tidak bisa berbuat itu, tidak bisa melakukan itu seperti halnya orang-orang yang meraga sukma, meditasi, tetapi Allah lah yang menjalankannya. Inilah sebenarnya kata kuncinya. Ketika dipahami seperti ini, penjelasan tentang bagaimana, hanya akan memperkuat keimanan anda kepada Allah SWT, bukan memperdebatkannya.
Bagi Allah peristiwa isro’ mi’roj adalah pemberian berkah kepada Muhammad, dan kepada seluruh umat manusia (..”baarokna haulahu linuriyahu min aayaatinaa...”). Bagi diri pribadi Muhammad, bisa jadi inilah hadiah atas kesabaran dan keyakinannya atas seluruh musibah yang menimpanya (secara khusus dalam masa ‘aamul huzni/tahun dukacita). Bagi seluruh umat manusia, maka perintah shalat sebagai “oleh-oleh” bepergian tersebut adalah berkah. Bagaimana tidak, perintah shalat diturunkan pada saat itu, dan Muhammad diajari bagaimana shalat yang benar dan purna. Pernahkan anda mengkaji bagaimana shalat para nabi sebelum Muhammad? Jika sudah, maka anda akan menemukan bahwa shalat yang diajarkan Muhammad SAW adalah bentuk peribadatan yang sudah purna dan holistik. Shalat adalah tiang agama, pokok dari agama, kunci dari segala ibadah. Itulah berkah besar buat umat manusia. Melalui shalat, sudah tersedia media dan ritual berdialog dengan Allah yang tidak hanya baik dari sisi ruhani, tetapi juga baik dari sisi fisik (kesehatan). Pokoknya lengkap lah shalat itu.
Isro’ Mi’roj memang ujian buat kita. Judul di atas saya menggunakan kata fitnah (yang berarti ujian) hanya untuk menyesuaikan irama saja dengan berkah (guru lagu kalau dalam sastra Jawa). Ya, isro’ mi’roj adalah ujian buat kita, apakah kita yakin pada Allah atau tidak? Seandainya kita hidup di zaman rasulullah SAW, belum tentu kita termasuk orang yang percaya. Wong yang menganggap Muhammad SAW gila saja ada. Lha bagaimana tidak, peristiwa yang tidak masuk akal dilakukan oleh Muhammad, manusia biasa, tidak sakti. Tetapi sekali lagi itulah ujian buat kita, jika kita percayanya kepada Muhammad saja, maka saat itu kita bisar runtuh iman kita. Tetapi ketika percaya kepada Allah, maka bagaimanapun peristiwa isro’ mi’roj itu terjadi, pasti percaya. Dan itulah yang ditegaskan oleh Abu Bakar. Dia percaya kepada Allah.
Demikian pula terhadap shalat sebagai “oleh-olehnya”, kita juga diuji untuk meyakininya. Masak hanya dengan jungkar-jungkir bisa menyelamatkan kehidupan manusia, dari dunia sampai akhirat? Percaya mana anda kepada uang? Kekuasaan? Dibandingkan dengan shalat (yang dua rakaat saja di saat fajar) keutamaannya melebihi seluruh isi langit dan bumi? Percaya mana ketika anda sakit diberi resep untuk minum obat dari dokter dengan shalat hajat atau tahajud? Tidak mudah untuk menerima dan meyakini atas shalat sebagai ibadah yang menentukan selamat tidaknya manusia. Karena bisa jadi kita terlalu sibuk mempersoalkan perjalanan dari langit satu menuju ke langit tuju, mempersoalkan 50 waktu menjadi 5 waktu dan sebagainya.
Saya mempunyai kawan, Wasis namanya (semoga Allah memberi umur panjang dan berkah kepadanya), dia dulu tinggal di sebuah desa di Kec. Sumbang Banyumas. Dia pernah bertahun-tahun ingin membuktikan atas kebenaran shalat jika dibandingkan dengan ritual-ritual lainnya. Setelah proses sekian lama, dia dengan hakkul yakin, dengan pembuktiannya sendiri menegaskan bahwa shalat adalah bentuk ibadah menghadap Allah SWT yang paling benar dan valid. Tentu tidak semua orang bisa segila itu untuk membuktikannya. Tapi itulah demi keyakinan, meski harus melewati banyak godaan dan cobaan.
Anda tidak perlu meniru kawan saya tersebut. Anda dan saya, kita hanya perlu membuktikan melalui seluruh shalat yang kita lakukan, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sampai akhirnya hayat nanti, bahwa shalat adalah berkah buat kita, baik untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Sebelum menjadi berkah, biarlah shalat menjadi fitnah (ujian) buat kita. Yang terpenting Isra' Mi'raj menjadi bagian yang terpenting bagi kehidupan dan keimanan kita.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Selamat memperingat hari Isra’ Mi’raj
Kita sering terjebak untuk intens memperdebatkan soal bagaimana isro’ mi’roj. Kita terbuai oleh betapa dahsyatnya peristiwa itu, padahal kalau mau sedikit cermat dalam membaca ayat tentang isro’ mi’roj, maka ada subyek yang sentral dan itulah harusnya jadi fokus untuk memahaminya. “Subhaanallzdi asro bi ‘abdihi lailan minal masjidil haroomi....” Maha Suci Allah yang telah menjalankan (mengisro’kan) hambanya pada suatu (sepertiga) malam dari masjidil harom ke.....dst. Jelas-jelas ayat ini menegaskan bahwa Muhammad tidak bisa berbuat itu, tidak bisa melakukan itu seperti halnya orang-orang yang meraga sukma, meditasi, tetapi Allah lah yang menjalankannya. Inilah sebenarnya kata kuncinya. Ketika dipahami seperti ini, penjelasan tentang bagaimana, hanya akan memperkuat keimanan anda kepada Allah SWT, bukan memperdebatkannya.
Bagi Allah peristiwa isro’ mi’roj adalah pemberian berkah kepada Muhammad, dan kepada seluruh umat manusia (..”baarokna haulahu linuriyahu min aayaatinaa...”). Bagi diri pribadi Muhammad, bisa jadi inilah hadiah atas kesabaran dan keyakinannya atas seluruh musibah yang menimpanya (secara khusus dalam masa ‘aamul huzni/tahun dukacita). Bagi seluruh umat manusia, maka perintah shalat sebagai “oleh-oleh” bepergian tersebut adalah berkah. Bagaimana tidak, perintah shalat diturunkan pada saat itu, dan Muhammad diajari bagaimana shalat yang benar dan purna. Pernahkan anda mengkaji bagaimana shalat para nabi sebelum Muhammad? Jika sudah, maka anda akan menemukan bahwa shalat yang diajarkan Muhammad SAW adalah bentuk peribadatan yang sudah purna dan holistik. Shalat adalah tiang agama, pokok dari agama, kunci dari segala ibadah. Itulah berkah besar buat umat manusia. Melalui shalat, sudah tersedia media dan ritual berdialog dengan Allah yang tidak hanya baik dari sisi ruhani, tetapi juga baik dari sisi fisik (kesehatan). Pokoknya lengkap lah shalat itu.
Isro’ Mi’roj memang ujian buat kita. Judul di atas saya menggunakan kata fitnah (yang berarti ujian) hanya untuk menyesuaikan irama saja dengan berkah (guru lagu kalau dalam sastra Jawa). Ya, isro’ mi’roj adalah ujian buat kita, apakah kita yakin pada Allah atau tidak? Seandainya kita hidup di zaman rasulullah SAW, belum tentu kita termasuk orang yang percaya. Wong yang menganggap Muhammad SAW gila saja ada. Lha bagaimana tidak, peristiwa yang tidak masuk akal dilakukan oleh Muhammad, manusia biasa, tidak sakti. Tetapi sekali lagi itulah ujian buat kita, jika kita percayanya kepada Muhammad saja, maka saat itu kita bisar runtuh iman kita. Tetapi ketika percaya kepada Allah, maka bagaimanapun peristiwa isro’ mi’roj itu terjadi, pasti percaya. Dan itulah yang ditegaskan oleh Abu Bakar. Dia percaya kepada Allah.
Demikian pula terhadap shalat sebagai “oleh-olehnya”, kita juga diuji untuk meyakininya. Masak hanya dengan jungkar-jungkir bisa menyelamatkan kehidupan manusia, dari dunia sampai akhirat? Percaya mana anda kepada uang? Kekuasaan? Dibandingkan dengan shalat (yang dua rakaat saja di saat fajar) keutamaannya melebihi seluruh isi langit dan bumi? Percaya mana ketika anda sakit diberi resep untuk minum obat dari dokter dengan shalat hajat atau tahajud? Tidak mudah untuk menerima dan meyakini atas shalat sebagai ibadah yang menentukan selamat tidaknya manusia. Karena bisa jadi kita terlalu sibuk mempersoalkan perjalanan dari langit satu menuju ke langit tuju, mempersoalkan 50 waktu menjadi 5 waktu dan sebagainya.
Saya mempunyai kawan, Wasis namanya (semoga Allah memberi umur panjang dan berkah kepadanya), dia dulu tinggal di sebuah desa di Kec. Sumbang Banyumas. Dia pernah bertahun-tahun ingin membuktikan atas kebenaran shalat jika dibandingkan dengan ritual-ritual lainnya. Setelah proses sekian lama, dia dengan hakkul yakin, dengan pembuktiannya sendiri menegaskan bahwa shalat adalah bentuk ibadah menghadap Allah SWT yang paling benar dan valid. Tentu tidak semua orang bisa segila itu untuk membuktikannya. Tapi itulah demi keyakinan, meski harus melewati banyak godaan dan cobaan.
Anda tidak perlu meniru kawan saya tersebut. Anda dan saya, kita hanya perlu membuktikan melalui seluruh shalat yang kita lakukan, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sampai akhirnya hayat nanti, bahwa shalat adalah berkah buat kita, baik untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Sebelum menjadi berkah, biarlah shalat menjadi fitnah (ujian) buat kita. Yang terpenting Isra' Mi'raj menjadi bagian yang terpenting bagi kehidupan dan keimanan kita.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Selamat memperingat hari Isra’ Mi’raj
Silogisme gaya Iblis
Untuk kali ini, saya mencoba menulis secuil pembahasan tentang neraca keadilan, dari Imam Al Ghazaly. Hanya satu contoh silogisme yang saya ambil (dalam kitabnya ada 5 macam), yaitu silogisme ala iblis yang menjadi pertanda adanya kesombongan dalam diri iblis. Bagi anda yang ingin mencari versi lengkap, saya sarankan untuk membaca buku (kecil) berjudul Neraca Keadilan (sudah diterjemahkan) karya Imam Al Ghazaly (untuk judul aslinya saya tidak ingat lagi). Kalau tidak salah diterbitkan oleh Pustaka Sufi.
Dalam Al Qur’an, demikianlah pendapat Al Ghazaly, Allah sebenarnya sudah memberikan ukuran-ukuran dalam pengambilan kesimpulan yang benar dan adil. Ukuran-ukuran tersebut merupakan ukuran cara berpikir kita atas realitas atau fakta. Ukuran tersebut dapat dikenakan untuk beberapa kasus dan dijamin akan kebenarannya, karena bersumber dari Allah dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Silogisme (natijah dalam ilmu mantiq) atau pengambilan kesimpulan merupakan metode untuk mengambil kesimpulan atas fakta yang didasarkan pada logika deduksi. Dalam silogisme, harus ada premis mayor dan premis minor, sehingga akan menghasilkan silogisme (kesimpulan) atas dasar premis-premis tersebut.
Imam Ghazaly mengajukan satu contoh silogisme yang batal, yakni silogisme (cara berpikir) yang diajukan oleh iblis ketika dia menolak untuk bersujud kepada Adam a.s. Dalam surat Al A’raf ayat 12: "Allah berfirman: "Apakah yang menghalangi kamu untuk bersujud diwaktu Aku memerintahkan kamu?" Iblis menjawab: "Saya lebih baik dari dia! Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Di sini iblis mengajukan kesimpulan (silogisme) “bahwa dia lebih baik dari adam”. Premis mayornya adalah : api lebih baik daripada tanah. Premis minornya : adam diciptakan dari tanah. Maka, iblis yang dicipta dari api menyimpulkan, bahwa dirinya lebih baik dari adam. Iblis sudah salah dalam mengajukan premis mayornya, apakah benar dan diakui oleh umum jika api itu lebih baik dari tanah? Atas dasar apa premis tersebut bisa dibenarkan? Ketika premis mayor sudah salah, maka kesimpulan yang diambil tentu akan salah, meski premis minornya adalah benar.
Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud, karena Allah Maha Mengetahui maksud dan tujuan dari persujudan tersebut. Sedangkan iblis sudah mempunyai penilaian dan kesimpulan yang melampaui batas pengetahuannya.
Apa hubungannya dalam kehidupan kita? Bisa jadi kita secara tidak sadar kita sering melakukan cara-cara iblis tersebut dalam mengambil sebuah kesimpulan. Misalnya “saya ini keturunan bangsawan”, maka saya pasti jauh lebih baik dari orang yang bukan bangsawan. Kesimpulan menganggap diri lebih baik hanya karena asal, keturunan, atau bangsa dan sejenisnya jelas-jelas sebuah kekeliruan yang sudah dicontohkan oleh iblis. Kesimpulan semacam itulah yang mendorong kesombongan, kekafiran. Atau contoh lain : saya ini anak kyai, tentu lebih besar peluangnya masuk surga, dan contoh-contoh lain yang bisa anda kembangkan.
Atau kita membuat kesimpulan terbalik begini :”dia orang rusia, pasti ateis dan tidak masuk surga” atau “dia orang arab, pasti hafal quran, dan pasti dia baik”, dan berbagai contoh lainnya.
Dengan kebiasan menggunakan pengambilan kesimpulan semacam ini kita akan terjerumus pada iri, buruk sangka, dan akhirnya merendahkan orang lain, di sisi lain kurang memperhatikan kekurangan diri sendiri.
Sebenarnya al Quran mengajarkan beragam neraca/silogisme yang lurus dan adil (obyektif). Kita sering terkesima dengan silogisme yang diajarkan oleh aristoteles dan para filsuf lainnya. Dari kisah nabi Ibrahim kita akan menjumpai pelajaran filsafat dan logika yang mendalam, bagaimana Ibrahim menajukan pemikiran filosofinya dan silogisme ketika mencari Tuhan, bagaimana dia membungkam namrud ketika berdebat soal kekuasaan Allah. Dan masih banyak lagi.
Semoga kita dihindarkan oelh Allah dari logika-logika sesat ala iblis.
Allahummarhamny bil qur’an...waj’alhu lyy hujjatan Ya Rabbal ‘aalamiin
Wallahu ‘alamu bisshowab
Dalam Al Qur’an, demikianlah pendapat Al Ghazaly, Allah sebenarnya sudah memberikan ukuran-ukuran dalam pengambilan kesimpulan yang benar dan adil. Ukuran-ukuran tersebut merupakan ukuran cara berpikir kita atas realitas atau fakta. Ukuran tersebut dapat dikenakan untuk beberapa kasus dan dijamin akan kebenarannya, karena bersumber dari Allah dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Silogisme (natijah dalam ilmu mantiq) atau pengambilan kesimpulan merupakan metode untuk mengambil kesimpulan atas fakta yang didasarkan pada logika deduksi. Dalam silogisme, harus ada premis mayor dan premis minor, sehingga akan menghasilkan silogisme (kesimpulan) atas dasar premis-premis tersebut.
Imam Ghazaly mengajukan satu contoh silogisme yang batal, yakni silogisme (cara berpikir) yang diajukan oleh iblis ketika dia menolak untuk bersujud kepada Adam a.s. Dalam surat Al A’raf ayat 12: "Allah berfirman: "Apakah yang menghalangi kamu untuk bersujud diwaktu Aku memerintahkan kamu?" Iblis menjawab: "Saya lebih baik dari dia! Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Di sini iblis mengajukan kesimpulan (silogisme) “bahwa dia lebih baik dari adam”. Premis mayornya adalah : api lebih baik daripada tanah. Premis minornya : adam diciptakan dari tanah. Maka, iblis yang dicipta dari api menyimpulkan, bahwa dirinya lebih baik dari adam. Iblis sudah salah dalam mengajukan premis mayornya, apakah benar dan diakui oleh umum jika api itu lebih baik dari tanah? Atas dasar apa premis tersebut bisa dibenarkan? Ketika premis mayor sudah salah, maka kesimpulan yang diambil tentu akan salah, meski premis minornya adalah benar.
Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud, karena Allah Maha Mengetahui maksud dan tujuan dari persujudan tersebut. Sedangkan iblis sudah mempunyai penilaian dan kesimpulan yang melampaui batas pengetahuannya.
Apa hubungannya dalam kehidupan kita? Bisa jadi kita secara tidak sadar kita sering melakukan cara-cara iblis tersebut dalam mengambil sebuah kesimpulan. Misalnya “saya ini keturunan bangsawan”, maka saya pasti jauh lebih baik dari orang yang bukan bangsawan. Kesimpulan menganggap diri lebih baik hanya karena asal, keturunan, atau bangsa dan sejenisnya jelas-jelas sebuah kekeliruan yang sudah dicontohkan oleh iblis. Kesimpulan semacam itulah yang mendorong kesombongan, kekafiran. Atau contoh lain : saya ini anak kyai, tentu lebih besar peluangnya masuk surga, dan contoh-contoh lain yang bisa anda kembangkan.
Atau kita membuat kesimpulan terbalik begini :”dia orang rusia, pasti ateis dan tidak masuk surga” atau “dia orang arab, pasti hafal quran, dan pasti dia baik”, dan berbagai contoh lainnya.
Dengan kebiasan menggunakan pengambilan kesimpulan semacam ini kita akan terjerumus pada iri, buruk sangka, dan akhirnya merendahkan orang lain, di sisi lain kurang memperhatikan kekurangan diri sendiri.
Sebenarnya al Quran mengajarkan beragam neraca/silogisme yang lurus dan adil (obyektif). Kita sering terkesima dengan silogisme yang diajarkan oleh aristoteles dan para filsuf lainnya. Dari kisah nabi Ibrahim kita akan menjumpai pelajaran filsafat dan logika yang mendalam, bagaimana Ibrahim menajukan pemikiran filosofinya dan silogisme ketika mencari Tuhan, bagaimana dia membungkam namrud ketika berdebat soal kekuasaan Allah. Dan masih banyak lagi.
Semoga kita dihindarkan oelh Allah dari logika-logika sesat ala iblis.
Allahummarhamny bil qur’an...waj’alhu lyy hujjatan Ya Rabbal ‘aalamiin
Wallahu ‘alamu bisshowab
Holiday atau Hari Libur
Hari ini adalah hari minggu, bagi yang lain menyebut ahad, untuk orang Inggris menamakan Sunday. Apapun sebutan yang diberikan, sebagian besar dari kita menyebut sebagai hari libur. Tapi bagi yang lain, bukan hari libur sebab masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Pemahaman kita akan hari libur merupakan sisi lain dari pemahaman kita pada hari bekerja.
Di saat anda memaknai hari kerja (mungkin mulai senin sampai jumat), maka konsentrasi anda, waktu anda, keringat anda dikerahkan habis-habisan, pepatah menyebutnya membanting tulang memeras keringat. Ketika memasuki hari sabtu, maka dalam pikiran anda, adalah menebus segala beban pikiran kerja yang sudah dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Tidak ada pikiran pada kerja, tidak perlu membanting tulang atau memeras keringat untuk pekerjaan. Semua ditinggalkan, dan diganti dengan kesenangan, rileks dan aktivitas yang ringan untuk memulihkan energi setelah terkuras. Dalam hal itu anda bisa melakukan banyak hal, mulai dari membaca, pergi ke puncak, ke kebon binatang, masak-masak, berkumpul dengan keluarga atau apa saja, yang penting tidak bekerja. Dengan demikian, hari libur adalah hari bebas kerja.
Jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mengutak-atik soal istilah, hari libur adalah terjemahan dari Holiday. Padahal terjemahan seperti itu, jelas salah. Holi kan terjemahannya suci, jadi holiday ditranslate hari suci, bukan hari libur. Akhirnya menjad jauh sekali, kata suci diterjemahkan libur.
Saya tidak mencoba untuk mengarahkan bahwa hari minggu atau Sunday adalah hari suci, nanti dikira saya mengajak anda untuk murtad. Saya hanya ingin mengajak utak-atik untuk memaknai holiday sebagai hari suci, hari sakral, dimana awalnya adalah untuk membedakan secara sederhana antara dunia sakral dan profan. Bekerja dianggap sebagai aktivitas duniawi, aktivitas yang profan. Sedangkan hari dimana tidak bekerja adalah hari sakral/suci. Aktivitas ketika holiday adalah melakukan aktivitas ritual sakral untuk meninggalkan urusan duniawi.
Mungkin anda akan berontak, lha kita umat Islam kan punya hari suci, yakni Jumat? Sementara kita pada hari itu masih harus bekerja? Masak harus keluar dari sistem kerja seperti itu? Apa ya pada hari minggu kita ramai-ramai ke masjid? Akan banyak pertanyaan yang diajukan untuk mengkritisi pemikiran ini.
Maksud saya hanya simple. Bahwa pemahaman akan hari/waktu kerja anda akan menentukan pemahaman akan hari/waktu libur anda. Ketika anda benar-benar menganggap urusan duniawi, maka harus ada waktu/waktu yang benar-benar suci. Soal kapan, silakan cari dan sesuaikan dengan kesibukan anda. Kan ada dalam sehari semalam 5 waktu shalat, kalau masih kurang ada sholat duha, sholat tahajud, sholat rawatib, dan lain sebagainya. Anda tidak akan kekurangan untuk menyebutnya atau mencari patokan waktu libur anda.
Mungkin anda akan menjawab, “bekerja adalah ibadah buat saya, jadi tidak perlu waktu khusus untuk melakukan kesakralan, shalat tinggal dijalankan”. Ketika pemahaman bahwa bekerja adalah ibadah seperti, maka anda membutuhkan waktu untuk wuquf, berhenti sejenak. Anda bisa jadi bekerja seperti anda melakukan towaf, sa’i, melempar jumrah. Tetapi tetap harus ada wuqufnya. Bagi anda yang pada hari jumat longgar, maka lakukanlah dengan kelonggaran tersebut. Jika longgarnya, anda bisa lakukan kelonggaran pada hari tersebut. Atau hari apa saja. Dan Allah menyediakan waktu 24 jam untuk kita yang akan rehat sejenak dari hiruk pikuk urusan duniawi dan memfokuskan ritual sakral/suci.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Di saat anda memaknai hari kerja (mungkin mulai senin sampai jumat), maka konsentrasi anda, waktu anda, keringat anda dikerahkan habis-habisan, pepatah menyebutnya membanting tulang memeras keringat. Ketika memasuki hari sabtu, maka dalam pikiran anda, adalah menebus segala beban pikiran kerja yang sudah dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Tidak ada pikiran pada kerja, tidak perlu membanting tulang atau memeras keringat untuk pekerjaan. Semua ditinggalkan, dan diganti dengan kesenangan, rileks dan aktivitas yang ringan untuk memulihkan energi setelah terkuras. Dalam hal itu anda bisa melakukan banyak hal, mulai dari membaca, pergi ke puncak, ke kebon binatang, masak-masak, berkumpul dengan keluarga atau apa saja, yang penting tidak bekerja. Dengan demikian, hari libur adalah hari bebas kerja.
Jika kita mau meluangkan sedikit waktu untuk mengutak-atik soal istilah, hari libur adalah terjemahan dari Holiday. Padahal terjemahan seperti itu, jelas salah. Holi kan terjemahannya suci, jadi holiday ditranslate hari suci, bukan hari libur. Akhirnya menjad jauh sekali, kata suci diterjemahkan libur.
Saya tidak mencoba untuk mengarahkan bahwa hari minggu atau Sunday adalah hari suci, nanti dikira saya mengajak anda untuk murtad. Saya hanya ingin mengajak utak-atik untuk memaknai holiday sebagai hari suci, hari sakral, dimana awalnya adalah untuk membedakan secara sederhana antara dunia sakral dan profan. Bekerja dianggap sebagai aktivitas duniawi, aktivitas yang profan. Sedangkan hari dimana tidak bekerja adalah hari sakral/suci. Aktivitas ketika holiday adalah melakukan aktivitas ritual sakral untuk meninggalkan urusan duniawi.
Mungkin anda akan berontak, lha kita umat Islam kan punya hari suci, yakni Jumat? Sementara kita pada hari itu masih harus bekerja? Masak harus keluar dari sistem kerja seperti itu? Apa ya pada hari minggu kita ramai-ramai ke masjid? Akan banyak pertanyaan yang diajukan untuk mengkritisi pemikiran ini.
Maksud saya hanya simple. Bahwa pemahaman akan hari/waktu kerja anda akan menentukan pemahaman akan hari/waktu libur anda. Ketika anda benar-benar menganggap urusan duniawi, maka harus ada waktu/waktu yang benar-benar suci. Soal kapan, silakan cari dan sesuaikan dengan kesibukan anda. Kan ada dalam sehari semalam 5 waktu shalat, kalau masih kurang ada sholat duha, sholat tahajud, sholat rawatib, dan lain sebagainya. Anda tidak akan kekurangan untuk menyebutnya atau mencari patokan waktu libur anda.
Mungkin anda akan menjawab, “bekerja adalah ibadah buat saya, jadi tidak perlu waktu khusus untuk melakukan kesakralan, shalat tinggal dijalankan”. Ketika pemahaman bahwa bekerja adalah ibadah seperti, maka anda membutuhkan waktu untuk wuquf, berhenti sejenak. Anda bisa jadi bekerja seperti anda melakukan towaf, sa’i, melempar jumrah. Tetapi tetap harus ada wuqufnya. Bagi anda yang pada hari jumat longgar, maka lakukanlah dengan kelonggaran tersebut. Jika longgarnya, anda bisa lakukan kelonggaran pada hari tersebut. Atau hari apa saja. Dan Allah menyediakan waktu 24 jam untuk kita yang akan rehat sejenak dari hiruk pikuk urusan duniawi dan memfokuskan ritual sakral/suci.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Shalawat adalah Cermin
Lailatul Ijtima’ (18) : Shawalat adalah Cermin
Dua kalimah syahadat mengajarkan kepada kita akan keberadaan Allah dan Muhammad. Kesaksian akan kedua hal tersebut dapat dibuktikan melalui berbagai rangkaian ibadah dan perilaku dalam kehidupan kita. Bahwa ketika anda disumpah dalam sebuah pengadilan menjadi saksi, maka keterangan yang anda sampaikan adalah keterangan di bawah sumpah. Kebohongan tentu akan menimbulkan tuntutan dan pidana atas pelanggaran sumpah yang diucapkan. Kesaksian harus didukung dengan pengetahuan, pengalaman dan kejujuran tentang apa yang disaksikan. Ketika anda tidak melihat, tahu tentang sebuah peristiwa, jangan sekali-kali memberi kesaksian atas peristiwa tersebut.
Demikian pula, syahadat sebagai ikrar kesaksian, maka dia membutuhkan kejujuran dan konsistensi kita akan apa yang kita ikrarkan. Maka dalam kerangka pemahaman demikianlah, seluruh aktivitas ibadah kita tujukan, yakni memperkuat kesaksian yang sudah diikrarkan. Tidak lebih dari itu.
Shalat merupakan salah satu bentuk kesaksian, bentuk pembuktian akan kebenaran kesaksian kita. Shalat berarti kita berdoa, mengharap berkah keselamatan atas kita kepada Allah. Shalat berarti bentuk latihan kita untuk semakin mendekat kepada Allah sehingga kita bisa berbisik-bisik dan mengaduh sedemikian dekat. Namun, yang demikian itu tidak mudah. Sebab Allah Maha Ghoib, sementara kita begitu besar dikendalikan oleh indrawi kita, sementara kekuatan ghoib kita, batin kita sering tumpul dan gelap untuk menyaksikanNYA.
Allah Maha Tahu akan kelemahan kita tersebut, oleh karena itu, kesaksian kedua, yakni pada Muhammad SAW sebagai rasulullah akan membantu kita untuk mencapai kesaksian keilahian (syahadat tauhid). Muhammad adalah manusia seperti kita, dari spesies manusia seperti kita. Tentu akan jauh lebih mudah memahami dan membuat kesaksian atasnya, jika dibandingkan dengan kesaksian atas Yang Maha Ghoib. Bagaimana untuk mencapai itu? Shalawat adalah kuncinya. Shalawat dalam pengertian bahasa adalah do’a, permohonan kepada Allah agar melimpahkan berkahNYA kepada Muhammad. Limpahan berkah Allah yang tumpah ruah kepada baginda Muhammad SAW, semoga juga meluber kepada kita. Demikianlah shalawat yang dipahami sebagai do’a.
Anda tidak salah memahami shalawat seperti itu. Tetapi, melalui tulisan ini, saya mencoba memahami shalawat seperti cermin (kaca benggala), wasilah (perantara) buat diri kita. Jika shalat dipahami sebagai upaya untuk mendekat kepada Allah SWT, maka shalawat juga kiranya dipahami sebagai upaya mendekat kepada Muhammad SAW. Semakin kita banyak membaca shalawat tentunya kita semakin mengenal kepada Muhammad, menjadikan beliau inspirasi, menjadikan sebagai cermin perikehidupan kita. Kita bisa belajar melaluinya, kita bisa mendekat kepada Allah SWt seperti Muhammad SAW melakukannya.
Mungkin anda sudah pernah melampaui jumlah yang sangat banyak dalam membaca shalawat, apakah shalawat nariyah, atau shalawat2 lainnya yang jumlahnya beragam dan banyak. Tetapi pertanyaanya adalah, sudah demikian banyakkah wawasan kita, pemahaman kita akan Muhammad sebanyak shalawat yang sudah kita baca dan wirid? Ataukah justru terjebak pada kepentingan sesaat dengan atas nama “pendekatan kepada Muhammad’? padahal kita tidak dekat sama sekali.
Mungkin kita bisa berlatih, satu bacaan shalawat mengingatkan kita satu contoh sifat atau perilaku Nabi Muhammad yang kita pegang, jika 10 shalawat maka akan ada 10 contoh yang dapat kita ambil pelajaran. Maka dengan demikian, kita akan memujinya, mendedikasikan kepada beliau, “anta syamsyun anta badrun, anta nuurun fauqo nuuri...” (engkaulah matahari, engkaulah rembulan, engkaulah cahaya di atas cahaya yang menjadi penerang dan penunjuk bagi kehidupan kita, baik di saat malam/gelap ataupun terang.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Dua kalimah syahadat mengajarkan kepada kita akan keberadaan Allah dan Muhammad. Kesaksian akan kedua hal tersebut dapat dibuktikan melalui berbagai rangkaian ibadah dan perilaku dalam kehidupan kita. Bahwa ketika anda disumpah dalam sebuah pengadilan menjadi saksi, maka keterangan yang anda sampaikan adalah keterangan di bawah sumpah. Kebohongan tentu akan menimbulkan tuntutan dan pidana atas pelanggaran sumpah yang diucapkan. Kesaksian harus didukung dengan pengetahuan, pengalaman dan kejujuran tentang apa yang disaksikan. Ketika anda tidak melihat, tahu tentang sebuah peristiwa, jangan sekali-kali memberi kesaksian atas peristiwa tersebut.
Demikian pula, syahadat sebagai ikrar kesaksian, maka dia membutuhkan kejujuran dan konsistensi kita akan apa yang kita ikrarkan. Maka dalam kerangka pemahaman demikianlah, seluruh aktivitas ibadah kita tujukan, yakni memperkuat kesaksian yang sudah diikrarkan. Tidak lebih dari itu.
Shalat merupakan salah satu bentuk kesaksian, bentuk pembuktian akan kebenaran kesaksian kita. Shalat berarti kita berdoa, mengharap berkah keselamatan atas kita kepada Allah. Shalat berarti bentuk latihan kita untuk semakin mendekat kepada Allah sehingga kita bisa berbisik-bisik dan mengaduh sedemikian dekat. Namun, yang demikian itu tidak mudah. Sebab Allah Maha Ghoib, sementara kita begitu besar dikendalikan oleh indrawi kita, sementara kekuatan ghoib kita, batin kita sering tumpul dan gelap untuk menyaksikanNYA.
Allah Maha Tahu akan kelemahan kita tersebut, oleh karena itu, kesaksian kedua, yakni pada Muhammad SAW sebagai rasulullah akan membantu kita untuk mencapai kesaksian keilahian (syahadat tauhid). Muhammad adalah manusia seperti kita, dari spesies manusia seperti kita. Tentu akan jauh lebih mudah memahami dan membuat kesaksian atasnya, jika dibandingkan dengan kesaksian atas Yang Maha Ghoib. Bagaimana untuk mencapai itu? Shalawat adalah kuncinya. Shalawat dalam pengertian bahasa adalah do’a, permohonan kepada Allah agar melimpahkan berkahNYA kepada Muhammad. Limpahan berkah Allah yang tumpah ruah kepada baginda Muhammad SAW, semoga juga meluber kepada kita. Demikianlah shalawat yang dipahami sebagai do’a.
Anda tidak salah memahami shalawat seperti itu. Tetapi, melalui tulisan ini, saya mencoba memahami shalawat seperti cermin (kaca benggala), wasilah (perantara) buat diri kita. Jika shalat dipahami sebagai upaya untuk mendekat kepada Allah SWT, maka shalawat juga kiranya dipahami sebagai upaya mendekat kepada Muhammad SAW. Semakin kita banyak membaca shalawat tentunya kita semakin mengenal kepada Muhammad, menjadikan beliau inspirasi, menjadikan sebagai cermin perikehidupan kita. Kita bisa belajar melaluinya, kita bisa mendekat kepada Allah SWt seperti Muhammad SAW melakukannya.
Mungkin anda sudah pernah melampaui jumlah yang sangat banyak dalam membaca shalawat, apakah shalawat nariyah, atau shalawat2 lainnya yang jumlahnya beragam dan banyak. Tetapi pertanyaanya adalah, sudah demikian banyakkah wawasan kita, pemahaman kita akan Muhammad sebanyak shalawat yang sudah kita baca dan wirid? Ataukah justru terjebak pada kepentingan sesaat dengan atas nama “pendekatan kepada Muhammad’? padahal kita tidak dekat sama sekali.
Mungkin kita bisa berlatih, satu bacaan shalawat mengingatkan kita satu contoh sifat atau perilaku Nabi Muhammad yang kita pegang, jika 10 shalawat maka akan ada 10 contoh yang dapat kita ambil pelajaran. Maka dengan demikian, kita akan memujinya, mendedikasikan kepada beliau, “anta syamsyun anta badrun, anta nuurun fauqo nuuri...” (engkaulah matahari, engkaulah rembulan, engkaulah cahaya di atas cahaya yang menjadi penerang dan penunjuk bagi kehidupan kita, baik di saat malam/gelap ataupun terang.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Kucegah diriku berpoligami
Berita perceraian Aa Gym dengan teh Ninih telah menyedot perhatian banyak orang. Apalagi kaum hawa tentu suka sekali untuk mendiskusikannya. Ada sebagian yang bilang,”tuh...kan...Ay Gym selama ini bohong...Aa Gym tidak adil, ternyata lebih memilih istri muda yang lebih cantik dan seksi..” ada lagi yang mengomentari “mana ada wanita yang suka rela dimadu?...tanpa cemburu”. Dan masih banyak lagi komentar, baik yang kritis, santun, santai, kasar dan sebagainya.
Buat saya, kejadian itu wajar-wajar saja. Jika Aa Gym bercerai itu wajar, sebab dia memang menikah. Dia manusia biasa sama seperti kebanyakan lelaki lainnya bisa nikah juga bisa cerai. Teh Ninih cemburu, ya wajar-wajar saja. Memang begitulah, mana bisa seketika rela setelah sekian lama membangun mahligai rumah tangga dengan susah payah, harus berbagi cinta dengan lainnya.
Poligami adalah isu sensitif yang menguras banyak energi untuk perdebatan dan diskusi. Bagi pihak yang setuju, maka diajukanlah dalil-dalil hingga bukti-bukti bahwa poligami itu sangat bermanfaat serta solusi atas berbagai persoalan kemasyarakat. Namun, bagi mereka yang tidak setuju, akan menentang habis-habisan serta didukung oleh hujjah-hujjah yang tidak kalah validnya, mulai dari Nash Al Qur’an, hadits dan bukti pengalaman.
Memang dalam Nash Al Quran, surat An Nisa’ : 3) laki-laki diperbolehkan kok menikahi lebih dari satu wanita. Ini adalah ketetapan. Dan tidak boleh bagiku untuk menganulir atau menafikan. Ya memang boleh. Tapi sungguh Allah memberi peringatan kepada kita, karena begitu sayangnya sama kita. ”jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja..” nah inilah warning Allah.
Apakah kita orang yang suka berlaku adil? Apakah kita berhati-hati untuk berlaku adil? Maka dari itu jauh lebih baik untuk tidak melakukan poligami. Inilah bahasa Allah untuk mengajak kita berpikir, merenung, menata niat yang sungguh-sungguh ketika hendak melakukan poligami.
Bagiku, maka pilihan untuk tidak berpoligami adalah sebuah keputusan yang mendasarkan pada warning tersebut. Jika selama dengan yang satu saja kita masih belum merasa adil, belum merasa bisa membahagiakan, belum bisa membimbing dengan tuntas, mana mungkin keadilan akan bisa dijalankan dengan yang lebih dari satu. Jika masalah dengan satu istri saja kita seringkali berantem, berselisih pendapat, mana mungkin lebih dengan lebih dari satu bisa mencegahnya?
Allah sungguh menghendaki kita dewasa dan jujur dalam urusan pernikahan. Peringatan Allah tersebut seperti diperbolehkannya perceraian, namun Allah tidak menyukainya. Siapa bilang cerai dilarang? Tidak sama sekali. Tapi ingat, Allah tidak suka dengan hal itu. Maka renungkanlah dengan masak-masak sebelum mengambil keputusan bercerai.
Pada akhirnya, jika menikah dengan satu istri saja belum tentu mendapatkan sakinah, mawaddah wa rohmah, apalagi dengan lebih dari satu? Jika satu istri satu masalah, maka semakin banyak istri semakin banyak masalah tentunya bukan? Jika sudah tidak cocok dengan istri dan Allah tidak suka jika bercerai, maka yang terbaik adalah, bagaimana membina yang sudah ada saja.
Memang tidak mudah menata rumah tangga, wong baru menata rumah saja susah, apalagi menata (hubungan dengan) tetangga? Tapi disitulah letak ibadahnya, yakni dalam proses berumah tangga. Jika nikah itu ibadah, maka proses membentuk dalam rangka sakinah itulah ibadah, jerih payah yang membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan.
Tapi kalau toh, hendak berpoligami, saya tidak melarang atau mengharamkan. Wong Al Quran saja tidak ada larangan. Hanya buat saya, lebih baik mencegah diri sendiri untuk berpoligami, untuk menghindari perbuatan zalim, sembari menikmati dan mensukuri apa yang sudah ada.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Buat saya, kejadian itu wajar-wajar saja. Jika Aa Gym bercerai itu wajar, sebab dia memang menikah. Dia manusia biasa sama seperti kebanyakan lelaki lainnya bisa nikah juga bisa cerai. Teh Ninih cemburu, ya wajar-wajar saja. Memang begitulah, mana bisa seketika rela setelah sekian lama membangun mahligai rumah tangga dengan susah payah, harus berbagi cinta dengan lainnya.
Poligami adalah isu sensitif yang menguras banyak energi untuk perdebatan dan diskusi. Bagi pihak yang setuju, maka diajukanlah dalil-dalil hingga bukti-bukti bahwa poligami itu sangat bermanfaat serta solusi atas berbagai persoalan kemasyarakat. Namun, bagi mereka yang tidak setuju, akan menentang habis-habisan serta didukung oleh hujjah-hujjah yang tidak kalah validnya, mulai dari Nash Al Qur’an, hadits dan bukti pengalaman.
Memang dalam Nash Al Quran, surat An Nisa’ : 3) laki-laki diperbolehkan kok menikahi lebih dari satu wanita. Ini adalah ketetapan. Dan tidak boleh bagiku untuk menganulir atau menafikan. Ya memang boleh. Tapi sungguh Allah memberi peringatan kepada kita, karena begitu sayangnya sama kita. ”jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja..” nah inilah warning Allah.
Apakah kita orang yang suka berlaku adil? Apakah kita berhati-hati untuk berlaku adil? Maka dari itu jauh lebih baik untuk tidak melakukan poligami. Inilah bahasa Allah untuk mengajak kita berpikir, merenung, menata niat yang sungguh-sungguh ketika hendak melakukan poligami.
Bagiku, maka pilihan untuk tidak berpoligami adalah sebuah keputusan yang mendasarkan pada warning tersebut. Jika selama dengan yang satu saja kita masih belum merasa adil, belum merasa bisa membahagiakan, belum bisa membimbing dengan tuntas, mana mungkin keadilan akan bisa dijalankan dengan yang lebih dari satu. Jika masalah dengan satu istri saja kita seringkali berantem, berselisih pendapat, mana mungkin lebih dengan lebih dari satu bisa mencegahnya?
Allah sungguh menghendaki kita dewasa dan jujur dalam urusan pernikahan. Peringatan Allah tersebut seperti diperbolehkannya perceraian, namun Allah tidak menyukainya. Siapa bilang cerai dilarang? Tidak sama sekali. Tapi ingat, Allah tidak suka dengan hal itu. Maka renungkanlah dengan masak-masak sebelum mengambil keputusan bercerai.
Pada akhirnya, jika menikah dengan satu istri saja belum tentu mendapatkan sakinah, mawaddah wa rohmah, apalagi dengan lebih dari satu? Jika satu istri satu masalah, maka semakin banyak istri semakin banyak masalah tentunya bukan? Jika sudah tidak cocok dengan istri dan Allah tidak suka jika bercerai, maka yang terbaik adalah, bagaimana membina yang sudah ada saja.
Memang tidak mudah menata rumah tangga, wong baru menata rumah saja susah, apalagi menata (hubungan dengan) tetangga? Tapi disitulah letak ibadahnya, yakni dalam proses berumah tangga. Jika nikah itu ibadah, maka proses membentuk dalam rangka sakinah itulah ibadah, jerih payah yang membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan.
Tapi kalau toh, hendak berpoligami, saya tidak melarang atau mengharamkan. Wong Al Quran saja tidak ada larangan. Hanya buat saya, lebih baik mencegah diri sendiri untuk berpoligami, untuk menghindari perbuatan zalim, sembari menikmati dan mensukuri apa yang sudah ada.
Wallahu ‘alamu bisshowab
Langganan:
Postingan (Atom)