Dzikir dan Syair Sebelum Shalat Berjama'ah

Dzikir dan Syair Sebelum Shalat Berjama’ah

Oleh : K.H. Abdurrahman Navis


Membaca dzikir dan syair sebelum pelaksanaan shalat jama’ah, adalah perbuatan yang boleh dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kebolehan ini bisa ditinjau dari beberapa sisi.

Pertama, dari sisi dalil, membaca syair di dalam masjid bukan merupakan sesuatu yang dilarang oleh agama. Pada masa Rasulullah J, para sahabat juga membaca syair di masjid. Dalam sebuah hadits:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانِ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللهِ Jيَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ (رواه أبو داود، 4360، و النسائي، 709، وأحمد، 20928)

“Dari Sa’id bin Musayyab D ia berkata, “Suatu ketika Umar berjalan kemudian bertemu dengan Hassan bin tsabit yang sedang melantunkan syair di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab, “Aku telah melantunkan syair di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia darimu”, kemudian ia menoleh kepada Abu Hurairah D. Hassan melanjutkan perkataannya,“Bukankah engkau telah mendengarkan sabda Rasulullah J, “Jawablah dariku, ya Allah mudah-mudahan engkau menguatkannya dengan Ruh al-Qudus”. Abu Hurairah menjawab,“Ya Allah, benar (aku telah mendengarnya).” (HR. Abu Dawud [4360] al-Nasa’i,[709] dan Ahmad [20928]).

Mengomentari hadits ini, Syaikh Isma’il al-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair yang berisi puji-pujian, nasehat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid. (Irsyad al-Mu’minin Ila Fadha’ili Dzikr Rabb al-‘Alamin, hal. 16).

Kedua, dari sisi syiar dan penanaman akidah umat. Selain menambah syiar agama, amaliah ini merupakan strategi yang sangat jitu untuk menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat. Karena di dalamnya tersebut terkandung beberapa pujian kepada Allah SWT, dzikir dan nasehat.

Ketiga, dari aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dalam hal ini, tradisi yang telah berjalan di masyarakat tersebut dapat menjadi semacam warming up (persiapan) sebelum masuk ke tujuan inti, yakni shalat lima waktu.

Manfaat lain adalah (keempat), untuk mengobati rasa jemu sembari menunggu waktu shalat jama’ah dilaksanakan. Juga agar para jama’ah tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu ketika menunggu shalat jama’ah dilaksanakan.

Dengan beberapa alasan inilah maka membaca dzikir, nasehat, puji-pujian secara bersama-sama sebelum melaksanakan shalat jama’ah di masjid atau di mushalla adalah amaliah yang baik dan dianjurkan. Namun dengan satu catatan, tidak mengganggu orang yang sedang melaksanakan shalat. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing masjid dan mushalla dimaksud.

Sujudku (By Farel)

SUJUDKU

Ciptaan : Dody Iskandardinata



Mencintaimu dengan sluruh hatiku
Mengharapkanmu di kala jiwaku sepi
Bila larut malam mata tak terpejam
Aku hampa tanpa cahyamu di sini


*) Air mataku hanya untuk sang kekasih
Bulir peluhku sbagai tanda sungguhku
Tiada tergantikan di semesta ini
Cintaku pada Allah dan pada Rasul


#Reff
Sujud keningku di tanah ini
Terburai rasa indah padamu
Ingin kuberjumpa ingin kumemandang
kumemang merindu
wahai sang penuntun jiwa


= kembali ke *)

Silakan menikmatinya :

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=QrGpcCat3Wc&w=320&h=215]

Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain An-Nifari

Sufi besar ini lahir di Iraq. Ketinggiannya ilmunya melampaui Rumi dan al Hallaj. Ia adalah teoritikus sufi sekaligus sastrawan besar. Nama mistikus an-Nifary mungkin agak asing ditelinga kita.Tidak seperti al Bustami maupun al Hallaj, ia seakan kurang begitu terdengar. Padahal di mata ahli tasawuf pandangan-pandangan sufistiknya sangat berpengaruh. Para sufi sesudahnya banyak yang mengikuti jejak pria kelahiran Iraq ini.

Walau lirih, An-Nifary telah meninggalkan tapak-tapak yang tidak kalah penting dibanding al Hallaj maupun al Bustami.Bahkan dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Meskipun sosoknya bisa dibilang agak sulit, tetapi dirinya menjadi tokoh panutan yang tiada banding.

Bernama lengkap Muhammad ibnu Abd Jabbar bin al Husain an-Nifary, dikenal tidak hanya sebagai seorang sufi saja. Dunia kesusastraan telah menempatkan dirinya dalam pada puncak kemasyhuran. Kehidupan tokoh ini sulit terlacak. Di duga ia dilahirkan di Basrah Iraq dengan tanggal dan tahun yang sulit ditemukan. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri. Disamping itu kesehariannya lebih dikenal sebagai sosok pengelana.

Kesohor sebagai pengembara menjadikan pengamat sufisme Dr. Margareth Smith menjulukinya sebagai Guru Besar di Jalan Mistik Sifat itu membikin karya-karyanya jarang terlacak. Kalaupun sekarang ada, tak lebih dari jasa orientalis Inggris, Arthur John Arberry. Pengamat Islam ini berhasil menerjemahkan beberapa karyanya tahun 1934. Meski demikian tidak banyak karya-karyanya yang terlacak. Pengembaraan menjadi salah satu cirinya. Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraannya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi.

Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua kelebihan. Di dunia sastra sufi, an-Nifary sama seperti ar Rumi maupun maupun al Aththar. Dibanding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufis. Kedua, ia seorang teoritikus mistik.

Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Niffrari berderet diantara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Tuhan. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:

Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan

Sifat pasrah berhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Tuhan akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam sholat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.

Pemahamannnya yang tinggi terhadap tasawuf menempatkannya dalam deretan teoritikus mistik sepanjang zaman. Ada yang berpendapat bahwa an-Nifary mempunyai kemiripan dengan al Hallaj. Keduanya telah mencapai Wahdatusy Syuhud (Penyatuan Penyaksian). Bedanya hanya soal kehati-hatian. An-Nifary cenderung lebih hati-hati untuk tidak mengatakan seperti al Hallaj atu al Bustami. Kalau al Hallaj mungkin lebih memilih untuk berkata ,” Akulah al Haq!”. Atau al Bustami dengan kredonya yang terkenal, “Mahasuci daku, alangkah agungnya perihalku.”

Al Hallaj dalam menanggapi perjalanan spiritualnya sering kali terlihat menimbulkan kontroversi. Bahkan gara-gara pencapaiannya ini, ia dihukum mati. Berbeda dengan al Bustami maupun an-Nifary. Dua sosok ini lebih hati-hati dalam mengungkapkan pencapaian-pencapaian spiritualitasnya. Walau begitu kesalahan pemahaman terhadap keduanya juga sering bermunculan.

Karya-karya an-Nifary

Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati- hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola berfikir yang jitu.

Ada sebuah karyanya yang penting dan dapat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul al Mawafiq wal Mukhthabat ( Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.

Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pendapat satu-satunya pemberi syarah karya an-Nifary, Afifuddin at-Tilmisani bahwa ia tidak menulis sendiri karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spiritualnya pada sang anak. Atau ia hanya menulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu. Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah.

Dalam bagian pertama kitab ini diterangkan maqam, posisi atau tempat berdiri seseorang. Mawafiq yang merupakan jamak dari mauqif menunjukkan posisi seseorang dalam tingkatan spiritualitas. Posisi itu sendiri disebut waqfah. Menurutnya waqfah ini merupakan sumber ilmu. Tentang hal ini Dr.Fudholi Zaini menulis,” Waqfah adalah ruh dari ma’rifat, dan pada ma’rifat adalah ruh dari kehidupan. Pada waqfah telah tercakup di dalamnya ma’rifah, dan pada ma’rifah telah tercakup di dalamnya ilmu. Waqfah berada dibalik kejauhan ( al ab’ud ) dan kedekatan (al qurb), dan ma’rifah berada dalam kedekatan, dan ilmu ada dalam kejauhan. Waqfah adalah kehadiran Allah dan ma’rifah adalah ucapan Allah, dan ilmu adalah tabir Allah. Dengan demikian urutan dari besar ke kecil sebagai berikut: waqfah, ma’rifah dan ilmu.”

Proses penyaksiaan ini menjadi hal yang sangat pribadi. Bila orang mencapai maqam tinggi, perkataannya bisa menjadi sesuatu yang tidak jelas dan sulit dimengerti. Bahkan dalam beberapa hal sukar untuk dikomunikasikan. Maka dari itu an-Nifary memilih diam ketika melewati tahapan spiritualitasnya. Baginya kata-kata tidak pernah bisa menampung penglihatannya.

Dalam kitab ini juga diterangkan tentang ilmu dan amal perbuataan atau makrifat dengan ibadah. Ia mengatakan berpendapat hakekat ilmu adalah perbuatan. Hakekat perbuatan adalah keihlasan. Hakekat keikhlasan adalah kesabaran, dan hekekata kesabaran adalah penyerahan. Baginya hehekat tidak akan terbentuk kecuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya kerterkaitan antara syariat dan hakaket menjadi penting artinya.

Sedang dalam al Mukhathabat (bagian kedua) berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam diri sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap. Menutut Dr.Fudholi Zaini, kitab al Mukhathabat ini biasanya diawali dengan ungkapan”Ya abd!” (Wahai hamba). Di tulis juga dalam kitab ini bahwa ilmu menempati posisi yang utama. Semua jalan menuju Tuhan harus lewat ilmu.

Tak salah kalau AJ Arberry memandang an-Nifary sebagai teoritikus ulung. Spiritualitas di tangannya bisa lebih dipahami. Dengan pengungkapan melalui bahasa sastra yang indah, beberapa pokok pandangan sufistiknya mengalir lancar. Sebagai ulama yang sangat memegang syariat, cara bertuturnyapun cenderung tidak melewati aturan. Emosi pengembaraan spiritual tergambar pelan-pelan menuju puncak Ilahiyah.

Kata-kata Bijak an-Nifary

Membaca ujaran-ujaran an-Nifary kita akan melihat cara pandangnya. Beberapa pemikirannya tentang ilmu, tabir sampai persaksian dengan Tuhan berhasil dijelaskan. Tidak ada kata yang meledak-ledak. Padahal simbol dan makna yang diungkapkannya kadang terasa aneh dan gelap. Berikut beberapa ujaran an-Nifary yang berhasil dihimpun oleh pengamat sufisme Margareth Smith sebagaimana ditulis dalam buku ujaran-ujaran dan Karyanya :

“ Keabadian melagukan pujian kepada-Ku dan ia adalah salah satu sifat-Ku yang wajib melakukan hal itu, dan telah Aku ciptakan dari pujiannya malam dan siang dan telah Aku buat keduanya dalam selubung-selubung yang merentang mengelilingi mata dan pikiran manusia, dan mengelilingi benak dan kalbu mereka. Malam dan siang adalah dua selubung yang saling merentangi semua yang telah Aku ciptakan, tetapi karena Aku telah memilihmu untuk Diri-Ku, telah Aku angkat kedua selubung itu agar kau bisa melihat Ku dan kau telah melihat Ku , karenanya berdirilah dihadapan Ku dan teruslah dalam penglihatan Ku, karena kau tidak akan terpisah oleh sesuatu yang tak mungkin megak dan serahkanlah hanya kepada Ku semua yang pernah Aku wujudkan kepadamu.”

Disamping itu juga ditulis,” Tuhan berkata kepadaku : “Tanyakan kepada-Ku dan katakan,” Duhai Tuhan , berapa lama aku harus berpegang teguh kepada Mu , agar ketika hari pembalasan tiba, engkau tidak menghukumku dengan hukuman Mu dan Engkau tidak berpaling dariku ?” Dan Aku akan berkata kepadamu ,” Berpegang teguhlah pada hukum agama (Sunah) dalam pengetahuan dan tindakan, dan perpegang teguhlah engkau pada ilmu yang telah Aku berikan kepadamu kedalam kalbumu, dan ketahuilah bahwa ketika Aku menjadikan diri Ku terlihat olehmu, Aku tidak akan menerima darimu dari apa yang datang kepadamu dari penjelmaan Ku yang terlihat untukmu, karena kepada kaulah Aku telah berbicara. Kau telah mendengarkan Ku, kau mengetahui bahwa kau mendengarkan Ku dan kau memahami bahwa semua benda berasal dari Ku

Sedang Dr.Fudholi Zaini menerjemahkan beberapa ujarannya sebagai berikut:

“Ia menghentikanku dalam posisi kebangggan dan berkata kepadaku: Akulah yang lahir dan tak ada yang tampak dariku. Dekatnya tak bisa memantauku dan wujudnya tak bisa menujukku. Akulah penyembunyi yang batin dan aku lebih tersembunyi darinya. Dalilnya tak bisa melacakku dan lorongnya tak sampai kepadaku.

Kebodohan itu tabirnya penglihatan dan ilmu juga tabirnya penglihatan. Akulah yang lahir tanpa tabir dan hijab, dan akaulah yang batin tanpa singkap. Siapa yang telah mengenal hijab maka ia akan segera menjelang singkap.” Selanjutnya ia menulis, “ Kedirian seorang waqif adalah diamnya. Kedirian seorang arif adalah ucapannya. Kedirian seorang alim adalah ilmunya.”

Itulah salah satu kalimat dari beberapa karya an-Nifary. Kata-kata diatas mengambarkan pemaknaan yang cukup dalam tentang pengetahuan dan makrifat. Tiap kali bertambah ilmu serta makrifat, semakin sedikitlah kata-kata yang bisa diungkapkan. Yang ada hanya ketakjuban akan pesona keindahan dan kebesaran Sang Segala Keindahan.

sumber :

http://sufinews.com

Tembang Lir Ilir : Carilah Bekal Meski Itu Sulit

Pengantar
Tembang “Lir Ilir” demikian populer di kalangan masyarakat Jawa. Bahkan muncul beragam versi tembang maupun pemaknaannya. Salah satu penafsiran atas tembang tersebut adalah kaitannya dengan konteks perkembangan Islam di tanah Jawa di masa kerajaan Demak. Bahwa syair ijo royo-royo merupakan deskripsi akan keberhasilan penyebaran Islam. Namun, dalam pandangan saya, tembang lir ilir adalah tembang yang memuat pesan atau seruan kepada manusia untuk selalu mempersiapkan diri menyongsong kehidupan akhirat kelak.

Beberapa kata yang dipilih memiliki makna spesifik yang bisa dimaknai beragam. Seperti kata ijo royo royo, bocah angon, belimbing, dodot dan lainnya. Namun buat saya pemilihan kata penganten memberi ketegasan makna bahwa tembang Lir Ilir ini adalah pesan ajaran tentang mencari bekal di kehidupan dunia untuk akhirat di kemudian hari.

Syair

 Lir ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo
Tek sengguh penganten anyar

 Bocah angon, Peneko blimbing kui
Lunyu-lunyu peneko
Kanggo masuh dodot iro

 Dodot iro, kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono
Kanggo sebo mengko sore

 Mumpung jembar kalangane
Mumpung padang rembulane
Yo..surako..surak....(Hiyo)

Pembahasan

“Tandur” sebagai Lambang Proses Kehidupan
Kehidupan manusia di dunia adalah proses, dari dalam kandungan, kemudian lahir bayi, anak-anak, remaja, muda, dewasa, tua dan mati. Itu adalah proses alamiah yang wajar dan lazim. Semua manusia selalu mengikuti proses yang demikian. Demikian pula “tandur” adalah sebagai simbol proses kehidupan, dimana masyarakat Jawa menanam (tandur) benih, tumbuh, berbuah dan mati. Untuk bisa melalui proses tersebut, manusia bekerja, beraktivitas yang bertujuan untuk bisa hidup wajar dan layak dalam kehidupan.  Itu semua adalah Lir Ilir, upaya-upaya untuk berproses, bertumbuh dan berkembang. Sampai pada tahap tertentu, manusia sudah mulai menunjukkan identitas diri sebagai manusia dan makhluk sosial. Tanamannya sudah mulai menampakkan diri. Tanaman padi yang ditanam sudah kelihatan jelas akan berbuah, sudah ditiup angin ke sana kemari (tandure wus sumilir) dan benar-benar subur tumbuh berkembang dengan baik (ijo royo-royo). Tahap ini dalam proses manusia adalah tahap dewasa, meski belum berbuah. Kondisi dalam usia-usia tersebut sudah mulai kena terpaan angin, namun jelas sebagai manusia ada upaya untuk tetap bertahan dan bisa melalui terpaan angin tersebut. Jika itu hanya angin semilir tentu tidak membahayakan. Sebelum petaka yang lebih besar datang, maka dinasehatkan mengingat akan kematian (tak sengguh penganten anyar).

“Penganten” sebagai Lambang Kematian
Orang Jawa seringkali menafsiri penganten itu sebagai kematian (dalam tafsir mimpi). Mengapa? Penganten adalah wujud bersatunya dua jiwa dalam ritual sakral. Istri atau suami dari proses tersebut disebut sebagai garwo (sigarane nyowo atau belahan jiwa). Manusia hidup di dunia ini ibaratnya jiwa yang masih belum genap atau sempurna. Kesempurnaan itu jika sudah mati dan memasuki alam barzah dan tersibaknya tabir rahasia kehidupan. Hakikat kehidupan manusia di dunia terbuka dengan gamblang di alam tersebut. Kembalinya kesadaran sempurnya tersebut akan terjadi setelah proses “penganten” atau kematian. Jiwa yang meninggalkan dunia akan menemukan pasangannya sehingga kesadaran hakiki diraihnya. Namun, sekali lagi itu bukan proses yang otomatis. Tercapainya kondisi tersebut dapat tercapai hanya dengan persiapan yang matang di dunia. Oleh karena itu perlu mengupayakan meski itu susah payah. Sebab itulah tugas manusia yang sebenarnya di dunia ini.

“Bocah Angon” sebagai Lambang Pendidik
Tugas manusia adalah sebagai penggembala, pendidik bagi dirinya (jiwanya) sendiri agar bisa kembali pulang dalam keadaan selamat. “Bocah angon” atau penggembala bertugas membawa ternak-ternaknya mencari makan. Tetapi jauh lebih penting dari itu adalah mengembalikan ternak ke dalam kandang asalnya. Tiadk sekedar urusan makan dan minum sebagai upaya untuk bertumbuh dan berkembang. Agar bisa mengembalikan ternak (jiwa) tersebut ke tempat asal dengan baik, maka manusia harus mencari petunjuk, ajaran atau bimbingan (blimbing).

“Blimbing” sebagai Lambang Islam
Kata “blimbing” dekat dengan kata “bimbing”, sehingga buah blimbing tidak sekedar bermakna untuk menyegarkan atau kesenangan dalam hidup. Suatu saat bisa menjadi obat, seperti blimbing wuluh yang tidak ada sudut. Bimbingan dengan lambang “lima belahan” pada buah blimbing merujuk pada ajaran dan bimbingan Islam, yakni rukun Islam. Inilah fondasi ajaran untuk bisa menjadi penggembala yang baik yang bisa memulangkan jiwanya, mengantarkan kepada pelaminan hakiki. Namun disadari bahwa untuk mendapatkan itu tidak mudah, licin dan banyak rintangan (dari semut atau rang-rang). Jika tidak hati-hati bisa jatuh dari pohon. Maka lunyu-lunyu penekno, meski licin tetaplah panjat pohonnya untuk mengambil blimbing tersebut. Untuk apa buah itu?

“Dodot” sebagai Lambang Raga (Kehidupan Dunia)
Buah blimbing yang didapat adalah untuk mencuci pakaian (masuh dodot). “Dodot” adalah lambang diri, raga. Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, jiwa manusia terhalangi oleh kotoran-kotoran yang ada, sudah terlumuri oleh dosa karena terkena dampak kehidupan (kumitir) sehingga jiwa itu rusak (bedhah ing pinggir). Oleh karena itu perlu dibersihkan, ditambal, diobatai (dondomono) dan diperbaiki, diperindah (jlumatono) melalui bimbingan Islam untuk menghadap kepada Sang Khaliq (sebo).

“Sebo” sebagai Lambang Menghadap
Kematian adalah pintu menuju proses mempertanggung jawabkan amal dalam persidangan Sang Khaliq. Sebuah perjamuan (sebo), pertemuan dengan Sang Pencipta. Perjamuan tersebut akan terjadi ketika manusia sudah tutup usia (mengko sore). Tembang ini mengajarkan bahwa pertemuan tersebut harus disiapkan seperti yang sudah diuraikan sebelumnya.

“Jembar Kalangane” sebagai Lambang Keleluasaan Gerak (atas Ruang)
Konteks lagu ini adalah dinasehatkan kepada semua manusia, baik muda, tua atau lanjut usia. Namun diingatkan bahwa perlu diingat bahwa upaya mencari bekal kehidupan akhirat kelak harus dimulai saat ini (apalagi jika masih muda usia). Selagi manusia masih bisa berbuat banyak (jembar kalangane). Dengan demikian, bukan soal usia, tetapi soal kesempatan yang ada. Kalangan itu liang lahat. Jadi kalau sudah sempit seperti di kubur ya sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

 “Padang Rembulan” sebagai Lambang Kejernihan Pandangan (atas Waktu)
Padang Rembulan (terang bulan), malam yang baik untuk “melekan”, berjaga dan beraktivitas. Padang bulan, sebagai simbol keleluasaan waktu meski sudah malam (sebab terang bulan yang puncak pada tengah malam). Oleh karena itu nasehatnya selagi masih ada waktu maka berusalah mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak.

“Surak” sebagai Lambang Respon
Anda mungkin pernah mendengar baris terakhir ini “yo surako...surak hore”.. atau surak hiyo atau surak hayo. Ini adalah respon atar pesan, ajakan dari tembang Lir Ilir. Kita bisa menanggapi hanya sekedar rame-rame atau nggih boten kepanggeh (ya tapi tidak serius atau sekedar hore saja), atau hayo mengajak orang lain (kurang perhatian pada diri sendiri) atau hiyo (iya...sanggup dirinya melakukan dan berusaha).

Penutup
 Sebuah tembang, tidak sekedar memberi keindahan dan kesahduan nada, tetapi diciptakan dengan membawa pesan sebuah ajaran atau ajakan kepada kebajikan. Semoga kecintaan kita pada tembang Li Ilir bisa membuka kesadaran untuk menerima pesan mulia tersebut.