Berguru (1)

Tulisan sebelumnya menggambarkan bagaimana pemuda itu bertemu dengan guru. Dan sepakat, bahwa sang pemuda siap dibimbing oleh guru. Titik kedatangan pemuda dalam kesadarannya dengan beban dosa yang demikian banyak, mendorong meminta nasehat kepada gurunya :

Guru : “saudaraku, engkau datang ke sini dengan beban dosa yang kau akui demikian berat. Aku tak mampu membersihkan itu semua. Aku hanya sekedar memberi tahumu soal apa yang bisa kau lakukan...itu saja”

Pemuda : “guru, bagiku itu sudah cukup. Itu semua adalah bebanku, tanggunganku. Hingga aku sendiri yang harus membersihkannya. Lantas apa yang harus aku lakukan?”

Guru : “bertasbihlah....subhanallahil ‘adliim. Lakukan itu terus menerus, dalam setiap langkahmu, tarikan nafasmu, segala posisimu..”

Pemuda : “bagaimana itu bisa membersihkan dosa-dosaku? Bukankah bertobat dan minta ampun yang hendaknya kulakukan?”

Guru : “pendapatmu tidak salah saudaraku. Tapi tahukah engkau yang kaumintakan ampun? Benar-benar pahamkah engkau dengan dosamu? Kenalkah engkau kepada siapa meminta ampunan?”

Pemuda : “guru....jelaslah Allah swt. yang menjadi tempat permohonan ampun dan tobat...”

Guru : “begitu kenalkah engkau kepadaNYA? Sehingga engkau justru jatuh pada kubangan dosa?, maka kenalilah dulu DIA,...melalui proses meMahasucikanNYA....lakukanlah saja, hingga merasuk dalam jantungmu, hingga kau benar-benar tahu posisi dirimu, ingat posisi dirimu...”

Pemuda : “baiklah guru......saat ini, entah mengerti atau tidak. Entah paham atu tidak, akan aku lakukan semampu dan sebaik mungkin, hingga aku bisa mencapai apa yang dinasehatkan....mohon do’a restu....”

=== bersambung

Bertemu Guru

BERTEMU GURU

Seorang pemuda, tapi sudah tidak muda sekali, sudah melewati 30. Begitu gelisah akan dirinya. Sudah banyak dosa yang dilakukan. Besar sekali dosa yang dilanggar. Begitulah beban dalam dada yang menyesakkannya. Tak seorangpun tahu soal itu. Tapi bagaimanpun ia yakin pasti ada yang tahu. Dari hari ke hari, selalu itu saja yang menjadikannya susah menerima nasehat. Semua baginya sia-sia. Tak ada solusi dan mampu menghentikannya untuk berhenti dari kubangan dosa dan lingkarannya.

Melalui seorang kawan lamanya ia diberi arah. Tak ada nasehat atau petuah, memang kawan tersebut tak tahu duduk soalnya. Yang ia tahu, bahwa sahabatnya sedang bermasalah. Hanya itu saja. Petunjuk arah adalah menemui seseorang yang dianggapnya tua, punya banyak ilmu dan nasehat. Sangat layak dijadikan penasehat atau guru yang mulia.

Maka, berjalanlah pemuda tersebut ke arah yang ditunjukkan sahabatnya. Sebuah desa, di kaki gunung mati. Gunung laki-laki di Jawa Timur. Tidak susah mencari namanya. Seorang pecinta, layaknya tokoh Arjuna dalam pewayangan diusia senja atau dalam keadaan pendeta. Di sebuah batu mulia sebagai tempatnya, tempat bertemunya pemuda itu dengan gurunya.

Guru : “saudaraku, sebelum terlalu panjang kau bercerita tentang persoalanmu, ijinkan aku bercerita...”
Demikian, guru tersebut memotong perkenalan pemuda tersebut.

Pemuda : “silakan bapak....”
Guru : “ketahuilah saudaraku, jauh sebelum aku menguasai dan mengenal banyak ilmu, justru denganmulah aku mengenal. Bahwa diriku dulu mendapat tugas untuk mendampingimu, meluruskanmu. Entah apa itu semua, aku hanya diberi tanda dan gambaran tentangmu. Maka saat inilah waktu yang telah dijanjikan kepadaku untuk bertemu denganmu...”

Pemuda : “ oh ...sungguh demikian pentingkah diriku, pak?””
Guru : “entahlah, aku hanya yakin atas petunjuk itu. Dan keyakinanku selama ini selalu bertemu pada sebuah kebenaran, dimana aku sendiri sebelumnya tidak mengetahui, maka ijinkanlah aku menjadi kawan dalam perjalananmu, sudilah engkau menerima diriku ini, sehingga tak ada beban yang harus aku pertanggungjawabkan kelak...bagaimana?”

Pemuda :”baiklah guru.... sumonggo”
Guru :”bukankah selama ini 3 hal yang saudara cari? Kecukupan dalam ekonomi sehingga kau mampu membahagiakan keluargamu, kedekatan kepada Allah, dan manfaat terhadap sesama?”
Pemuda :”sungguh guru, begitu bijaksana dalam memahami diriku, meski belum banyak yang saya sampaikan...”
Guru :”jika bersedia, maka ijinkan saya untuk membantumu dalam menemukan jalan lurus mencapai itu semua....”

Demikianlah pertemuan awal, pemuda dengan gurunya. Tak pernah menyebut murid, tetapi memanggil saudara. Dan sebaliknya si pemuda tetap menyebut sebagai guru. Dan itu berlangsung terus sampai pada akhir bimbingan nanti.

== bersambung.

Memahami Tuhan

Orang-orang jahiliyah (kafir quraisy), keliru dalam meyakini siapa Dzat yang Mutlak dan Wajib disembah. Mereka menempatkan berhala sebagai DIA yang Mahakuasa. Pengetahuan akan Allah hanyalah sekedar sebutan dan nama. Ada logika yang benar-benar salah dalam mengkonsepsikan Tuhan. Sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak bisa berbuat apa-apa diyakini sebagai Tuhan.

Sementara itu, logika yang sebaliknya, Namrud dan Fir’aun, sangat fatal dalam melihat dirinya, sebagai manusia yang mempunyai banyak kehebatan sebagai Yang Mahakuasa. Kekuasaan mereka bisa membunuh, membebaskan tahanan dari hukuman kematian diyakini sebagai kekuasaan menghidupkan dan mematikan manusia, laiknya Tuhan belaka.

Ketakjuban pada kehebatan manusia, pada sisi lainnya, menjerumuskan kaum nashrani menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan itu sendiri (paling tidak sebagai anak Tuhan). Kesesatan logika, konsepsi terhadap Zat Mahakuasa yang seharusnya tak ‘kan pernah bisa diserupakan dengan sesuatu apapaun diseluruh alam, baik nyata maupun alam pikir, benak dan imajinasi manusia, sudah dibongkar oleh manusia-manusia terpilih jauh sebelum Nabi Muhammad saw.

Ibrahim a.s adalah orang yang berusaha memahami konsepsi Tuhan dengan jalan logis, melalui jalur induksi, perbandingan dengan puncak bahwa Tuhan adalah Zat Tertinggi yang tiadabandingnya dengan seluruh semesta raya. Dia adalah Esa, tak ada satupun yang menyerupainya. Maka dengan apa yang sudah dipahaminya, Ibrahim a.s mampu membungkam Namrud yang memandang dirinya paling berkuasa dengan logika perbandingan pula.

Musa a.s adalah manusia yang menyadari dengan benar keterbatasan manusia untuk mengurai konsepsi Tuhan dengan pembuktian empiris obyektif. Dengan itu pula dia menghancurkan keyakinan Firaun akan dirinya sebagai tuhan, bahkan membuka mata para penyihir Fir’aun dengan sebuah perlawanan keajaiban. Musa sekali menegaskan bahwa pembuktian empiris obyektif terhadap Zat Tuhan akan gagal total.

Nabi Muhammad saw. datang dengan penguatan-penguatan akan apa yang sudah dilalui oleh sejarah manusia sembari menata dan memperbaiki keadaan. Pembuktian empiris obyektif terhadap ketaklayakan berhala sebagai Tuhan digunakan. Perbandingan-perbandingan akan kuasa alam semesta, terhadap Zat Mahakuasa mengarahkan kepada penempatan dan perlakuan yang layak bagi semuanya. Begitulah beliau menempatkan kakbah sebagai kiblat, memperlakukan malaikat sebagai kawan, memandang iblis sebagai lawan yang tak harus dimusnahkan, memahami nafsu sebagai potensi kebaikan dan kesesatan, memperlakukan orang saleh sebagai kekasih Tuhan, dan tidak terjebak pada ketakjuban diri. Demikianlah nabi Mauhammad saw. tetap kukuh sebagai manusia, sebagai utusan dan selamanya akan demikian. Laa ilaah illallah Muhammad Rasulullah.

Tuhan tetaplah Tuhan, dan manusia tetaplah manusia. Selamanya tidak akan pernah bergantian posisi, bagaimanapun keadaan zaman. Muhammad saw, telah mengajarkan kita dalam melihat dan memperlakukan alam dan seisinya.Perlakukan untuk penyamaan kekuasaan alam dengan Tuhan jelas tidak layak. Cara pandang seperti inilah yang perlu mendapat perhatian, bukan pada bentuk penyerupaannya. Bisa jadi apa yang dilakukan manusia adalah sujud terhadap batu kotak (kakbah), namun apakah berarti dia menyembah batu itu? Mencium batu hitam (hajar aswad) bukan pula bentuk penyucian/pengkultusan terhadapnya, namun ada penempatan batu tersebut sebagai sebuah makna bagi yang menciumnya.

Maka, soal keimanan kepada Tuhan yang layak adalah bagi mereka yang sudah dewasa, baik logika dan pemahaman akanNYA. Bagi mereka yang sudah mampu mengenal dirinya (sebagai makhluk dan bagian semesta), tentu jauh lebih bisa memahami bahwa Tuhan adalah Zat yang takterserupakan dengan apapun yang terlihat dan terlintas oleh manusia. Jika terpaksa disampaikan kepada anak-anak, maka berhati-hatilah dalam menyampaikannya.

Wallahu ‘alamu bisshowab

Generasi 5 Centi

Sepanjang sejarah akan selalu ada generasi para ahli ilmu 5 centi. Istilah tersebut untuk menunjukkan kepada mereka yang sangat ahli dalam bidang ilmu tertentu, tetapi hanya teori belaka. Ilmu dan wawasan yang demikian banyak hanya sebatas dalam otak (sepanjang kepala saja = 5 centi). Mereka tidak mempunyai pengalaman langsung dalam keilmuwan yang katanya sangat dikuasai. Bicaranya cas cis cus, seolah-olah sangat mahir dalam ilmu, tapi hanya teori belaka.

Banyak yang bergelar sarjana pendidikan (misalnya), tetapi tak punya pengalaman dalam bidang kependidikan, katakanlah menjadi guru, menjadi TU di sekolah atau yang berkutat soal pendidikan. Anda akan menemukan banyak permisalan dari generasi 5 centi tersebut dalam lingkungan sekitar.

Parahnya, inipun terjadi dalam dunia  keagamaan. Banyak dalil yang disampaikan, banyak hujjah yang diajukan, bahkan parahnya banyak vonis dialamatkan. Tapi apakah mereka benar-benar mengenal seluk beluk yang dibantah? Menguasai yang divonis? Semua hanya berdasarkan imajinasi atas dasar teori yang dikuasai, hanya 5 centi.

Maka, jangan heran, di negeri manapun ketika para generasi 5 centi ini menjadi pemimpin, yang terjadi hanyalah huru-hara, gegap gempita celotehan bualan dan omong kosong belaka.

Perhatikanlah mereka para petani yang tiap hari berlumpur, berkeringat hanya memperoleh ilmu “sedikit”, ilmu pranata mangsa, kapan saatnya menanam, kapan saatnya harus memanen. Meski itu semua bisa berubah, tetapi mereka jauh lebih memahami persoalan pertanian.

Lihatlah para penempuh jalan tasawuf. Mereka hanya taklid, hanya percaya kepada guru yang membimbingnya. Tapi dalam kesehariannya mereka selalu mengoreksi diri, menyucikan hati, sambil terus mencari kesejatian hakiki.
Mereka adalah yang menguasai ilmu setinggi badan. Ya setinggi badan, sepanjang jalanlah ilmu mereka. Berbekal teori yang sedikit, mereka menguasai hal yang banyak. Bisa mengecap peliknya teori, mampu mengurai kata, memahami sesama.
Maka, pada posisi di manakah kita? Sebagai generasi 5 centi atau setinggi badan???

*) Terinspirasi dari Reynald Kasali


Mau Berdakwah ????

Berdakwah itu mengajak orang lain kepada kebaikan,
Sehingga menjadi baik, karena mau melakukan kebaikan
yang anda sampaikan

Berdakwah bukan menyampaikan apa yang kalian anggap baik,
Berdakawh bukan mendesak orang lain percaya kepada kebaikan itu
Berdakwah sekedar bercerita tentang pengalaman anda
Berdakwah sekedar kesediaan menjadi kawan bagi yang lainnya

Berdakwah itu bukan teori, tetapi pengalaman
Berdakwah itu bukan dalil, tetapi pembuktian
Berdakwah itu bukan seruan, tetapi pendekatan
Berdakwah itu bukan ancaman, tetapi pengayoman

Berdakwah tidak masalah tunjuk salah
Berdakwah bukan sekedar unjuk benar

Berdakwah ya hanya berdakwah
lain bukan...

TAQLID : why NOT???

“KEMBALI PADA AL QUR’AN DAN SUNNAH. PINTU IJTIHAD TERBUKA LEBAR. SIAPAPUN BISA MELAKUKAN. TINGGALKAN TAQLID BUTA”

Sepintas, ajakan ini nampak indah. Namun di dalamnya banyak jebakan mematikan

Pintu ijtihad memang terbuka lebar. Akan tetapi tidak semua orang dapat memasukinya. Ijtihad hanya boleh dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami Al Qur’an dan Sunnah. Benar-benar memahami, bukan hanya bermodal terjemah Al Qur’an Hadits

Berikut ini contoh dialog antara mujtahid gadungan dengan muqollid

Benarkah anda berijtihad? Mengambil hukum langsung dari al qur’an dan sunnah Nabi?

Kemungkinan jawaban : Ya

+ : Dalam hal apakah dalam urusan agama anda berijtihad?

- : Semua hal

+ : Semua hal? Yakin?

- : Iya. Yakin. Semua yang saya lakukan saya sesuaikan dengan Al Qur’an dan Sunnah

+ : Baiklah. Andai seorang wanita mendatangi anda, bertanya tentang masalah haid yang dialaminya. Wanita tersebut mengalami mengeluarkan darah haid yang berlangsung selama 60 hari berturut-turut. Mana yang masuk dalam kategori haid dan mana yang istihadhoh? Jawablah berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, jangan bertaqlid pada siapapun. Metode apa yang anda pakai dalam beristinbath?

- : Itu urusan wanita. Sedangkan saya tidak berijtihad dalam hal ini

+ : Seharusnya anda buat pengecualian. Anda dapat berkata, “Aku berijtihad dalam semua masalah agama, kecuali urusan haid”

- : Iya. Itu pengecualiannya

+ : Baiklah, sekarang saya bertanya tentang masalah wudlu’. Termasuk rukun wudlu’ adalah membasuh muka. Tolong jelaskan pada saya batasan muka. Panjangnya dari mana kemana. Lebarnya dari mana hingga kemana. Orang yang berjenggot, bercambang tebal apakah dia wajib membasuhkan air wudlu hingga kulitnya atau cukup pada permukaan jenggotnya. Jelaskan sesuai al-qur’an dan sunnah. Jangan bertaqlid. Bila tidak ditemukan dalam keduanya, anda boleh menggunakan metode yang tetap tidak bertentangan dengan keduanya

- : Saya rasa ini pembahasan yang panjang. Saya butuh menelaah beberapa kitab

+ : Tidak masalah bila anda perlu menelaah beberapa kitab. Tapi sayangnya wudlu ini adalah kasus yang kita temui setiap hari, bahkan setiap akan sholat. Bagaimana mungkin anda yang mujtahid baru sekarang mau menelaah masalah wudlu’? Wudlu anda selama ini hasil ijtihad atau taqlid buta?

Bila seseorang kakinya terluka, kemudian dia harus memakai pembalut. Sedangkan dokter menyarankan dia untuk tidak membasuh kakinya dengan air, karena bisa menyebabkan pembusukan, apa yang harus dia lakukan? Bagaimana cara dia berwudlu’?

- : Dia dapat mengganti pembasuhan kakinya dengan tayammum. Ayatnya jelas. Seterang matahari di siang bolong

+ : Bila lukanya terdapat pada tangan yang notabene adalah anggota tayammum, bagaimana cara dia bertayammum? Saya ingatkan anda agar tetap mengambil dalil berdasarkan ijtihad anda sendiri. Jangan berdasarkan perkataan syekh siapapun

- : Sesungguhnya agama ini tidak sulit. Namun anda sengaja menjebak saya dalam kesulitan ini

+ : Bukan menjebak. Namun sebenarnya saya mengingatkan anda bahwa anda belum layak memposisikan diri sebagai mujtahid. Fiqih ini luas, saudara! Bila dalam masalah wudlu saja anda sudah tidak mampu menjawab masalahnya, bagaimana bisa anda mengaku mujtahid dalam semua urusan agama. Para mujtahid telah merumuskan semua masalah fiqhiyah mulai A-Z secara lengkap kemudian diikuti oleh orang yang bertaqlid (muqollid). Seorang muqollid tinggal mengikuti pendapat mujtahid yang kitab-kitab mereka sudah tersebar di seluruh penjuru dunia dan diajarkan di mana-mana

Sumber : Abi Awadh Naufal

Andai Aku Seorang Lesbian

Andai aku menjadi seorang lesbian, maka akan banyak alasan yang bisa aku ajukan untuk membantah semua pihak yang menghujatku. Bahwa ketika jatuh cinta kepada lain jenis adalah sebuah kodrat, maka aku juga berargumen, mencintai sesama jenis adalah sebuah kodrat. Cinta adalah soal rasa. Kasih sayang adalah limpahan Kasih Sayang Tuhan dalam diri manusia. Bukan karena saya punya kebencian kepada lelaki, tetapi memang aku mencintai perempuan, dari jenisku. Jatuh cinta adalah kodrat, sebuah hak hakiki, dimana itu benih dalam hati yang tidak mungkin diatur oleh peraturan perundang-undangan manapun. Jadi cintaku kepada sesama jenis sama halnya mereka yang jatuh cinta kepada lawan jenis.



Seorang lesbian adalah kejam, dhalim, karena dia memusnahkan ras manusia dari muka bumi. Mereka mengajukan sebuah imajinasi bahwa andai semua manusia di muka bumi ini adalah pelaku lesbian atau gay yang suka sejenis, maka manusia tidak akan mempunyai keturunan. Kemajuan teknologi telah mampu menjawab : CLONING.. atau paling tidak BAYI TABUNG. Meski yang terakhir itu adalah pilihan sangat sulit bagi kaum sepertiku. Harus melakukan pengorbanan besar, hanya untuk urusan mengandung dari benih orang yang tidak aku cintai. Tapi demi ras manusia, mungkin akan banyak yang rela berkorban.



Pelaku lesbian hanya akan mendatangkan laknat, bencana yang bisa menimpa siapa saja. Baik pelaku lesbi atau mereka yang saleh. Orang-orang seperti dirikulah pemicu dan pengundang Tuhan murka. Apakah ini adil?  Banyak dari mereka juga melakukan maksiat, lalai dari Tuhan. Sedangkan orang seperti saya, hanya karena cinta yang tidak seperti mereka lakukan. Kami masih bisa ingat soal Tuhan, ya ingat. Dan kami masih bisa berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk lain. Jadi ketika dunia dihuni banyak manusia durhaka, harusnya tidak hanya kami yang disebut sebagai pemicu murka Tuhan. Demikian pula kami juga berhak untuk menghuni dunia ini seperti pendurhaka lainnya.



Atau mungkin mereka sudah jengkel atau memang bersabar. “Ya sudah...lihatlah azab Tuhan nanti. Pasti akan kamu rasakan jua....akibat perbuatanmu”. Maka aku jawab : “ ya sudah kalau begitu... jangan kau larang-larang aku. Toh aku tidak pernah merusak bahkan mengusik kehidupanmu....dan kamu enjoy-enjoy saja...”



Maka, dari pengandaianku ini menyiratkan bahwa menjadi lesbi adalah pilihan, dan apakah bencana atau kenikmatan yang didapat adalah buah dari pilihan itu sendiri. Maka berbahagialah bagi mereka yang telah membuat pilihan dengan tepat dan benar, baik dalam kehidupan sekarang atau nanti. Itupun jika percaya kepada hari akhir.