Tumben, Kang Yatiman pagi-pagi sekali berkunjung ke rumahku. Sudah lama sekali, sejak kunjunganku waktu lalu mengundang Haul Kyai Yahya kami tidak bertemu.
“Kang, tolong beri aku nasehat atau petunjuk...”
“Loh, sebagai kyai mosok minta bantuan orang macam saya?
“Ah, jangan gitu Kang Sakur. Sudahlah, beri saja saya petunjuk”
“Soal apa?”
“Pilpres. Menurut sampean, pasangan siapa yang harus dipilih?“
Kang Yatiman mengakui, akhir-akhir banyak warga yang bertamu atau jamaah yang hadir di majelisnya menanyakan soal itu. Maklum, sebagai kyai tentu ditunggu pendapatnya. Bagi jamaahnya, pendapatnya akan membuat tentram hati mereka.
“Ah, jaman sekarang gak usah begitu-begituan Kang”
“Lha gimana to Kang, wong mereka tetap meminta pendapatku”
“Ya, jawab saja sekenanya. Atau serahkan pilihan pada mereka. Kan beres”
“Itu dia, masalahnya, sudah saya lakukan begitu, tetap saja selalu ditanya”.
Kang Yatiman, tetap saja mendesakku untuk memberikan jawabannya.
“Wes, Kang. Begini saja. Mulai besok sampai tujuh hari ke depan, sampean saya tugasi marung, jagong di warung kopi”.
“Loh, apa hubungannya?”
“Lah, sampean minta petunjuk. Itu petunjukku. Mau ya sudah, tidak mau ya monggo. Beres.”
==
Hari pertama, Kang Yatiman njagong di warung Kopi dekat rumahnya. Seharian dia ngobrol bersama pengunjung lain. Obrolan orang-orang di sana, tak beda jauh dengan yang di rumah. Soal Pilpres tetap jadi pembahasan yang anget. Dia mencoba mencerna bagaimana sebenarnya suara orang-orang itu. Tetap saja, ada dua kubu yang saling memperkuat pilihannya masing-masing.
“Ah, sama saja. Tambah pusing saja. Di mana-mana kok soal capres yang diurus.” Begitu kesimpulannya njagong hari pertama. Demikian juga hari berikutnya, dia mencoba njagong di warung kopi yang agak jauh dari rumah. Sama saja hasilnya. Sampai hari keenam, kesimpulan itu saja terus menerus. Sampai-sampai dia mempertanyakan apa maksud dari Kang Sakur memberi nasehat tersebut.
==
Sudah hampir enam jam dia njagong di warung kopi dekat rumahnya. Itu adalah hari terakhir seperti petunjuk Kang Sakur. Tidak banyak berbeda. Sejak jam delapan pagi, yang didengar adalah obrolah soal capres dan cawapres. Semakin memuakkan saja baginya mendengar diskusi-diskusi seperti itu.
Kang Yatiman tidak menyadari, bahwa masih ada seseorang yang juga duduk di warung tersebut hampir selama yang dilakukannya.
“Kyai, saya perhatikan kok panjenengan lama sekali di warung ini,”
Sedikit kaget, “Oh, kang yanto. Ya kang, saya pengen njagong saja. Lama saya tidak njagong di sini. Padahal dekat dengan rumah.”
“Ooooh. Refreshing begitu kyai?”
“Ya, begitulah. Sampean sendiri sedang apa?”
“Kalau saya sudah biasa begini kyai. Gak ada pekerjaan. Daripada di rumah diomelin istri, mending di sini, cukup modal dua ribu bisa duduk dan ngobrol lama sekali. Nanti kalau sudah sore baru pulang”.
“Sampean kerjanya apa?”
“Gak mesti kyai, serabutan. Pekerjaan saya membuat kasur.”
“Bagus itu.”
“Nggeh, bagus. Tapi kalau sepi order begini saya dak bisa memberi uang belanja kepada istri, apalagi buat biaya sekolah anak-anak”.
“Loh, kenapa tidak datang ke rumah? Kalau pas nganggur begini. Kan dekat dengan rumah saya?”
“Malu kyai, saya tidak bisa ngaji. Jarang shalat. Apa pantas kumpul dengan mereka yang ahli ibadah dan mengaji?”
==
Baru kali ini selama masa melakukan petunjuk Kang Sakur. Obrolan ringan, tidak membahas capres, tidak membahas politik. Tetapi membahas soal pekerjaan, soal nafkah keluarga sehari-hari, soal keberagamaan. Padahal, Kang Yanto adalah tetangga dari Kang Yatiman.
Sejak obrolannya dengan Kang Yanto tersebut, Kyai Yatiman memutuskan tidak mau membahas soal capres apalagi memberi pertimbangan dalam memilih capres. Dia baru menyadari bahwa, selama ini sebagai kyai, dia terlalu disibukkan dengan urusan dan kepentingan tamu-tamunya, kepentingan mereka yang suka beribadah, suka mengaji. Tetapi lupa, kepada tetangga yang masih kekurangan ekonomi dan malu beribadah.
Warga NU Bangkit Berkali-kali
Tahun 1908 dijadikan tahun bangkitnya nasionalisme bangsa Indonesia. Budi Oetomo, sebuah organisasi kepemudaan dijadikan rujukan awal pertanda kebangkitan nasional. Namun, bagi warga Nahdlatul Ulama, kebangkitan itu terjadi berkali-kali. Sekitar tahun 1916, dari para kyai dideklarasikan Nahdlatul Wathan, kebangkitan akan cinta tanah air. Bukan sebuah ormas kepemudaan, namun ditumbuhkembangkan pada diri pelajar. Melalui perguruan Nahdlatul wathan, warga NU sudah bangkit untuk pertama kalinya. Siapa mereka? Kaum pelajar.
Kebangkitan berikutnya adalah, nahdlatututtujar, kebangkitan para saudagar. Bukan hanya karena situasi kondisi yang menuntut mereka untuk bangkit melawan kapitalisme, serbuan para pedagang besar kota, tetapi satu target lain, yakni mendukung pembiayaan bagi kebangkitan tanah air dan dakwah para ulama. Jelas sekali, para pengusaha bangkit dalam gerakan kebangsaan.
Berikutnya, meski tidak dengan nama kebangkitan (nahdlat), tetapi taswirul afkar pada hakikatnya adalah sebuah kebangkitan pemikiran. Pergolakan pemikiran menjadi tanda bangkitnya para pemikir, bangkitnya cara berpikira dalam memandang berbagai persoalan dalam bingkai kebangsaan dan dakwah.
Inilah puncaknya, jika sebelumnya para kyai, ulama menjadi motor, pengelola dan pembina, 1926 mereka benar-benar bangkit, dan lahirlah Nahdlatul Ulama. Bangkitnya kaum pelajar, kaum pedagang, kaum cendekia dan pergerakan kemudian diwadahi dalam sebuah kebangkitan para ulama. Satu tujuan dan tekad dalam bingkai kebangsaan dan menyebarkan Islam yang rahmat bagi seluruh alam.
Konteks inilah hendaknya yang dijadikan pijakan kesejarahan Kebangkitan Nasional bagi warga NU, sebuah gerakan kebangkitan yang melibatkan banyak pihak, beragam aspek dan tetap kaidah keagamaan. Kebangkitan yang tuntas atas problem hubungan agama dan negara (bangsa).
Kemudian, bangkitlah para politisi dalam wadah PKB. Ini adalah kebangkitan di era reformasi. Menghadapi masa transisi dan chaos politik menumbuhkan kebangkitan untuk sebuah partai.
Masihkah perlu bangkit kembali? Atau menunggu mati untuk bangkit yang kesekian kali?
Kebangkitan berikutnya adalah, nahdlatututtujar, kebangkitan para saudagar. Bukan hanya karena situasi kondisi yang menuntut mereka untuk bangkit melawan kapitalisme, serbuan para pedagang besar kota, tetapi satu target lain, yakni mendukung pembiayaan bagi kebangkitan tanah air dan dakwah para ulama. Jelas sekali, para pengusaha bangkit dalam gerakan kebangsaan.
Berikutnya, meski tidak dengan nama kebangkitan (nahdlat), tetapi taswirul afkar pada hakikatnya adalah sebuah kebangkitan pemikiran. Pergolakan pemikiran menjadi tanda bangkitnya para pemikir, bangkitnya cara berpikira dalam memandang berbagai persoalan dalam bingkai kebangsaan dan dakwah.
Inilah puncaknya, jika sebelumnya para kyai, ulama menjadi motor, pengelola dan pembina, 1926 mereka benar-benar bangkit, dan lahirlah Nahdlatul Ulama. Bangkitnya kaum pelajar, kaum pedagang, kaum cendekia dan pergerakan kemudian diwadahi dalam sebuah kebangkitan para ulama. Satu tujuan dan tekad dalam bingkai kebangsaan dan menyebarkan Islam yang rahmat bagi seluruh alam.
Konteks inilah hendaknya yang dijadikan pijakan kesejarahan Kebangkitan Nasional bagi warga NU, sebuah gerakan kebangkitan yang melibatkan banyak pihak, beragam aspek dan tetap kaidah keagamaan. Kebangkitan yang tuntas atas problem hubungan agama dan negara (bangsa).
Kemudian, bangkitlah para politisi dalam wadah PKB. Ini adalah kebangkitan di era reformasi. Menghadapi masa transisi dan chaos politik menumbuhkan kebangkitan untuk sebuah partai.
Masihkah perlu bangkit kembali? Atau menunggu mati untuk bangkit yang kesekian kali?
Nahdlatul Wathan : Madrasah Yang Luar Biasa
Banyak peneliti, khususnya yang mengkaji tentang Nahdlatul Ulama (NU) melihat Nahdlatul Wathan (NW) sebagai salah satu pilar dari berdirinya NU. Namun demikian, jangan sampai, karena kebesaran NU, kemudian saya dan anda menganggap kecil atau bahkan meremehkan peran Nahdlatul wathan. Marilah kita perhatikan satu pilar tersebut, meski harus tetap disadari, bahwa itu adalah hanya bagian dari rumah besar, bernama Nahdlatul Ulama.
Paling tidak ada beberapa alasan, jika kemudian saya menyebutnya sebagai madrasah yang luar biasa. Nahdlatul watahan didirikan para ulama, yang dipelopori oleh KH. Wahab Hasbullah. Pertama, ringkasnya nahdlatul wathan itu sekolah (madrasah) yang revolusioner. Saya sebut demikian, karena NW didirikan atas prinsip yang berbeda dengan mainstream waktu itu, yaitu dalam hal perjuangan melawan penjajah. Sebelum NW, sudah banyak berdiri ormas yang berupaya melawan penjajah Belanda, dengan tujuan dan strategi politik. Fokus mereka adalah perjuangan politik dan diplomasi. Di sisi lain, perjuangan fisik juga kuat bergolak di berbagai daerah. Mendirikan madrasah (perguruan) sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai target membangun nasionalisme (cinta tanah air) dalam konteks zaman itu adalah revolusioner. Ada banyak sekolah yang sudah didirikan, tetapi ditujukan mengejar kecerdasan dan kepandaian, yang juga diyakini bisa dijadikan alat perjuangan. Menegaskan sebagai perguruan cinta tanah air, bagi NW adalah pilihan yang sangat beresiko. Pada era 1916, NW didirikan di Surabaya dan kemudian diikuti di berbagai daerah. Situasi masa itu adalah sedang kuat-kuatnya kolonialisme di dunia dan Belanda dengan segala cara akan meredam gerakan perlawanan dari rakyat jajahannya. Lembaga pendidikan dengan demikian tegas sekali, dijadikan alat perjuangan kemerdekaan.
Kedua, dalam kalimat singkat, NW adalah madrasah yang komplit dan uptodate. Mengapa demikian? Menurut saya, NW dikelola secara modern, berbasis sistem klasikal dan kurikulum yang seragam di antara sekolah-sekolah di bawah naungannya. Pada masa itu pergolakan pemikiran keagamaan terjadi perdebatan, perbedaan bahkan sampai konflik antar paham. Melalui sistem pengajaran yang sistematis, NW mengajarkan dan mempertahankan paham ahlussunnah wal jamaah, dengan tetap berkiblat pada pendidikan pesantren. Demikian pula, pilihan dalam membangun nasionalisme sangat sesuai dengan kebutuhan zaman itu. Jadi, NW adalah madrasah yang mengajarkan ilmu agama, ilmu pengetahuan umum dan cinta tanah air.
Maka, yang ketiga adalah NW menjadi sumber ide, semangat dan manusia dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Banyak tokoh-tokoh nasionalis lahir dari perguruan ini. Tidak mengherankan jika kemudian, pad tahun 1945 Surabaya dipenuhi oleh para pejuang yang sangat cinta tanah air dan tidak takut pada penjajah asing.
Masa kini, tentu perlu melihat dan mengkaji apa yang sudah dilakukan oleh Nahdlatul wathan. Satu soal perlu diajukan, apakah pendidikan selama ini kemudian mampu membangun nasionalisme? Kurikulum pada akhir-akhir ini lebih dititikberatkan pada kebutuhan mencetak manusia-manusia kerja, disiapkan bisa mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan dalam industri. Tetapi kering dalam sisi nasionalisme. Tidak mengherankan kemudian, banyak profesional dan tenaga ahli lahir dari sistem pendidikan semacam ini yang melupakan naisonalisme, mudah menjual aset kepada asing, kepada mereka yang “dianggap” ahli. Padahal, kalau mau bekerja lebih keras, keahlian yang dimiliki anak bangsa ini tidak kalah dengan orang asing.
Selanjutnya, bagaimana dengan NU? Sebagai rumah besar, mari sama-sama dilihat pilarnya. Satu saja, seperti melihat Nahdlatul Wathan, apakah masih terjaga visi dan misinya? Jika penilaian anda sudah rapuh, maka yang paling masuk akal untuk menjelaskannya adalah disebabkan gerogotan rayap. Tentu itu ada pada pilar itu sendiri atau masih berada di dalam rumah. Semoga saya dan anda bukan bagian dari rayap itu.
Selamat Hari Lahir NU yang ke-91 (16 Rajab 1435 H)
Pedal dan Cinta
kupancal pedal sepeda
berharap segera berjumpa
meski gelap dan dingin udaranya
malam jumat itu biasanya
hanya agar asyik bercengkrama
yang tua kirim do’a
yang muda bermanja
sekali,
kali kedua kemudian berkali-kali
akhirnya
menjadi ritual mencari cinta
istiqomah tak berbuah hati
apa adanya tak berbunga rasa
menanam pedal memanen kecewa
Surabaya, 14/05/2013, 23:46 WIB
berharap segera berjumpa
meski gelap dan dingin udaranya
malam jumat itu biasanya
hanya agar asyik bercengkrama
yang tua kirim do’a
yang muda bermanja
sekali,
kali kedua kemudian berkali-kali
akhirnya
menjadi ritual mencari cinta
istiqomah tak berbuah hati
apa adanya tak berbunga rasa
menanam pedal memanen kecewa
Surabaya, 14/05/2013, 23:46 WIB
Antara Pilpres dan Beras
mendekati masa pilpres, perlahan namun pasti
mereka sudah meangalpakan beras
memasuki masa tanam bahkan masa panen
beras tak menjadi tema yang ngetren, kalah oleh pilpres
banyak orang, di warung kopi, di kantor,
bahkan di rumah sakit
berdiskusi soal pilpres, tapi lupa membahas beras
mereka yang sudah banyak beras,
membujuk, merayu kepada mereka yang kekurangan beras
mereka asyik berbicara capres, lupa di rumah beras hanya segelas peres
apa bedanya capres dan beras, bagi rakyat?
rakyat bisa marah, jika beras tak tersedia
dengan capres yang melimpah, rakyat juga tak bahagia
para capres harus berjuang keras untuk mendapat simpati rakyat
sementara beras, asal hadir rakyat juga beres
kadang rakyat harus mendukung capres, hanya demi beras
sementara capres tak peduli demi rakyat mendapat beras
bagi rakyat, beras bermanfaat
demi hidup sehari-hari
bagi capres, beras berguna
demi kuasa beberapa masa
beras menjadi urusan rakyat
caprespun masalah bagi rakyat
lalu, apa urusan capres?
apakah membeli suara rakyat dengan beras?
Surabaya, 14/05/2014, 22:13 WIB
mereka sudah meangalpakan beras
memasuki masa tanam bahkan masa panen
beras tak menjadi tema yang ngetren, kalah oleh pilpres
banyak orang, di warung kopi, di kantor,
bahkan di rumah sakit
berdiskusi soal pilpres, tapi lupa membahas beras
mereka yang sudah banyak beras,
membujuk, merayu kepada mereka yang kekurangan beras
mereka asyik berbicara capres, lupa di rumah beras hanya segelas peres
apa bedanya capres dan beras, bagi rakyat?
rakyat bisa marah, jika beras tak tersedia
dengan capres yang melimpah, rakyat juga tak bahagia
para capres harus berjuang keras untuk mendapat simpati rakyat
sementara beras, asal hadir rakyat juga beres
kadang rakyat harus mendukung capres, hanya demi beras
sementara capres tak peduli demi rakyat mendapat beras
bagi rakyat, beras bermanfaat
demi hidup sehari-hari
bagi capres, beras berguna
demi kuasa beberapa masa
beras menjadi urusan rakyat
caprespun masalah bagi rakyat
lalu, apa urusan capres?
apakah membeli suara rakyat dengan beras?
Surabaya, 14/05/2014, 22:13 WIB
Kang Yatiman (Ke-2)
Kudengar Kang Yatiman sekarang menjadi kyai. Memang tidak punya pesantren, tetapi sudah banyak orang bertamu, meminta nasehatnya dan tentu minta amalan-amalan doanya. Kebiasaan sowan kyai masih saja dilakukan. Sudah jarang aku diajak konsultasi, sebab kyai yang dikunjungi demikian banyak. Tihak hanya Kyai Yahya. Kyai-kyai ternama di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan Madura dikunjunginya. Maklum, dengan usaha yang digelutinya, tidak mengharuskan dia sendiri yang harus menjalankan sendiri. Tinggal telpon atau sms bisnis sudah bisa berjalan.
Temanku pernah bercerita, “Yai Yatiman itu hebat loh kang,” dia membuka kisahnya,”tidak sekedar bisa kasih do’a, tetapi dia sendiri sudah mampu membuktikan keampuhan do’anya. Dia kaya, anak istrinya juga baik. Pokoknya semuanya baik.” Tak perlu kuceritakan padanya bahwa sebenarnya kukenal Kang Yatiman. Bagi temanku tadi, Kang Yatiman adalah contoh sekaligus guru yang tepat, karena do’a-do’a yang diberikannya sudah terbukti dan semua muridnya sangat mengaguminya. “Saya tidak meragukan sedikitpun padanya,” masih lanjut temanku tadi, “banyak kyai, hanya bisa memberi amalan, sementara dia sendiri tidak bisa menunjukkan keampuhan do’anya. Saya sudah dikasih banyak do’a oleh kyai untuk bisnis, tetapi kyai sendiri tidak kaya, sedankan Yai Yatiman beda, dia sudah mencapai puncak pembuktian.” “Duh!,” batinku menyeru, “benarkah Kang Yatiman sudah menghasilkan murid-murid seperti ini, yang meremehkan para Kyai yang tidak kaya?”.
***---------
Sengaja aku mampir warung kopi yang tidak jauh dari rumah Kang Yatiman. Benar, banyak tamu yang datang ke rumahnya.”Biasanya kalau hari minggu lebih ramai mas,” ungkap si Mbok penjual kopi,”tamunya dari mana-mana, ada yang minta doa agar bisnisnya lancar, ada yang untuk kepentingan sekolah anaknya, bahkan ada juga lo pejabat yang minta dido’akan agar karirnya sukses,”. Aku langsung menyahut,”Sampean kok tahu betul tamu-tamu Yai Yatiman?”, bagaimanapun aku juga harus memanggilnya Yai. “Loh, banyak tamu yang mampir ke sini mas, mereka suka bercerita, malah kadang ada yang datang ke sini dulu, sambil nanya-nanya tentang Yai Yatiman,”.
Tak berapa lama, datang seseorang, penampilannya gagah, seperti seorang tentara. “Bu, saya minta kopinya,” pintanya kepada Si Mbok tadi,”wah susah juga ya ketemu sama Yai Yatiman”, tiba-tiba dia mengeluh,”saya mengantar Bapak saja harus menunggu 2 jam lebih baru bisa diterima. Padahal, Bapak itu pejabat penting di pemerintahan,” dia masih melanjutkan, “heran juga, Bapak kok ya begitu fanatiknya sama Yai Yatiman,” langsung saja Si Mbok menjawab, “loh sampean belum tahu to mas, Yai Yatiman itu ampuh, banyak orang yang datang berhasil, kabul kajatnya, dan Yai Yatiman sendiri sudah tidak begitu membutuhkan uang, dia sendiri juga sudah kaya kok,” timpal Si Mbok sambil menaruh kopi di hadapan pemuda tadi.
Seorang Bapak yang sudah duduk lama di seberang meja menimpali, “bener itu Mbok, saya sendiri pernah, mau memberi uang kepada Yai Yatiman, dia menolak halus. Yai, menyuruhku memasukkan ke kotak amal buat pembangunan masjid”, timpalnya”. Si Mbok menyahuti, “ah itu sih iya, malah saya sering kecipratan uang-uang itu, tidak banyak, tapi lumayan buat jajan anak-anak”. Dari pembicaraan mereka semakin yakin, kalau memang ilmu kang Yatiman benar-benar bermanfaat bagi tamunya dan tetangganya.
****-----
Tiga bulan berikutnya aku memang sengaja berkunjung ke Kang Yatiman. Selama ini hanya kudengar beritanya dari orang-orang lain. Sengaja aku ke sana untuk melihat dan mendengar langsung darinya. Namun, sebenarnya ada kabar yang akan aku sampaikan kepadanya, tentang Kyai Yahya. “Kang, bagaimana kabarmu?,” demikian aku memulai pembicaraan dengannya di ruang tamu. “Alhamdulillah kang, kamu lihat sendiri, aku sudah demikian. Semua itu adalah jasa para kyai, guru-guru yang selama ini aku sowani. Tidak sia-sia mereka memberikan ilmu kepadaku,” demikian ia ungkapkan kisahnya dengan sedikit membanggakan para gurunya. “Kabarmu sendiri bagaimana kang?,” dia tanya kepadaku, “yah, biasa to, dari dulu aku ya begini ini, Jadi orang biasa saja,” jawabku singkat.
“Kang Yatiman, sebenarnya kedatanganku ke sini membawa kabar,” aku memberanikan diri untuk menyampaikan, “kabar apa kang?” tanyanya, “sampean saya undang acara haul,” dia langsung bertanya,”haulnya kyai siapa, kang?”, jawabku, “Kyai Yahya, ini adalah yang pertama”, di saat kalimat ini didengar dia langsung terdiam, wajahnya pucat dan kaget luar biasa, ”loh kenapa kang?, bukankah selama ini sampean sering sowan kepada Kyai Yahya? Bukankah sampean menyatakan kalau mendapat manfaat luar biasa darinya? Bukankah sampean mengakui kalau Kyai Yahya sangat berjasa dalam bisnis sampean?”, aku tak sadar menerocos mengajukan pertanyaan tersebut.
“Kang Sakur,” dengan nada berat dan terdiam cukup lama, “aku sudah lama, tidak sowan kepada beliau sehingga tidak tahu kabar berita tentangnya, bahkan soal kewafatannya,” sambil tersedu dia mengaku, “Ya Allah, maafkanlah diriku, aku selama ini hanya mengejar ilmu, mengejar fadlilah dari do’a-do’a para kyai, sementara kyainya aku lupakan...”
“Kang Sakur, antarkan aku ke makamnya, sekarang juga”, desaknya padaku, “aku tahu, aku sudah salah, sudah lupa akan asal ilmuku, sekali lagi bantu aku untuk menemukan jalan asalku,” aku tak kuasa menolaknya, “Baiklah kang, mari”. Kami bergegas pergi meninggalkan rumah, sementara tamu-tamu yang sudah antre ditinggalkan semuanya, tanpa penjelasan apapun dari Kang Yatiman, hanya dia bilang, “ngapunten semuanya, terserah panjenengan mau ikut atau mau nunggu atau mau pergi, terserah, aku tak peduli”.
Temanku pernah bercerita, “Yai Yatiman itu hebat loh kang,” dia membuka kisahnya,”tidak sekedar bisa kasih do’a, tetapi dia sendiri sudah mampu membuktikan keampuhan do’anya. Dia kaya, anak istrinya juga baik. Pokoknya semuanya baik.” Tak perlu kuceritakan padanya bahwa sebenarnya kukenal Kang Yatiman. Bagi temanku tadi, Kang Yatiman adalah contoh sekaligus guru yang tepat, karena do’a-do’a yang diberikannya sudah terbukti dan semua muridnya sangat mengaguminya. “Saya tidak meragukan sedikitpun padanya,” masih lanjut temanku tadi, “banyak kyai, hanya bisa memberi amalan, sementara dia sendiri tidak bisa menunjukkan keampuhan do’anya. Saya sudah dikasih banyak do’a oleh kyai untuk bisnis, tetapi kyai sendiri tidak kaya, sedankan Yai Yatiman beda, dia sudah mencapai puncak pembuktian.” “Duh!,” batinku menyeru, “benarkah Kang Yatiman sudah menghasilkan murid-murid seperti ini, yang meremehkan para Kyai yang tidak kaya?”.
***---------
Sengaja aku mampir warung kopi yang tidak jauh dari rumah Kang Yatiman. Benar, banyak tamu yang datang ke rumahnya.”Biasanya kalau hari minggu lebih ramai mas,” ungkap si Mbok penjual kopi,”tamunya dari mana-mana, ada yang minta doa agar bisnisnya lancar, ada yang untuk kepentingan sekolah anaknya, bahkan ada juga lo pejabat yang minta dido’akan agar karirnya sukses,”. Aku langsung menyahut,”Sampean kok tahu betul tamu-tamu Yai Yatiman?”, bagaimanapun aku juga harus memanggilnya Yai. “Loh, banyak tamu yang mampir ke sini mas, mereka suka bercerita, malah kadang ada yang datang ke sini dulu, sambil nanya-nanya tentang Yai Yatiman,”.
Tak berapa lama, datang seseorang, penampilannya gagah, seperti seorang tentara. “Bu, saya minta kopinya,” pintanya kepada Si Mbok tadi,”wah susah juga ya ketemu sama Yai Yatiman”, tiba-tiba dia mengeluh,”saya mengantar Bapak saja harus menunggu 2 jam lebih baru bisa diterima. Padahal, Bapak itu pejabat penting di pemerintahan,” dia masih melanjutkan, “heran juga, Bapak kok ya begitu fanatiknya sama Yai Yatiman,” langsung saja Si Mbok menjawab, “loh sampean belum tahu to mas, Yai Yatiman itu ampuh, banyak orang yang datang berhasil, kabul kajatnya, dan Yai Yatiman sendiri sudah tidak begitu membutuhkan uang, dia sendiri juga sudah kaya kok,” timpal Si Mbok sambil menaruh kopi di hadapan pemuda tadi.
Seorang Bapak yang sudah duduk lama di seberang meja menimpali, “bener itu Mbok, saya sendiri pernah, mau memberi uang kepada Yai Yatiman, dia menolak halus. Yai, menyuruhku memasukkan ke kotak amal buat pembangunan masjid”, timpalnya”. Si Mbok menyahuti, “ah itu sih iya, malah saya sering kecipratan uang-uang itu, tidak banyak, tapi lumayan buat jajan anak-anak”. Dari pembicaraan mereka semakin yakin, kalau memang ilmu kang Yatiman benar-benar bermanfaat bagi tamunya dan tetangganya.
****-----
Tiga bulan berikutnya aku memang sengaja berkunjung ke Kang Yatiman. Selama ini hanya kudengar beritanya dari orang-orang lain. Sengaja aku ke sana untuk melihat dan mendengar langsung darinya. Namun, sebenarnya ada kabar yang akan aku sampaikan kepadanya, tentang Kyai Yahya. “Kang, bagaimana kabarmu?,” demikian aku memulai pembicaraan dengannya di ruang tamu. “Alhamdulillah kang, kamu lihat sendiri, aku sudah demikian. Semua itu adalah jasa para kyai, guru-guru yang selama ini aku sowani. Tidak sia-sia mereka memberikan ilmu kepadaku,” demikian ia ungkapkan kisahnya dengan sedikit membanggakan para gurunya. “Kabarmu sendiri bagaimana kang?,” dia tanya kepadaku, “yah, biasa to, dari dulu aku ya begini ini, Jadi orang biasa saja,” jawabku singkat.
“Kang Yatiman, sebenarnya kedatanganku ke sini membawa kabar,” aku memberanikan diri untuk menyampaikan, “kabar apa kang?” tanyanya, “sampean saya undang acara haul,” dia langsung bertanya,”haulnya kyai siapa, kang?”, jawabku, “Kyai Yahya, ini adalah yang pertama”, di saat kalimat ini didengar dia langsung terdiam, wajahnya pucat dan kaget luar biasa, ”loh kenapa kang?, bukankah selama ini sampean sering sowan kepada Kyai Yahya? Bukankah sampean menyatakan kalau mendapat manfaat luar biasa darinya? Bukankah sampean mengakui kalau Kyai Yahya sangat berjasa dalam bisnis sampean?”, aku tak sadar menerocos mengajukan pertanyaan tersebut.
“Kang Sakur,” dengan nada berat dan terdiam cukup lama, “aku sudah lama, tidak sowan kepada beliau sehingga tidak tahu kabar berita tentangnya, bahkan soal kewafatannya,” sambil tersedu dia mengaku, “Ya Allah, maafkanlah diriku, aku selama ini hanya mengejar ilmu, mengejar fadlilah dari do’a-do’a para kyai, sementara kyainya aku lupakan...”
“Kang Sakur, antarkan aku ke makamnya, sekarang juga”, desaknya padaku, “aku tahu, aku sudah salah, sudah lupa akan asal ilmuku, sekali lagi bantu aku untuk menemukan jalan asalku,” aku tak kuasa menolaknya, “Baiklah kang, mari”. Kami bergegas pergi meninggalkan rumah, sementara tamu-tamu yang sudah antre ditinggalkan semuanya, tanpa penjelasan apapun dari Kang Yatiman, hanya dia bilang, “ngapunten semuanya, terserah panjenengan mau ikut atau mau nunggu atau mau pergi, terserah, aku tak peduli”.
Kang Yatiman
Kebiasaannya sowan kepada kyai kira-kira sudah lebih dari dua tahun. Kulihat Kang Yatiman sekarang berbeda dengan dulu. Sekarang, sebentar-bentar sowan ke kyai. Apakah ada masalah atau tidak. “Loh, kang kok sowan ke Kyai Ismail?”. Dia menjawab, “Ah hanya ngalap barokah kok kang”. Dulu dia bercerita kepadaku, bahwa kebiasaannya sowan kepada kyai telah banyak merubah hidupnya. Usaha jualan kambingnya makin maju. Ditambah lagi, istrinya yang buka warung juga banyak pelanggannya. Anak-anak mereka rajin mengaji, shalatnya rutin dan berbagai macam kebaikan-kebaikan yang diperolehnya.
Aku pernah bertanya, apa saja yang diberikan oleh kyai-kyai itu kepadanya. “Yah, waktu aku jualan kambing dulu itu sulit laku. Aku sowan ke Kyai Yahya, dia memberikan wirid, membaca alam nasyroh sebanyak 12 kali setiap hari, kamu tahu kang? Setelah dua minggu aku lakukan, kok yang biasanya sulit membeli kambingku, malah datang ke rumah.” Itu adalah salah satu contoh manfaat yang dia ceritakan kepadaku, dari hasil kebiasaannya sowan kepada kyai.
Katanya juga, waktu anak perempuannya sakit panas, dia sowan ke Kyai Suleman, diberi air untuk diminumkan anaknya. Tak lama, sembuh. Pokoknya bagi Kang Yatiman, banyak manfaat hasil dari sowan kepada kyai. Itu termasuk kemajuan warung istrinya yang sekarang. Kemudahan hidup dan kemakmuran begitu melimpah setelah Kang Yatiman rutin sowan kepada kyai-kyai. Memang, dia tidak pernah lupa bersedekah atau memberi amplop ala kadarnya kepada kyai-kyai tersebut.
Meski tidak ada masalah atau keperluan, Kang Yatiman tetap sowan kepada kyai. Waktunya bisa tiap dua hari atau bahkan tiap hari dalam seminggu. Rasanya tidak enak jauh dari kyai. Pernah dia, beberapa kali lupa sowan ke kyai karena harus mencari kambing ke daerah untuk dijual. Yang terjadi adalah dia begitu sulit mendapatkan kambing. Akhirnya dia teringat bahwa masalah tersebut diakibatkan karena dia lupa sowan kepada kyai. Harusnya dia mencari kyai di sekitar daerah yang dikunjungi, tapi dia benar-benar lupa. Para blantik menjadi jujugannya. Saat kejadian itu, warung istrinya juga ndilalah menjadi sepi pengunjung. Kemudian Kang Yatiman berkesimpulan bahwa sowan ke kyai adalah cara terbaik menjaga kestabilan hidup dan keluarganya. Termasuk kemakmurannya.
Lama sekali, aku tidak berjumpa dengannya, ya kira-kira selama dia menekuni kebiasaannya itu. Maklum, aku bukan kyai atau kalangan santri yang bisa diharapkan berkahnya. Aku pikir, hanya diriku yang mendapat perlakuan seperti itu. Rupanya teman-teman yang dulu sering jagongan dengannya juga lama tidak dikunjungi. Persis sama denganku. Beberapa waktu lalu, pernah kutanyakan kepada Kang Yatiman, “Kang, apa kamu sudah lupa sama aku? Sama teman-teman dulu yang sering jagongan, sering mendengar keluh kesahmu?”. Dengan agak berat dia menjawab, “Kang Sakur, bukan begitu. Aku hanya ingin menjaga hatiku, keimananku. Kedekatanku kepada kyai-kyai selama ini telah menyelamatkan kehidupanku. Dulu banyak dosa yang bisa kulakukan tiap hari. Sekarang, itu sudah jauh bisa kutinggalkan, karena ada kyai-kyai yang selama ini menasehatiku, mengingatkanku. Dan jangan lupa kang, kehidupanku jelas berubah lebih baik,” jawaban yang kedengarannya memukul batin persahabatanku. Namun aku tetap berusaha tenang untuk mendengarnya sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok. Dia masih melanjutkan jawabannya, “Maaf lho kang Sakur, bukan kemudian aku menilai sampeyan itu tidak baik, menyebabkan aku jadi orang tidak baik, bukan, bukan seperti itu. Menurut pengalamanku, setelah aku sowan ke kyai-kyai dan dekat dengan mereka, aku jadi lebih tentram, lebih makmur kehidupanku dan anak-anakku, jadi lebih giat beribadah”.
Tiba-tiba kami dengar suara salam, “Assalamu ‘alaikum...”, kuberanjak dari kursi dan menyambutnya, “wa alaikum salam.....oh....sampean to kang, monggo-monggo”. Kang Yatiman yang semula duduk di kursi, sontak berdiri dan menyalami tamu yang baru kupersilakan masuk, “Assalamu ‘alaikum kyai...... kok kyai sudah kenal sama Kang Sakur?”.
“Loh, gak kenal gimana to Man? Wong dia itu temanku ngaji dulu”, jawab Kyai Yahya yang membuat Kang Yatiman kaget dan wajahnya penuh selidik. Aku hanya diam dan tersenyum. “Kamu sendiri, di sini lah opo Man?”, “Ya, main-main saja kyai”, jawab segera Kang Yatiman. “Lha yo eman to Man, wong sama Kang Sakur kok mung dolan?”, kulihat wajah Kang Yatiman semakin penuh selidik.
“Sudah-sudah, monggo Kang Yahya, pinarak,” sergahku memotong pembicaraan keduanya. Setelah duduk, mereka kutinggalkan. Ke belakang aku membuat kopi kesukaan Kang Yahya. Namun, kudengar juga Kang Ilyas dengan nada agak keras, “Man, weruho yo, Kang Sakur itu dulu yang ngasih wirid alam nasyroh itu. Dulu waktu Kyai Dasuki sebelum sedo, sebelum sedo beliau mewasiatkan wirid itu kepada Kang Sakur, meski aku ada disebelahnya. Namun, Kang Sakur memohon kepada Kyai Dasuki agar aku juga ikut diijazahi. Atas permintaannya itu, akhirnya dapat ijazahnya. Jadi secara tidak langsung sebenarnya Kang Sakur itu yang memberi wirid itu kepadaku, dan pantas jadi guruku,”.
“Ah, ndak usah buka-buka rahasia to kang...”, aku segera memutus kata-kata Kang Yahya, “yo tetep sampean mendapat ijazah itu, mosok yang ada dua orang kok hanya aku yang dikasih kan ya tidak elok. Maka saya minta sampean juga diberi ijazah”. Sambil menaruh kopi itu di hadapan Kang Yahya, dia memotong omonganku, “Ah ya ndak gitu kang, wong dari dulu Kyai Dasuki itu pengennya sampean jadi penerusnya. Sampean saja yang ndak mau jadi kyai. Maunya jadi petani saja”. Seketika itu berubah wajah Kang Yatiman, dan dalam pembicaraan berikutnya dia menggunakan bahasa halus kepadaku. Agar suasana tetap cair, aku katakan kepada Kang Yatiman, “sudah dak usah sungkan Kang, kyai atau bukan itu kan hanya sebutan to, yang penting kan ilmu dan amalnya to?”.
Sejak kejadian itu, Kang Yatiman berbeda perlakuannya kepadaku. Bahkan setiap mau sowan kepada Kyai Yahya dia selalu menanyakan dulu hal-hal yang nanti akan ditanyakan kepada Kyai Yahya.
Aku pernah bertanya, apa saja yang diberikan oleh kyai-kyai itu kepadanya. “Yah, waktu aku jualan kambing dulu itu sulit laku. Aku sowan ke Kyai Yahya, dia memberikan wirid, membaca alam nasyroh sebanyak 12 kali setiap hari, kamu tahu kang? Setelah dua minggu aku lakukan, kok yang biasanya sulit membeli kambingku, malah datang ke rumah.” Itu adalah salah satu contoh manfaat yang dia ceritakan kepadaku, dari hasil kebiasaannya sowan kepada kyai.
Katanya juga, waktu anak perempuannya sakit panas, dia sowan ke Kyai Suleman, diberi air untuk diminumkan anaknya. Tak lama, sembuh. Pokoknya bagi Kang Yatiman, banyak manfaat hasil dari sowan kepada kyai. Itu termasuk kemajuan warung istrinya yang sekarang. Kemudahan hidup dan kemakmuran begitu melimpah setelah Kang Yatiman rutin sowan kepada kyai-kyai. Memang, dia tidak pernah lupa bersedekah atau memberi amplop ala kadarnya kepada kyai-kyai tersebut.
Meski tidak ada masalah atau keperluan, Kang Yatiman tetap sowan kepada kyai. Waktunya bisa tiap dua hari atau bahkan tiap hari dalam seminggu. Rasanya tidak enak jauh dari kyai. Pernah dia, beberapa kali lupa sowan ke kyai karena harus mencari kambing ke daerah untuk dijual. Yang terjadi adalah dia begitu sulit mendapatkan kambing. Akhirnya dia teringat bahwa masalah tersebut diakibatkan karena dia lupa sowan kepada kyai. Harusnya dia mencari kyai di sekitar daerah yang dikunjungi, tapi dia benar-benar lupa. Para blantik menjadi jujugannya. Saat kejadian itu, warung istrinya juga ndilalah menjadi sepi pengunjung. Kemudian Kang Yatiman berkesimpulan bahwa sowan ke kyai adalah cara terbaik menjaga kestabilan hidup dan keluarganya. Termasuk kemakmurannya.
Lama sekali, aku tidak berjumpa dengannya, ya kira-kira selama dia menekuni kebiasaannya itu. Maklum, aku bukan kyai atau kalangan santri yang bisa diharapkan berkahnya. Aku pikir, hanya diriku yang mendapat perlakuan seperti itu. Rupanya teman-teman yang dulu sering jagongan dengannya juga lama tidak dikunjungi. Persis sama denganku. Beberapa waktu lalu, pernah kutanyakan kepada Kang Yatiman, “Kang, apa kamu sudah lupa sama aku? Sama teman-teman dulu yang sering jagongan, sering mendengar keluh kesahmu?”. Dengan agak berat dia menjawab, “Kang Sakur, bukan begitu. Aku hanya ingin menjaga hatiku, keimananku. Kedekatanku kepada kyai-kyai selama ini telah menyelamatkan kehidupanku. Dulu banyak dosa yang bisa kulakukan tiap hari. Sekarang, itu sudah jauh bisa kutinggalkan, karena ada kyai-kyai yang selama ini menasehatiku, mengingatkanku. Dan jangan lupa kang, kehidupanku jelas berubah lebih baik,” jawaban yang kedengarannya memukul batin persahabatanku. Namun aku tetap berusaha tenang untuk mendengarnya sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok. Dia masih melanjutkan jawabannya, “Maaf lho kang Sakur, bukan kemudian aku menilai sampeyan itu tidak baik, menyebabkan aku jadi orang tidak baik, bukan, bukan seperti itu. Menurut pengalamanku, setelah aku sowan ke kyai-kyai dan dekat dengan mereka, aku jadi lebih tentram, lebih makmur kehidupanku dan anak-anakku, jadi lebih giat beribadah”.
Tiba-tiba kami dengar suara salam, “Assalamu ‘alaikum...”, kuberanjak dari kursi dan menyambutnya, “wa alaikum salam.....oh....sampean to kang, monggo-monggo”. Kang Yatiman yang semula duduk di kursi, sontak berdiri dan menyalami tamu yang baru kupersilakan masuk, “Assalamu ‘alaikum kyai...... kok kyai sudah kenal sama Kang Sakur?”.
“Loh, gak kenal gimana to Man? Wong dia itu temanku ngaji dulu”, jawab Kyai Yahya yang membuat Kang Yatiman kaget dan wajahnya penuh selidik. Aku hanya diam dan tersenyum. “Kamu sendiri, di sini lah opo Man?”, “Ya, main-main saja kyai”, jawab segera Kang Yatiman. “Lha yo eman to Man, wong sama Kang Sakur kok mung dolan?”, kulihat wajah Kang Yatiman semakin penuh selidik.
“Sudah-sudah, monggo Kang Yahya, pinarak,” sergahku memotong pembicaraan keduanya. Setelah duduk, mereka kutinggalkan. Ke belakang aku membuat kopi kesukaan Kang Yahya. Namun, kudengar juga Kang Ilyas dengan nada agak keras, “Man, weruho yo, Kang Sakur itu dulu yang ngasih wirid alam nasyroh itu. Dulu waktu Kyai Dasuki sebelum sedo, sebelum sedo beliau mewasiatkan wirid itu kepada Kang Sakur, meski aku ada disebelahnya. Namun, Kang Sakur memohon kepada Kyai Dasuki agar aku juga ikut diijazahi. Atas permintaannya itu, akhirnya dapat ijazahnya. Jadi secara tidak langsung sebenarnya Kang Sakur itu yang memberi wirid itu kepadaku, dan pantas jadi guruku,”.
“Ah, ndak usah buka-buka rahasia to kang...”, aku segera memutus kata-kata Kang Yahya, “yo tetep sampean mendapat ijazah itu, mosok yang ada dua orang kok hanya aku yang dikasih kan ya tidak elok. Maka saya minta sampean juga diberi ijazah”. Sambil menaruh kopi itu di hadapan Kang Yahya, dia memotong omonganku, “Ah ya ndak gitu kang, wong dari dulu Kyai Dasuki itu pengennya sampean jadi penerusnya. Sampean saja yang ndak mau jadi kyai. Maunya jadi petani saja”. Seketika itu berubah wajah Kang Yatiman, dan dalam pembicaraan berikutnya dia menggunakan bahasa halus kepadaku. Agar suasana tetap cair, aku katakan kepada Kang Yatiman, “sudah dak usah sungkan Kang, kyai atau bukan itu kan hanya sebutan to, yang penting kan ilmu dan amalnya to?”.
Sejak kejadian itu, Kang Yatiman berbeda perlakuannya kepadaku. Bahkan setiap mau sowan kepada Kyai Yahya dia selalu menanyakan dulu hal-hal yang nanti akan ditanyakan kepada Kyai Yahya.
Langganan:
Postingan (Atom)